Catatan Mahbub Fauzie (Masyarakat Aceh Tengah)
Hujan deras yang mengguyur dataran tinggi Gayo, Rabu 12 November 2025, kembali menyisakan pemandangan yang tidak asing bagi warga Takengon. Jalan dua jalur di kawasan Saril, Kecamatan Bebesen, berubah menjadi kolam besar yang menghambat arus lalu lintas.
Air setinggi lutut orang dewasa menggenangi badan jalan, memaksa pengendara melambat bahkan berhenti karena tak mampu menerobos genangan. Pemandangan ini bukan kali pertama terjadi.
Di beberapa titik lain seperti Mongal, Pinangan, Blang Kolak Dua, hingga Simpang Kelaping, situasi serupa juga kerap berulang setiap musim hujan tiba.
Fenomena ini jelas menggambarkan bahwa persoalan drainase di Takengon belum tertangani secara sistematis dan berkelanjutan.
Drainase, yang seharusnya menjadi urat nadi pengendali air permukaan, kini justru menjadi sumber masalah karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Air hujan yang seharusnya mengalir ke saluran pembuangan, justru tergenang di badan jalan, memperlihatkan lemahnya perencanaan, pelaksanaan, sekaligus pengawasan terhadap infrastruktur kota.
Pentingnya Evaluasi Tata Ruang Kota
Kejadian di Saril hendaknya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan sistem drainase Kota Takengon.
Pemerintah daerah bersama instansi teknis seperti Dinas PUPR perlu turun langsung ke lapangan, meninjau titik-titik rawan genangan, dan mengidentifikasi penyebab utamanya.
Apakah karena saluran air tersumbat sampah, kapasitas drainase yang terlalu kecil, atau karena pembangunan permukiman dan jalan yang tidak memperhatikan jalur resapan air?
Evaluasi tata ruang kota sangat penting karena pembangunan yang tidak terencana dapat berdampak serius terhadap keseimbangan lingkungan.
Banyak wilayah di Takengon kini dipenuhi area perumahan, pertokoan, dan lahan yang dicor habis tanpa mempertimbangkan daya serap tanah.
Air hujan akhirnya kehilangan tempat untuk meresap dan memilih jalannya sendiri—menggenangi jalan, pekarangan, bahkan rumah warga.
Tata kota seharusnya berorientasi pada keberlanjutan. Dalam konteks Takengon yang berada di dataran tinggi dengan curah hujan tinggi, konsep eco-drainage sangat relevan untuk diterapkan.
Sistem ini tidak hanya berfokus pada pembuangan air secepatnya, tetapi juga pada pengelolaan air secara bijak—menyerap, menampung, dan mengalirkannya secara alami tanpa merusak lingkungan.
Tanggung Jawab Pemerintah dan Dinas Terkait
Pemerintah daerah tentu memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan infrastruktur publik bekerja dengan baik. Drainase adalah salah satu indikator utama kota yang sehat dan berfungsi. Bila genangan air masih menjadi pemandangan rutin, maka ada yang keliru dalam perencanaan dan pemeliharaan.
Dinas terkait perlu bergerak cepat melakukan pembersihan saluran, memperbaiki titik-titik tersumbat, serta menambah kapasitas saluran air di wilayah yang sering tergenang. Tidak kalah penting, perlu ada sinergi lintas sektor: Dinas Lingkungan Hidup, PUPR, dan pihak kecamatan harus bekerja sama dalam pengawasan serta edukasi masyarakat.
Di sisi lain, pembangunan fisik yang dilakukan hendaknya selalu disertai dengan kajian amdal (analisis mengenai dampak lingkungan). Pembangunan jalan dua jalur, perumahan, atau kompleks pertokoan tidak boleh hanya mengejar estetika dan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan aspek ekologi dan daya dukung lahan.
Kesadaran Masyarakat: Kunci Pencegahan Banjir Kota
Namun, tidak adil bila semua beban kesalahan diarahkan hanya kepada pemerintah. Masyarakat pun memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Banyak genangan terjadi bukan semata karena drainase kecil, melainkan karena tersumbat oleh sampah plastik, botol, dan sisa material bangunan yang dibuang sembarangan.
Kebiasaan menutup selokan dengan cor beton tanpa menyisakan lubang pembuangan juga memperparah keadaan. Air hujan yang tidak memiliki jalur mengalir akan meluap ke jalan.
Oleh karena itu, masyarakat harus memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan saluran air di lingkungannya masing-masing.
Budaya gotong royong membersihkan parit perlu dihidupkan kembali. Ini bukan semata urusan pemerintah atau dinas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama sebagai warga yang ingin menikmati kota yang nyaman.
Dalam ajaran Islam, kebersihan adalah sebagian dari iman. Maka, menjaga lingkungan dari sampah dan luapan air sejatinya adalah bagian dari ibadah sosial.
Menatap ke Depan: Takengon yang Tertib dan Tangguh
Takengon dikenal sebagai kota sejuk dengan panorama alam yang menawan. Namun keindahan itu akan kehilangan pesonanya bila kota ini terus didera persoalan klasik seperti genangan air dan banjir kecil setiap hujan turun.
Sudah saatnya pemerintah daerah berfokus pada pembangunan yang tidak hanya indah di permukaan, tetapi juga kokoh dalam fungsi.
Konsep green city dan smart city bisa menjadi arah pembangunan masa depan. Sistem drainase yang modern dapat diintegrasikan dengan teknologi pemantauan digital, sehingga setiap titik rawan banjir dapat diantisipasi lebih awal.
Demikian pula, pembangunan ruang terbuka hijau harus diperbanyak agar daya serap air meningkat.
Pemerintah, dinas teknis, dan masyarakat harus duduk satu meja, menyusun langkah nyata agar kejadian seperti di Saril tidak lagi berulang. Drainase yang bersih, tata ruang yang terencana, dan warga yang sadar lingkungan akan menjadi pondasi bagi Takengon yang tertib, tangguh, dan layak huni.
Serius dan Peduli
Hujan deras sejatinya adalah rahmat, bukan musibah. Namun bila kita abai terhadap tata ruang dan kebersihan lingkungan, rahmat itu bisa berubah menjadi peringatan. Genangan air di jalan Saril adalah cermin yang memantulkan wajah kota kita sendiri—apakah sudah tertata, atau masih semrawut. Saatnya kita bercermin dan berbenah.
Takengon tidak kekurangan sumber daya manusia dan alam. Yang dibutuhkan hanyalah keseriusan, kepedulian, dan kerja sama nyata antara pemerintah dan rakyatnya. Dengan itu, setiap tetes hujan yang turun akan membawa kesejukan dan kesuburan, bukan genangan dan keluhan. []





