Maulid, Mulod, Atau Mulut?

oleh

Oleh : Ali Abubakar Aman Nabila*

Di antara empat peristiwa penting yang terkait dengan Nabi, yaitu maulid, nuzulul Quran, isra mikraj, dan hijrah, maulidlah yang paling populer, karena dilakukan di hampir semua tempat, dengan berbagai cara dan bentuk, dan telah menjadi bagian dari tradisi pengamalan keagamaan umat.

Sebetulnya Rasulullah tidak pernah menyuruh agar hari kelahirannya diperingati, karena itu ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa kelahiran Nabi ini tidak perlu diperingati, bahkan salah memperingatinya.

Sebagian ulama berpendapat, maulid hanyalah sekedar ekspresi dari kecintaan kepada Nabi; ekspresi yang wajar karena sudah seharusnya umat menyambut dan memperingati kedatangan Muhammad, manusia yang oleh Tuhan dijadi¬kan rahmat untuk semesta alam. Maulid memang lebih dianggap sebagai bagian dari tradisi keb¬eragamaan umat daripada bagian ajaran agama.

Dalam Ensiklopedi Islam dinyatakan bahwa maulid pertama sekali diselenggarakan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir, pada masa pemerintahan Abu Tamim yang bergelar al-Mu`iz li Din Allah (341-365H/953-975M). Maulid didorong oleh keinginan menjadi penguasa populer terutama di kalangan Syiah.

Setelah Dinasti Fatimiyah digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah, peringatan maulid tetap dilaksanakan. Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193M), penguasa pertama dinasti ini memanfaatkan peringatan maulid Nabi ini untuk membakar semangat jihad kaum muslimin dalam menghadapi peperangan hebat melawan kaum salib. Jadi tujuan maulid Abu Tamim adalah kepentingan politis, sementara maulid Salahuddin untuk kepentingan agama.

Versi berbeda adalah pendapat Syekh Ali al-Tantawi (w. 1420 H), ulama Saudi Arabia. Dalam kitab Rijal min al-Tarikh (Tokoh-tokoh Sejarah), ia mengemukakan bahwa orang yang pertama sekali mengadakan peringatan maulid Nabi saw adalah al-Malik al-Mudhaffar (w. 632 H), Gubernur Irbil Irak. Peringatan maulid saat itu lebih tepat disebut Festifal Maulid daripada peringatan kelahiran Nabi saw.

Dua versi sejarah maulid di atas membuktikan bahwa pada masa klasik, apalagi pada masa Nabi saw dan sahabat, tidak ada orang yang mengadakan peringatan maulid Nabi saw. Karena itu, walaupun ditemukan hadis-hadis tentang memperingati kelahiran Nabi, tentulah muncul paling awal abad keempat hijri atau pada abad ketujuh sesudah masa al-Malik al-Mudhaffar.

Memang ada informasi lain yang menyatakan bahwa peringatan ini sudah dimulai sejak masa Sahabat secara diam-diam di rumah mereka masing-mas¬ing. Konon yang empunya rumah mengundang tetamu orang-orang yang baru memeluk Islam dan menceritakan perilaku Rasulullah serta menunjukkan keteladanan yang seharusnya diikuti.

Peringatan ini dilakukan sebagai wadah pendidikan dan pengenalan ajaran agama, bukan karena alasan ada perintah agama atau Nabi.

Setelah masa dinasti Islam, tradisi maulid merebak dan menjalar ke semua dunia Islam, dengan berbagai cara dan gaya. Peringatan ini sangat beragam antardaerah atau dari satu waktu ke waktu lain. Sebagian memperingati dengan sangat khidmat dan saleh, dengan bacaan Qur’an, salawat, pengajaran Hadis dan cuplikan perilaku Nabi.

Tidak ada pesta pora apalagi hura-hura. Semuanya ini diadakan untuk satu tujuan, menjadikan teladan Rasulullah sebagai anutan dan panutan umat.

Di daerah kita sendiri, peringatan maulid sangat beragam. Ada yang melakukannya dengan pagelaran kesenian, ada yang dengan pidato, ada yang dengan kenduri, dengan membaca shalawat, gabungan dari semuanya atau beberapa cara lain.

Yang paling sederhana adalah membuat kue timphan (Aceh) atau lepat (Gayo) di setiap rumah tangga. Namun dalam peringatan maulid di manapun di dunia ini, keli¬hatannya ada satu hal yang disepakati, yaitu harus ada pembacaan sala¬wat. Acara maulid tidak akan dianggap sempurna sekiranya salawat belum dibacakan.

Sehingga salawat sudah menjadi semacam “rukun” maulid. Bahkan di beberapa tempat, untuk lebih khidmat, salawat dipimpin oleh seorang “dirigen” dan tamu undangan dipersilakan mengikutinya sambil berdiri seperti sedang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Maulid yang paling bergengsi barangkali adalah yang dilakukan di Pakistan. Dibentuk panitia nasional, dibuat seminar bertaraf internasional. Biasanya, dalam diskusi ini dibicarakan berbagai aspek penulisan sejarah hidup Nabi dan berbagai metode untuk mengkajinya.

Di Turki dan Mesir maulid dilakukan melalui pagelaran kesenian tradisional, khususnya pembacaan salawat, tari-tarian sufi, lagu-lagu dan pujian kepada Nabi. Sehingga lagu untuk salawat tidak dianggap usang, karena terus diperbaharui dan juga tetap orisinil, bukan sekedar lagu jiplakan. Dan lebih dari itu cepat memasyarakat karena dipergelarkan dalam pesta besar bert¬ingkat nasional.

Mulod atau Mulut?

Untuk Indonesia, termasuk Aceh, peringatan maulid masih terkesan klasik dengan kenduri dan sekedar ceramah; belum bergerak ke arah yang lebih menggairahkan kita. Bahkan kendurinya tampak lebih dominan dibanding dengan makna penting meneladani Nabi yang disampaikan penceramah.

Untuk peringatan maulid di sebuah kampung di Banda Aceh misalnya, sekarang ini paling kurang menyembelih seekor sapi. Untuk itu, setiap kepala keluarga menyumbang wajib (ripee) paling kurang seratus ribu rupiah plus satu hidangan sukarela untuk beberapa orang.

Tidak jarang maulid harus dilakukan ba`da asar karena pagi hari khusus untuk memasak kuah sie leumo, lebih-lebih petang hari menjelang magrib cuaca tidak panas lagi sehingga hidangan dapat digelar di luar masjid atau menasah. Karena itu, sering prosesi makan hidangan harus berlomba dengan waktu maghrib.

Ironisnya, tepat azan maghrib berkumandang, tamu undangan pulang tergesa-gesa, tidak shalat di masjid/menasah tuan rumah. Di sebagian tempat, kesulitan dan pengelolaan keuangan maulid menyebabkan perpecahan di dalam kampung.

Bahkan, kadang-kadang demi kesuksesan peringatan maulid, ada panitia yang rela meninggalkan shalat. Kondisi ini melahirkan kesan bahwa maulid atau mulod (memperingati kelahiran) sudah menjadi mulut (lebih mengutamakan makan atau menyebabkan perang mulut).

Sebetulnya, perhatian masyarakat Aceh terhadap peringatan maulid Nabi termasuk luar biasa. Bayangkan saja, di tempat lain peringatan maulid hanya dilakukan satu atau dua hari bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal atau bergeser paling lama seminggu kemudian.

Di Aceh, maulid boleh dilakukan dalam empat bulan berturut-turut yaitu bulan mulod pertama sampai keempat (Rabiul Awwal sampai Jumadil Akhir), sehingga peringatan maulid kadang-kadang bergeser waktunya sampai tiga bulan. Tampaknya dalam keempat bulan itulah, peringatan maulid Nabi “dianggap sah”.

Perhatian masyarakat Aceh yang demikian besar terhadap maulid tentu dapat diarahkan “back to basic” terhadap makna dan tujuan peringatan peristiwa kelahiran Nabi terbesar. Tentu saja yang dikehendaki adalah seperti tujuan maulid yang digagas Salahuddin al-Ayyubi yaitu membakar semangat jihad kaum muslimin.

Kalau pada masa Salahuddin jihad dilakukan untuk menghadapi peperangan hebat melawan kaum salib, maka untuk sekarang ini semangat jihad diarahkan untuk kehidupan keberagamaan yang lurus. Maulid diadakan untuk pencerahan peneladanan terhadap Nabi secara total.

Tidak hanya dalam hal ibadah formal (mahdhah), tetapi juga ibadah dalam pengertian yang luas yaitu persatuan dan kesatuan, kepedulian sosial, kejujuran dan kedisiplinan dalam bekerja, orientasi utama kerja pada kerja dan karya, bukan melulu uang.

Semangat kelahiran Nabi adalah semangat perubahan akhlak secara menyeluruh, bukan hanya formalitas hukum dan ritual-ritual ibadah. Nabi Muhammad lebih sebagai seorang pembaharu moral universal daripada seorang ahli hukum.

Mengacu ke tradisi di Pakistan, maulid dapat membangkitkan semangat berkarya, terutama tentang perihidup dan keteladanan Nabi. Beberapa hikayat cuplikan sejarah hidup memang telah disusun sastrawan Aceh, tapi kita butuh lebih banyak hikayat untuk meneladani Nabi.

“Ya Allah ateuh Nabi Muhammad neutamah rahmat dan salam; di ateuh warih dan sahbat di ateuh umat yang Iselam. (Maaf, ara ke lagu Maulid si berbahasa Gayoe?).” []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.