Oleh : Husaini Algayoni*
“Äda tiga jenis relawan. Relawan sejati, relawan pemerintah dan relawan politik. Relawan adalah siap berkorban demi kepentingan orang lain dan mengutamakan keselamatan orang banyak tanpa ada uang lelah.”
Bencana alam terjadi tenaga relawan sangat dibutuhkan. Dari itu, pekerjaan yang tidak bisa digantikan dengan mesin atau robot adalah tenaga relawan. Panggilan kemanusiaan tak mengenal suku dan bangsa, ia hadir dengan rasa sadar dan nilai-nilai fitrah kemanusiaan.
Keberadaan tekhnologi menyebabkan segala aktivitas banyak diperankan oleh robot, ketika bencana alam terjadi tenaga relawan pun sangat dibutuhkan, demikian kata Tere Liye dalam novelnya Hujan.
Relawan mereka yang siap berkorban demi kepentingan orang lain dan siap mengutamakan keselamatan orang banyak. Kata relawan sendiri dalam KBBI artinya orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela tidak dengan kewajiban atau paksaan.
Dalam pandangan Islam relawan merupakan wujud nyata sebagai makhluk sosial. Dari itu tolong menolong dalam Islam adalah hal yang sangat dianjurkan dan berbuat kebaikan antar sesama.
“Dan tolong menolonglah kamu dalam (perbuatan) kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” QS al-Maidah: 2.
Tolong menolong dalam kehidupan sosial suatu tindakan yang baik dan mencerminkan sifat kemanusiaan yang memanusiakan manusia.
Dalam bahasa Gayo disebut dengan alang tulung berat berbantu dengan bersama-sama membantu maka yang berat menjadi ringan. Manusia tidak bisa lepas dari kehidupan sosial yang mengedepankan saling tolong menolong.
Bencana di bulan November menjadi bencana tangisan yang amat dahsyat bagi masyarakat, jalan putus dan kekurangan logistik. Para relawan pun hadir membantu dan terjung langsung ke lapangan yang terdampak bencana.
Di sini penulis membagi relawan kepada tiga jenis yaitu relawan sejati, relawan pemerintah dan relawan politik. Relawan sejati datang dengan kesadaran yang luas untuk membantu, di sini relawan sejati bisa datang dari orang-orang yang mempunyai pengaruh atau ketokohan seperti Ferri Irwandi, Ust. Salim A Fillah, dan lain-lain.
Relawan yang datang dari hartawan. Allah memberikan kelebihan kepada seseorang dengan harta yang dimilikinya dan ia memberikan donasi kepada korban bencana. Hartawan memang tidak turun ke lapangan tapi dengan harta yang didonasikan ia telah membantu orang banyak.
Relawan hartawan masih ada yang tergerak hatinya, ada juga hartawan yang sama sekali cuek dan tidak mau membantu oran lain yang sedang kesusahan!
Relawan selanjutnya adalah relawan yang mengandalkan tenaga untuk kepentingan dan keselamatan orang lain, relawan seperti ini banyak tapi ia senyap dalam ruang sunyi seperti mereka yang membuka akses jalan yang putus untuk bisa dilalui dengan jalan kaki atau roda dua, membantu mobil dan kereta macet di jalan berlumpur atau membawa bantuan di atas pundak seperti mahasiswa dan organisasi lainnya.
Menurut penulis ketiga relawan di atas merupakan relawan sejati yang mementingkan orang lain dan keselamatan orang banyak, tidak ada paksaan dan sukarela dengan senang hati membantu orang lain.
Jenis relawan kedua adalah relawan pemerintah, Relawan pemerintah mau tidak mau harus dikerjakan, suka tidak suka harus dilaksanakan, yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki ke lumpur harus turun ke jalan berlumpur jika tidak? Siap-siap gaji bulanan tidak akan cair atau mendapatkan sanksi dari atasan.
Selanjutnya adalah relawan politik. Nah, harus diakui dan penulis mengapresiasi bagi partai politik yang menggerakkan mesin partai dalam rangka membantu korban bencana. Kader-kader militan dan tokoh-tokoh politik terjun langsung ke masyarakat dengan harapan membawa senyuman dan bantuan kepada masyarakat.
Relawan sejati, relawan pemerintah dan relawan politik yang telah bekerja dengan ikhlas, membantu orang lain dan mengutamakan keselamatan orang banyak tanpa ada pamrih dan uang lelah, yang ada hanya tetesan keringat semangat untuk memulihkan keadaan.
Semoga kebaikan para relawan dibalas oleh Allah. “dan berbuat baiklah, sesunghnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” QS al-Baqarah: 195.
Tidak ada sia-sia dalam berbuat kebaikan. Selama perbuatan itu berangkat dari keikhlasan dan ketulusan. Ike kaya harta gere musampe, ike kaya ate bewenne ara, kalau tidak bisa membantuk dengan harta, maka bantu dengan kebaikan dan tenaga! []





