Penggantian Istilah Reje, MAG Merasa Jadi Kambing Hitam Padahal Tak Dilibatkan Dalam Pembahasan

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : Salah satu yang menjadi polemik dalam rencana perubahan qanun kampung kabupaten Aceh Tengah adalah adanya rencana mengubah kembali penyebutan nama kepala kampung yang pada qanun yang lama disepakati dengan nama “Reje”

Ada banyak pro kontra di masyarakat mengenai rencana perubahan ini, salah satu wacana yang mengemuka adalah mengembalikan kepada panggilan sebelumnya, yaitu “Geuchik” yang merupakan sebutan umum untuk kepala kampung di daerah-daerah yang penduduknya berbahasa Aceh.

Yang disayangkan banyak pihak adalah, alasan dari pengubahan kembali nama yang sudah disepakati ini terkesan sangat remeh yang mengada-ada. Hanya karena ada satu dua reje kampung yang kebetulan bukan bersuku Gayo yang menganggap istilah itu terlalu berat atau celetukan seorang camat.

Ini berbeda dengan proses panjang yang serius, diawali dengan diskusi yang diikuti berbagai kalangan, mulai dari para sesepuh, lembaga adat, akademisi sampai pelibatan LSM yang turun ke daerah-daerah di Aceh Tengah dan Bener Meriah untuk mengumpulkan data tentang sebutan untuk kepala desa yang pernah hidup di masyarakat, yang kesemuanya dianalisa dan dijadikan sebagai sebuah kesimpulan.

Terkait hal ini, satu isu yang berkembang di masyarakat Aceh Tengah, bahwa rencana untuk mengubah kembali nama “Reje” menjadi “Geuchik” ini adalah atas saran dari lembaga Majelis Adat Gayo (MAG) yang katanya, menyatakan bahwa menurut sejarah bahwa dulunya, sebutan untuk kepala kampung adalah “Cik”

Tapi ketika hal ini mengemuka di dalam diskusi “Rancangan Qanun Kabupaten Aceh Tengah Penataan Kelembagaan Kampung Dirundung Kemunduran” ini berlangsung Senin 16 Agustus 2021 bertempat di Café Pahlawan Simpang Empat Bebesen, yang diselenggarakan oleh lembaga Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko), pihak MAG yang saat itu datang berombongan yang dipimpin sendiri oleh Banta Cut Aspala yang merupakan ketua lembaga ini. Pihak MAG membantah keras bahwa usulan tersebut datang dari mereka.

Kepada LintasGayo.co, Banta Cut Aspala dengan tegas menyatakan bahwa MAG sama sekali tidak pernah diundang atau diminta pendapatnya oleh pihak manapun terkait rencana perubahan kembali nama “Reje” menjadi “Geuchik”

Adapun yang menjadi sumber kesalahpahaman ini, MAG menduga itu terjadi karena pihak-pihak yang membuat rancangan perubahan qanun kampung ini, getol mengundang akademisi yang kebetulan berstatus sebagai anggota MAG. Sehingga pandangan pribadi sang akademisi dianggap mewakili pandangan dari MAG.

Untuk menghindari kesalahpahaman di kemudian hari, ketua MAG memberi saran kepada pihak manapun yang ingin mendapatkan pandangan ilmiah dari akademisi mengenai persoalan ini, sebaiknya mengundang akademisi yang secara pribadi tidak memiliki sangkut paut dengan MAG.

Adapun Dr Joni, Wakil Ketua MAG yang juga dikenal sebagai seorang akademisi yang diplot oleh panitia sebagai salah seorang pembicara dalam acara diskusi ini, ternyata tidak hadir karena alasan yang tidak diketahui oleh panitia, sehingga LintasGayo.co tidak bisa meminta pendapat dari yang bersangkutan.

[WWN]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.