Ziarah ke Makam Merah Johansyah

oleh

Oleh: Dinika Yusuf*

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu terwujud juga, yakni “Ekspedisi Merah Jahansyah, Sultan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam (1205-1235 M)” yang dimulai dengan ziarah kubur ke makam Merah Johan, pada 16 Juli 2022 di puncak gunung Lamsuseng, Aceh Besar.

Ketika menerima undangan dari panitia Kagayo (Keluarga Alumni Yogyakarta) untuk berziarah ke makam Raja Islam Pertama Darussalam asal Gayo, yang sangat populer dan berpengaruh pada masanya, saya sebagai salah satu anggota Kagayo sangat gembira dan bahagia bisa berziarah ke makam orang Gayo yang hebat itu.

Saya membayangkan seperti makam-makam raja lainnya yang megah dan terurus. Tapi tebakan saya meleset, kenyataan tidak demikian, makam Merah Johansyah tidak lebih baik dari makam rakyat biasa.

Hal tersebut barangkali sudah menjadi kebiasaan nenek moyang kita di Gayo, setelah beliau pensiun dari kekuasaan berlaku ungkapan para sufi, “Hilang tidak dicari, terlambat tidak ditunggu.” Artinya mereka ingin kembali kepada rakyat biasa, tidak ingin dikultuskan.

Sebelumnya saya bersama suami sempat tersesat di tengah hutan, tidak tahu arah kemana harus dituju. Kami sempat mengikuti arah google map, tetapi justru dibawa ke tempat tidak ada hujungannya dengan makam Merah Johansyah.

Beberapa masyarakat yang kami temui di tengah hutan, menyatakan tidak ada makam di sekitar sana. Kami pun memutuskan pulang saja. Namun tidak disangka kami berhenti pada sebuah warung dan bertanya kepada pemiliknya tentang lokasi Merah Johan. Ibu itu langsung telpon pemilik kebun, tempat lokasi makam Merah Johansyah.

Setelah berkenalan, akhirnya kami tahu, ternyata pemilik kebun, tempat di mana Merah Johan dikuburkan, bernama Muhajir yang dengan suka rela mengantarkan kami ke lokasi makam. “Guide” Muhajir mengantar kami ke makam lebih cepat sekitar sejam dari rombongan tim ekspedisi yang melalui jalan lainnya.

Begitulah beratnya perjuangan menuju makam Merah Johansyah. Kalau tidak ada niat yang kuat dan tulus, siapa pun tidak akan pernah sampai ke sana.

Berdasarkan petunjuk arah “google map”Perjalanan dari kota Banda Aceh ke Taman Rusa, Kampung Lam Tanjong, Kecamatan Sibreh, Aceh Besar ditempuh dalam waktu setengah jam dengan mobil.

Dari Taman Rusa menuju kaki Gunung Lamsuseng tempat parkit mobil makan waktu sekitar 30 menit karena melewati jalan berbatu. Tapi kalau musim hujan sama sekali tidak bisa dilewati karena tanjakan tajam dan tanah liat.

Dari pemberhentian mobil, kita harus berjalan kaki sekitar satu jam lebih dengan kondisi jalan berbatu dengan kemiringan 45 derajat dan sebelah kiri jurang dengan kedalaman 100 meter sampai dengan 600 meter. Sungguh berat perjalanan menuju makam Merah Johan yang beristrikan Laksamana Nian Nio Lingke atau terkenal dengan panggilan “Putroe Neng.”

Sesampai di Makam Johansyah, saya terharu, gembira dan prihatin jadi satu. Saya tidak bisa berucap apapun. Selain berdoa agar segala kesalahan dan dosa Muyang Datu orang Gayo itu diampuni Allah Subhanahu Wata’ala.

Saya pribadi benar-benar merasa nyaman berada di makam Muyang Datu. Saya yang sangat sensitif terhadap hal-hal mistik tidak merasakan sama sekali “energi negatif”. Energinya di makam itu benar-benar murni, tidak bercampur aduk.

Setelah kami selesai berdo’a, rombongan tim ekspedisi sebanyak 30 orang yang dipimpin Azmi akhirnya tiba. Untuk mencapai lokasi makam mereka menempuh perjalanan dengan jalan kaki sekitar 3 jam lebih. Perjalanan kami jauh lebih singkat dibandingkan rombongan tim ekspedisi.

Tidak menunggu lama, Dr. Edy Putra Kelana memandu diskusi singkat dengan pembicara Dr. Salman Yoga, Azmi dan Fauzan Azima. Kemudian dilanjutkan dengan do’a untuk keberkatan selama ziarah kubur.

Selesai berziarah dan berdiskusi kami pun turun dan meneruskan perjalanan untuk berziarah ke Makam Syech Abdullah Kana’an; yaitu, ulama yang membimbing dan mengangkat Merah Johan sebagai Panglima Perang melawan Putroe Neng.

Makam Syech Abdulllah Kana’an di Kampung Leugeu, Aceh Besar sangat terawat dan banyak dikunjungi para penziarah baik dari kampung sekitar Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, tetapi juga dari luar daerah.

(Banda Aceh, 16 Juli 2022)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.