Negeri di Atas Anan

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

“Kita punya bibit yang bagus” kata lelaki setengah baya yang punya jenggot panjang nan lebat.

“Hebat!” komentar saya singkat.

“Maaf kata, jatuh pada lumut bebatuan pun, dua tahun kemudian, kalau saya lewat di situ, dia akan panggil saya; ayah!” lanjutnya untuk meyakinkan saya bahwa “bibitnya” benar-benar unggul dan tidak diragukan lagi tingkat kesuburannya.

Sebelumnya, dia baru saja bercerita kepada saya, dia menikahi perempuan dengan status janda tanpa anak. Maklum, suaminya yang dulu mandul. Dari istrinya yang ke tujuh itu, mereka sudah dikaruniai sepasang anak; laki-laki dan perempuan.

Bermula dari cerita ngalor ngidul itulah, dia menegaskan dirinya benar-benar bisa diandalkan sebagai “peraman.” Dia meyakini ilmu pengetahuan tentang “kesuburan bibit” bukan sekedar karunia, tetapi sesuatu yang harus dipelajari dengan seksama, terutama di masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan angka kelahiran lebih rendah dan jumlah kematian semakin meningkat.

“Ketika bapak dan ibu belum bercampur, di manakah kita? Apakah namanya?” jawaban dari pertanyaan ini bagi orang Takengon dan Redelong jarang yang tahu, tetapi saudara kita di Blangkejeren banyak yang sudah faham.

Setelah bapak dan ibu bercampur; bulan pertama belum berbentuk, bulan kedua sudah seperti biji lada, bulan ketiga sudah mempunyai sifat, bulan ke-empat sudah punya rupa, bulan kelima sudah ada nyawa, bulan ke-enam sudah menjadi manusia, bulan ketujuh dan seterusnya, bulan kesepuluh sudah bisa memandang dunia.

Anak yang lahir dimanja tumbuh berkembang sampai menjelang dewasa, lalu “itanganen” kepada “guru” sebelum dikhitan untuk mengetahui potensi bakat, minat, pandangan hidup dan sifat si anak ketika sudah dewasa dalam mengarungi gelombang badai hidup dan kehidupan kelak.

Prosesi adat istiadat yang dilakukan oleh nenek moyang kita dalam rangka melestarikan “bibit berkualitas” sebagai bentuk mempertahankan nasab. Oleh karena itu, bagi laki-laki disarankan jangan buang “bibit” sembarangan demi kejelasan nasab atau zuriat (garis keturunan).

Orang tua kita dahulu sebagai “pemulia” manusia dari “tiada” menjadi “ada”sehingga menghasilkan manusia Gayo yang berkualitas. Kemampuan “iqro’nya” melahirkan “peri mestike” yang perlu nalar untuk memahaminya.

“Tengkahe i Pedemun, luke e i Kenawat itulah Gayo” kata orang tua menjelaskan tentang hakikat Gayo. Mereka tidak akan bertanya jika sesuatu yang ganjil terjadi, tetapi lebih banyak berdialog dengan diri untuk menemukan jawaban yang pasti.

“Berpisah Nabi Musa AS dengan Nabi Khaidir AS karena terlalu banyak pertanyaan” begitulah orang Gayo menyindir orang yang terlalu banyak bertanya.

Sindiran tersebut diambil dari kisah “Panggung sandiwara” pertemuan Nabi Musa AS dengan Nabi Khaidir AS yang sudah diskenariokan. Pasalnya, Nabi Musa sudah mulai sombong dengan mendakwa dirinya orang yang paling berilmu pengetahuan di antara Bani Israil.

Allah mencela sikap Nabi Musa AS tersebut. “Ada hambaku yang lebih pandai daripada engkau” kata Allah SWT kepada Nabi Musa AS. Orang itu adalah Nabi Khaidir AS.

Singkat cerita, Nabi Musa AS pun mencari dan menemukan Nabi Khaidir AS serta ingin berguru kepadanya. Namun Nabi Khaidir AS memperingatkan bahwa illmu yang diberikan Allah kepada Nabi Musa AS belum tentu diberikan kepada Nabi Khaidir AS.

Sebaliknya Ilmu yang diberikan Allah kepada Nabi Khaidir AS juga belum tentu diberikan kepada Nabi Musa AS. Kemudian Nabi Khaidir AS juga menyatakan Nabi Musa AS pasti tidak akan sabar, namun ia bersikeras dan berucap, “Insya Allah dirinya akan sabar!”

Dalam pengelanaan, Nabi Musa AS selalu bertanya tentang hal-hal ganjil yang dilakukan oleh Nabi Khaidir AS. Terbuktilah bahwa Nabi Musa AS tidak sabar “dalam berguru” kepada Nabi Khaidir AS. Akhirnya mereka pun berpisah setelah Nabi Khaidir AS menjawab peristiwa di luar nalar Nabi Musa AS.

Begitulah, sekarang “bibit unggul” Gayo sulit dicari, sesulit mencari burung gagak putih. Inilah pintu masuknya “penjajah” ke negeri kita. Mereka dengan mudah meraih kita dari pangkuan (di atas) anan yang lemah lembut. Sebaliknya, andai kita berada pada negeri atas awan, tentu mereka tidak sembarangan mengambil kita dari pangkuan (di atas) awan yang gagah berani, kecuali mereka punya ilmu yang sederajat atau lebih dari kita.

(Mendale, 9 September 2021)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.