oleh Radensyah*
“Serahkan suatu urusan kepada ahlinya” . Ini sering kita dengar dalam ajaran Islam. Tentu, kalimat tersebut berdasar, tujuannya benar dan baik, yakni agar urusan terlaksana, terselesaikan dengan optimal ditangan ahlinya. Misal, kerusakan pada sepeda motor, maka kepada teknisi mesin lah kita menyerahkannya atau bengkel. Urusan membuat celana, desainnya bagaimana, nah ini harus ke bidang pakaian dan penjahitan. Jika teknisi mesin dipaksakan untuk membuat baju jas misalkan, maka jahitan tidak akan rapi, senjang atau potongan kain banyak yang terbuang. Baju jas pun tidak sesuai selera pemakai. Munyang orang gayo dulu menyebut hal ini dengan “ike rues keta ku ines, ike tungku keta ku pelu”.
Namun ternyata, disamping “menyerahkan urusan”, orang yang ahli dibidang tertentu juga harus “dihargai”, sebab karena keberadaan merekalah kita dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Banyak kekurangan yang kita miliki, orang lainlah yang menutupi kekurangan itu. Hal ini semakin diperjelas oleh eksistensi manusia itu sendiri yakni makhluk sosial.
Dari sudut Sosiologi, Manusia itu selalu memerlukan kerjasama. Kita tidak perlu beranalogi jauh-jauh. Lihat betapa tidak berdayanya masyarakat Gayo yang baru-baru ini mengalami musibah, jika tidak ada orang lain yang membantu, kita akan kesulitan bangkit untuk mempertahankan/memulihkan ekosistem kehidupan, baik secara individu maupun kelompok.
Manusia itu mutlak saling membutuhkan satu sama lain, ini tampak dalam segala aspek kehidupan. Contohnya seperti belajar, pasti pelajaran itu banyak bersumber dari orang lain, dengan mengamati atau sekedar berinteraksi saja, atau bahkan memang berguru. Dengan kata lain, belajar secara sendiri itu akan sulit terlaksana, namun jika melibatkan orang lain belajar itu akan mudah.
Setiap orang punya kelebihan khusus disamping banyak kekurangannya. Berbeda orang, beda pula kelebihannya, disinilah poin pentingnya, bahwa hanya dengan saling “menyadari” kekurangan masing-masing, kebutuhan dan cita-cita kita bersama akan mudah tercapai. Jika Ego, kesombongan dan gengsi dikedepankan, yang terjadi adalah sebaliknya. Jika kita tidak tahu, akui saja kita tidak tahu. Jika bingung, maka luruskan kebingungan itu kepada yang sudah mumpuni dan faham. Begitulah seharusnya.
Fokus dalam disiplin ilmu tertentu, menjadikan seseorang ahli dibidang ilmu tersebut. Ia Mempelajari secara terus-menerus, melakukan penelitian, studi dalam waktu lama menjadikan ia seorang Pakar. Jika berkaitan dengan negara, biasanya akan mendapatkan tanda dari negara, jika secara nonformal di masyarakat biasanya akan ditandai dengan perlakuan spesial.
Di jaman modern ini, banyak yang cenderung tidak menghargai pakar. Orang-orang ahli dibidang tertentu mulai tidak dianggap keberadaannya. Penyebabnya secara garis besar tentu ada dua. pertama; Pakar tersebut tidak dipercaya, kedua, banyak orang yang seolah-olah Pakar. Untuk kasus pertama akan kita tulis bila ada kesempatan penulis. Mari kita fokus ke yang kedua.
Manusia modern (dalam hal ini larut dalam kulit tanpa substansi) ternyata mulai menggeser hakikat kemanusiaan. Harga-menghargai sudah rendah sekali bahkan mulai tidak ada. Menghargai Pakar akhir-akhir ini menjadi suatu hal yang jarang kita temui, karena merasa diri sempurna, menganggap bisa menyelesaikan persoalan sendiri, tanpa melibatkan orang-orang ahli yang sudah berpengalaman dan berwawasan luas.
Agama islam menyuruh kita untuk bertanya kepada ahlinya, ketika kita sendiri tidak tau. Bahkan, jika sudah paham pun, anjuran musyawarah harus ditempuh. Kita sebagai manusia dhoif yang selalu membutuhkan pertolongan orang lain mulailah legowo dan rendah hati. Apa kita mampu beribadah dengan benar tanpa ahli fikih? Apa kita mampu membersihkan penyakit hati tanpa bantuan orang yang mendalami ilmu ruhani? Apa kita mampu mewujudkan impian bersama tanpa melibatkan Pakar?
Saat ini pengaruh perkembangan artificial intelligence (AI) semakin mengkhawatirkan, penggunaannya yang secara membabi buta merusak segalanya, termasuk mempercepat laju untuk memarkirkan para Pakar. Coba kita renungi, Tengku di kampung-kampung sepi dari penuntut ilmu, Ulama tidak lagi dimuliakan, Guru di sekolah-sekolah tidak diperlakukan sebagai guru, ahli adat, ahli dibidang hutan, ahli di bidang geografis, ahli di bidang rancang bangun dan desain, semua seperti tidak dianggap.
Kita ini bukan pakar, ngaji kita sambil berlari, ilmu kita comot-comot dari orang lain, sanad ilmu kita “kene-mukene” yakni “Ilmu gere mudarus”. Kita ini Dhaif. Diri kita ini banyak kurangnya, orang lainlah yang membuat kita menjadi lebih baik. Seorang pakar, menghabiskan waktu bertahun-tahun, tenaga, pikiran dan materi untuk mendalami kepakarannya. Kita hanya melihat sekilas, membaca selembar, menyaksikan di luar panggung. Mari hancurkan keakuan diri, dengan menghormati orang-orang ahli dibidangnya.
Wallahu A’lam Bisshawab. []
*Radensyah (Wen Simahgoda)
saat ini fokus meneliti dunia pendidikan
tinggal di desa Merah Mege, Atu Lintang, Aceh Tengah





