Proses Mencari Ilmu

oleh

Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*

31 Januari 2023 tepatnya hari Selasa. Merupakan hari pertama kuliah untuk mahasiswa semester ketiga di Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.

Sebagaimana biasa sebelum memulai kuliah karena mereka adalah mahasiswa baru bertemu dengan saya dan juga mahasiswa baru bertemu dengan mata kuliah Fiqh dan Ushul Fiqh yang saya ajarkan.

Kendati sebenarnya mereka bukan mahasiswa baru untuk Fakultas dan Prodi karena mereka sudah semester dua.

Kuliah diawali dengan perkenalan, memperkenalkan diri sebagai mahasiswa kepada dosen, baik itu nama, asal, asal sekolah, pekerjaan orang tua, dan lain-lain.

Setelah mereka memperkenalkan diri lalu dosen juga memperkenalkan diri, disamping nama, asal alamat dan termasuk hal-hal yang mahasiswa perlu tau tentang diri sebagai dosen. Kemudian selanjutnya adalah memperkenalkan mata kuliah Fiqh dan Ushul Fiqh kepada mereka.

Sebagian dari mereka di wajahnya nampak kalau perkenalan tersebut terlalu membosankan, sebab diantara mereka sudah saling kenal selama enam bulan dalam perkuliahan (semester lalu), tetapi dengan dosen hanya sebagian orang yang kenal sudah kenal, itupun karena pada semester sebelumnya mendapat nilai yang kurang baik.

Walaupun sebenarnya menurut standar nilai sudah lulus tetapi karena tuntutan lapang kerja membuat mahasiswa tidak puas dengan nilai yang diberikan akhirnya mereka memperbaikinya.

Sebagiannya karena tidak sabar dengan lamanya waktu perkenalan merek langsung bertanya tentang Fiqh dan Ushul Fiqh. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya sebagai dosen balik bertanya kepada mereka.

Kalau anda berangkat dari rumah ke kampus lalu ada orang bertanya untuk apa kuliah ? Lalu apa yang anda jawab, tentu mencari “ilmu”.

Kemudian setelah anda pulang mereka akan menanyakan kembali apa yang sudah dapat/pelajari. Kalau tidak mengetahui makna dari ilmu tentu tentu tidak mengetahui apa yang sudah didapat dari kuliah, tetapi kalau sudah tahu tentu akan bisa menyebut dan menjelaskan apa yang didapatkan.

Kita mungkin bisa membayangkan, berapa lama sudah sekolah mulai dari SD, bahkan TK, SMP, SMA atau sekolah yang sederajat ditambah lagi dengan kuliah, tetapi ketika mereka ditanya tentang apa yang dicari selama sekolah dan kuliah, mereka tidak tau apa yang mereka cari kendati mereka bisa menjawab mencari ilmu tetapi mereka tidak tau apa itu ilmu.

Karena ketidak tahuan tentang apa yang akan dicari maka perkenalan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui itu sangat penting.
Dalam ilmu sosial pengertian dari ilmu adalah informasi, jadi semua informasi yang didapatkan menjadi ilmu bagi penerima informasi.

Perkenalan sesama mahasiswa adalah ilmu karena mendapatkan informasi tentang teman-teman sesama mahasiswa, perkenalan dengan dosen adalah ilmu karena mengetahui informasi tentang diri dosen, demikian juga sebaliknya dosen mendapat informasi tentang diri mahasiswa yang akan diajar, ini semua adalah ilmu.

Selanjutnya adalah perkenalan dengan mata kuliah yang akan diajarkan, Fiqh dan Ushul Fiqh. Informasi yang didapat tentang Fiqh dan Ushul Fiqh merupakan ilmu bagi penerima informasi (mahasiswa), baik itu pengertian, ruang lingkup pembahasan, sejarah perkembangan, dan lain-lain yang berhubungan dengan yang akan kita pelajari.

Ushul Fiqh adalah satu ilmu yang berhubungan dengan bagaimana cara untuk “mengeluarkan hukum dari al-Qur’an dan al-Hadis”.

Jadi di dalam firman Allah dan sabda Rasulullah menempel/melekat hukum, dengan menggunakan Ushul Fiqh hukum itu diambil, apakah itu hukum taklifi (wajib, sunat, mubah, makruh dan haram) atau hukum wadh’i (sebab, syarat, mani’, azimah, rukhshah, shah, bathal, fasid).

Contoh yang paling sederhana : Mangga (atau buah dan benda apapun boleh), kita mau mengambil dari mangga tersebut “rasa” asam dan manis, “warna” hijau, kuning, putih, “ukuran dan takaran” berat, ringan, besar dan kecil.

Untuk mengeluarkan rasa, warna, ukuran dan takaran perlu cara atau metode, untuk mengeluarkan wajib, sunat dan lain-lainnya perlu cara atau metode. Metode atau cara untuk mengeluarkan hukum (taklifi dan wadh’i) dari al-Qur’an dan al-Hadis disebut dengan Ushul Fiqh, kemudian hukum yang sudah diambil dari al-Qur’an dan hadis tersebut selanjutnya ditempelkan kepada perbuatan atau pelaksanaan dari dalil tersebut. Perbuatan dan pelaksanaan itulah yang disebut dengan fiqh.

Ketika hal tersebut sudah dipahami, maka ketika kita pergi dari rumah dan ada orang yang bertanya untuk apa pergi dan apa yang kita bawa pulang, dengan sendirinya kita bisa menyebutkan bahkan menjelaskannya. Lebih sederhana lagi informasi tentang Fiqh dan Ushul Fiqh adalah ilmu yang kita cari.

*Ketua Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.