IDI RAYEUK-LintasGAYO.co : Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malek Mahmud Al-Haytar, menyerukan agar masyarakat Aceh menghilangkan kebencian dari dalam dada dan terus menjaga kehormatan sebagai bangsa yang beradat dan bermartabat.
Pesan tersebut disampaikan dalam peringatan ke-27 Tragedi Idi Cut–Arakundo yang digelar di Lapangan Sepak Bola Darul Aman, Sabtu, 14 Februari 2026.
Pesan tertulis Wali Nanggroe dibacakan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR Aceh, Tengku Rusydi Mukhtar, di hadapan keluarga korban, tokoh masyarakat, ulama, pemuda, serta unsur pemerintahan yang hadir mengenang peristiwa kelam 3 Februari 1999 tersebut.
Dalam sambutannya, Wali Nanggroe menegaskan bahwa masa lalu yang pahit harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh rakyat Aceh. “Hilangkan kebencian dari dada orang Aceh. Kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi kehormatan dan nilai kemanusiaan,” demikian kutipan pesan yang dibacakan.
Ia mengingatkan bahwa manusia dilahirkan untuk menjaga keseimbangan, bukan hanya hubungan antarsesama, tetapi juga dengan alam semesta. Menurutnya, keseimbangan adalah kunci kedamaian yang hakiki. Ketika manusia merusak keseimbangan, baik melalui kekerasan maupun keserakahan, maka penderitaan akan menjadi akibat yang tak terhindarkan.
Wali Nanggroe juga menekankan pentingnya memanusiakan manusia. Setiap insan, katanya, memiliki martabat yang harus dihormati tanpa memandang latar belakang apa pun. “Dengan alasan apa pun, ke depan jangan ada lagi kekerasan di Aceh. Tanah ini telah terlalu banyak menanggung luka,” bunyi pesan tersebut.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga perdamaian yang telah terbangun, memperkuat persaudaraan, serta menanamkan nilai kasih sayang kepada generasi muda agar tragedi serupa tidak pernah terulang.
Peringatan 27 tahun Tragedi Idi Cut–Arakundo berlangsung khidmat, diawali doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. Momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat kolektif bahwa Aceh hanya dapat maju dengan persatuan, kemanusiaan, dan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan.
[Fa]





