Pepuseren Anjing Pemburu

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

“Apa yang engkau kejar, hai Bani Qatmir,” tanya Raja Sulaiman ketika melihat se-ekor anjing berjalan lunglai melintas di hadapannya.
Tampak anjing itu kelelahan. Tenaganya terkuras lemah. Lidahnya menjulur kering. Sementara rusa buruannya semakin jauh meninggalkannya.

“Saya telah gagal membalaskan dendam terhadap bapak saya yang dibunuh rusa” jawab anjing dengan nada hampir putus asa.

“Lalu?” tanya Raja Sulaiman kembali.

“Hidup saya akan merasa puas setelah memakan jantung rusa, sebagaimana sumpah nenek moyang kami” jawab anjing lirih seperti kehilangan keoptimisannya.

“Saya percaya, engkau telah berkata jujur!” kata Raja Sulaiman sambil meminta anjing menjulurkan lidahnya dan meludahinya.

“Selama berburu air liurmu tidak akan pernah kering dan selelah apapun tenagamu akan pulih kembali. Hal itu berlaku kepada dirimu dan anak keturunanmu kelak,” demikian amanah Raja Sulaiman yang melebihkan kemampuan anjing pemburu dengan air ludahnya.

Setelah memberi salam takzim kepada Raja Sulaiman yang telah memberinya energi baru, anjing itu pun meneruskan perburuannya.
Demikian “asbabun nuzulnya” anjing pemburu dendamnya tumbuh subur kepada rusa dan mendapatkan “tenaga lebih” setelah bertemu dengan Raja Sulaiman.

Sebagai mana sejarah anjing pemburu, segala sesuatu di dunia ini punya cerita. Misalnya, mengapa kalau orang makan kangkung bawaannya mengantuk?

Ternyata, kangkung adalah tanaman yang tumbuh di puncak gunung Rinjani, Pulau Lombok, NTB. Lalu orang tua pada zaman dahulu membudidayakannya di perkampungan. Kangkung membawa “sifat kantuk” karena berada di puncak gunung yang selalu didera angin sepoi-sepoi yang suasananya membuat orang-orang mengantuk.

Berburu merupakan salah satu tradisi yang masih melekat pada masyarakat kita sampai saat ini.

Pada setiap hari Jum’at di Kampung Kenawat Lut, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, anak-anak muda berkumpul untuk berburu babi.

Kegiatan tersebut dengan tujuan untuk melindungi tanaman padi dan palawija dari hama babi, sekaligus menyalurkan hobi sebagai olah raga rutin serta kepuasan bathin tersendiri apabila berhasil menangkap buruannya.

Kesuksesan dalam berburu sangat ditentukan oleh anjing pemburu. Dalam berburu biasa disertakan puluhan anjing pemburu, namun betapa kecewanya, jika kita melihat anjing pemburu ketika bertemu dengan buruannya bukan menangkapnya, tetapi malah mereka saling “dialog” sehingga buruannya tidak pernah berhasil ditangkap.

Ketidakmampuan anjing menangkap buruannya menjadi bahan caci maki, dengan sebutan; retet atau kul kupalung.

Anjing pemburu yang baik punya ciri-ciri fisik; daun telinga dan ekor yang tegak, berlidah dan bermoncong hitam, kaki dan dada lebar, berbulu tebal dan selalu berjalan di depan seolah sedang melindungi dan cepat merespons setiap gerakan dari tuannya.

Hal yang paling mudah untuk melacak anjing pemburu berdasarkan faktor keturunan. Anjing pemburu yang baik, cenderung melahirkan anak-anak anjing pemburu yang baik pula.

Di Gayo, para pawang melihat kehebatan anjing pemburu dari “pepuseren” atau pusar-pusar. Anjing yang mempunyai pusar-pusar di pangkal telinga kiri dan kanan memiliki kelebihan dalam berburu.

Anjing yang sangat langka adalah memiliki pepuseren pada telapak kaki sebelah kanan. Kehebatannya anjing yang memiliki ciri tersebut, ketika menginjak bekas buruannya; baik rusa dan babi akan lemas tidak berdaya lagi.

Tentu saja anjing pemburu yang baik memiliki garis silsilah keturunan dengan anjing yang pernah ditendang oleh rusa tepat pada ubun-ubunnya ketika sedang mengikuti “rapat negara” dengan Raja Sulaiman di Bukit Zenabun.

Tragedi itu menjadikan salah satu ciri fisik anjing pemburu yang baik memiliki ubun-ubun persis seperti bekas telapak kaki rusa.
Nah, tidak perlu heran, DNA naluri dendam nenek moyang anjing terhadap rusa akan diturunkan secara genetik kepada anak cucunya sampai hari kiamat kelak.

(Mendale, 4 Mei 2021)

Comments

comments