Aceh Tenggara, Lintasgayo.co – Anggota MPR RI dari daerah pemilihan Aceh, Muslim Ayub, SH, MM, menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kabupaten Aceh Tenggara, Selasa pagi, (03/2/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Pendidikan ini mengangkat tajuk “Nilai Kebangsaan dalam Menghadapi Bencana Hidrometeorologi di Aceh”.
Dalam pemaparannya, Muslim Ayub menyampaikan bahwa Empat Pilar—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—bukan sekadar hafalan, melainkan harus menjadi pedoman kolektif dalam merespons berbagai situasi darurat, termasuk bencana alam yang kerap melanda Aceh.
“Aceh memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi tsunami, gempa, dan banjir. Dari semua peristiwa itu, yang menyelamatkan kita bukan hanya logistik atau infrastruktur, melainkan semangat gotong royong dan rasa senasib sepenanggungan. Itulah nilai kebangsaan yang nyata,” ujar Muslim Ayub di hadapan sekitar 150 peserta yang terdiri atas tokoh masyarakat, perangkat desa, pemuda, dan relawan kebencanaan.
Muslim Ayub mengaitkan situasi kebencanaan dengan implementasi sila kemanusiaan dan persatuan Indonesia. Menurutnya, respons terhadap bencana kerap menjadi cermin sejauh mana nilai-nilai Pancasila dihayati dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang bergerak bersama menolong korban, ketika bantuan datang tanpa melihat agama atau partai, saat itulah Pancasila benar-benar bekerja. Ini bukan soal teori, tapi praktik sosial yang harus terus dipupuk,” katanya.
Lebih jauh, politisi asal Aceh itu menyoroti perlunya pendekatan kebencanaan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif dan berkeadilan. Ia menyebut kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali telah memperparah risiko bencana di banyak wilayah, termasuk di kawasan Aceh Tenggara.
“Empat Pilar mengajarkan kita untuk menjaga tanah air sebagai rumah bersama. Maka menjaga hutan, menjaga sungai, menolak tambang ilegal, itu juga bagian dari bela negara. Jangan sampai kita baru sibuk setelah bencana terjadi, sementara penyebabnya dibiarkan terus,” tegasnya.
Di akhir sesi, Muslim Ayub mengajak masyarakat Aceh Tenggara untuk terus merawat solidaritas lintas suku dan agama yang selama ini menjadi kekuatan sosial di daerah tersebut. Ia menilai modal sosial itu jauh lebih berharga daripada sekadar angka-angka bantuan.
“Aceh Tenggara adalah potret kecil Indonesia yang rukun dan teduh. Jangan biarkan bencana atau kepentingan sesaat merusaknya. Mari jadikan semangat Empat Pilar sebagai pengingat bahwa kita satu keluarga, satu bangsa, dan satu masa depan,” pungkasnya.






