Oleh : Fauzan Azima*
Sejak kecil kita diajari mengenal habitat hewan. Ikan setia di air, kambing setia di rumput, dan buaya konon paling setia juga di air. Begitu naik ke darat, kesetiaannya menguap seperti jemuran kehujanan diterpa angin.
Istilah buaya darat lahir dari pengalaman panjang para korban rayuan. Di air ia tampak tenang dan berwibawa, tetapi di darat ia berubah menjadi penyair dadakan. Janji ditebar seperti brosur diskon akhir tahun.
Buaya darat memiliki bakat membuat selokan terasa samudra asmara. Ia bersumpah setia dengan wajah serius, seolah kontrak sudah diteken malaikat. Padahal setelah itu, ia pindah kolam tanpa pamit dan mengganti narasi.
Yang paling memukau tentu air mata buaya. Tetesnya jatuh presisi saat penonton mulai ragu. Tangis itu terdengar lirih dan penuh penyesalan, padahal sering hanya teknik bertahan agar reputasi tetap berenang tenang.
Di air, buaya memang konsisten dan tahu medan. Namun di darat, karakternya elastis mengikuti peluang. Maka jika ada buaya mengaku setia sambil menangis, periksa dulu habitatnya, jangan-jangan Anda hanya penonton episode berikutnya.
(Mendale, Pebruari 15, 2026)





