Bersegera Menuju Ampunan Allah

oleh

Oleh : Agung Pangeran Bungsu S.Sos*

Banyak dintara umat muslim yang menganggap bahwa Ramadhan adalah bulan yang tiada bedanya dengan bulan-bulan yang lainnya. Sehingga tidak jarang kuantitas maupun kualitas ibadah yang dipersembahkan untuk Allah ta’ala juga biasa-biasa saja.

Sebagian lain menganggap Ramadhan adalah bulan yang sangat menguntungkan dari segi materi, karena dengan seketika bisnis maupun usaha yang dijalankan dalam bulan Ramadhan bisa meraup keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan yang lainnya.

Terlepas apapun anggapan yang terpatri di benak setiap umat muslim, maka Ramadhan bukanlah bulan yang biasa. Banyak keistimewaan yang dianugerahkan oleh Allah ta’ala dalam setiap detiknya apabila kita ingin meraih dan mengambilnya.

Tidak sedikit ibadah-ibadah yang rasulullah anjurkan di penghujung Ramadhan. Dimulai janji Allah ta’ala akan diturunkannya malam lailatul qadr, anjuran memperbanyak dzikir mengingat Allah ta’ala dengan melakukan shalat malam, memperbanyak membaca Al-Quran, bermuhasabah dengan i’tikaf serta memberbanyak shadaqah yang tentu saja ganjarannya melampaui keutamaan beribadah di bulan lainnya.

Tentu saja setiap individu memiliki barometer untuk mengukur kemampuan ibadah yang sanggup ia kerjakan. Bagi seorang ayah tugas dan amanah terberat bukanlah hanya sekedar mencukupi kebutuhan sandang pangan dan papan segala sesuatu untuk menyambut lebaran.

Melainkan tugas terberat apakah seorang ayah mampu menjadi leader penggerak setiap anggota keluarga yang dia pimpin mampu bersama-sama meraih derajat taqwa selama berproses di bulan Ramadhan. Maka sungguh merugi mereka yang membiarkan Ramadhan berlalu begitu saja sedang ampunan Allah telah datang menghampirinya.

Sebagaimana sabda nabi lewat hadits Abu Hurairah berikut
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku, dan celakalah seseorang, bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga. (HR. Tirmidzi No. 3468)

Lantas dengan cara apalagi maklumat yang datang kepada kita hingga kita tersadar bahwa Ramadhan bukanlah sekedar bulan yang biasa. Betapa banyaknya orang yang kita temui pada bulan Ramadhan tahun lalu hingga kini tidak ada lagi bersama kita.

Sebagai contoh sederhana kita mampu melihat bagaimana semangat yang menghujam pada diri umat muslim adalah dari jumlah shaff shalat jamaah lima waktu, terkhusus pada waktu shalat Isya dan tarawih. Fenomena ini seakan sudah menjadi kebiasaan yang terus saja berulang dari Ramadhan menuju Ramadhan yang lainnya.

Entah itu semua karena sebab aktivitas pada siang hari yang berlebihan atau karena sebab rutinitas yang dilakukan saat berbuka puasa. Mulai dari acara reuni berbuka puasa bersama sampai dengan kegiatan lainnya yang jelas-jelas mengganggu serta melalaikan waktu ibadah seorang muslim pada malam hari.

Sudah sepantasnya kita menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai metamorfosis layaknya kehidupan seekor ulat yang kotor dan menjijikkan, hingga akhirnya menemui bulan Syawal dalam keadaan bersih bak seonggok kupu-kupu yang wanginya harum dan menawan.

Semoga kita semua bersegera menuju ampunan Allah ta’ala yang luasnya melebihi luas langit dan bumi, meninggalkan dosa-dosa yang masih saja kita lakukan. Semoga Allah ta’ala kuatkan setiap ruh dan raga kita semua di sisa dan akhir Ramadhan tahun ini. Hingga akhirnya kita semua menjadi tamu Allah ta’ala dengan predikat taqwa dan masuk ke dalam surga atas izin dan ampunanNya. Wallahu a’lam bish shawab.

*Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

comments