Catatan Redaksi*
Di sebuah daerah yang baru saja bangkit dari bencana, para relawan bekerja siang malam tanpa banyak tanya. Mereka mengangkat puing, membagikan logistik, memeluk korban yang kehilangan rumah dan harapan.
Namun ketika badai berlalu dan panggung seremonial didirikan, undangan dari bupati datang seperti sinyal lemah di pegunungan. Ada yang menerima dengan amplop rapi, ada yang hanya menerima kabar dari status WhatsApp tetangga.
Sebagian relawan mendadak merasa seperti Jailangkung: dipanggil saat dibutuhkan, lalu disuruh pulang tanpa pamit. Datang tak dijemput secara hormat, pulang pun tanpa ucapan terima kasih yang setara.
Padahal ketika banjir menggenang dan jalan terputus, tak ada seleksi relawan. Semua turun tangan, dari yang bersepatu bot hingga bersandal jepit. Mereka tak bertanya siapa diundang, siapa difoto, siapa disebut dalam pidato apalagi di SK-Kan.
Seorang relawan berseloroh, mungkin undangan itu disusun berdasarkan tingkat kemunculan di kamera. Yang sering tersorot cahaya lampu masuk daftar utama, yang lebih banyak berkeringat di dapur umum tertinggal di luar pagar.
Ironisnya, di lokasi bencana tak ada relawan kelas satu atau kelas dua. Yang ada hanya manusia membantu manusia. Tetapi di ruang pendingin acara resmi, rupanya solidaritas bisa berubah menjadi daftar tamu terbatas.
Relawan yang tak diundang akhirnya tertawa getir. Mereka sadar, kerja kemanusiaan memang bukan soal panggung. Namun ketika penghargaan dibagi tak merata, yang terasa bukan sekadar lupa, melainkan seperti dipanggil hanya saat genting.
Mungkin suatu hari, para pemegang kuasa akan mengerti: relawan bukan Jailangkung. Mereka bukan makhluk yang muncul karena mantra kekuasaan. Mereka hadir karena nurani, dan nurani tak pernah butuh undangan resmi. []





