Meneropong Gayo Melalui Kacamata Dua Antropolog, PaEni dan John Bowen

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Mengingat kurangnya literatur ilmiah yang membahas tentang Gayo. Kita benar-benar beruntung dengan terbitnya buku “Riak di Laut Tawar; Tradisi dan Perubahan Sosial di Gayo Aceh Tengah” karya Mukhlis PaEni.

Menariknya, buku ini digarap oleh PaEni pada kurun waktu yang sama dengan Bowen menggarap buku-bukunya tentang Gayo. Mulai dari “Sumatran Politics and Poetics; Gayo History 1900 – 1989, ” “Muslims Through Discourse,” “Islam, Law and Equality in Indonesia: An Anthropology of Public Reasoning” dan “Religions in Practice: An Approach to the Anthropology of Religion”

Kalau dilihat dari sisi kualitas keilmiahan, jelas buku karangan Mukhlis PaEni ini jauh tertinggal dibandingkan karya-karya Bowen. Sebab dari segi data dan juga referensi, Bowen jelas jauh lebih kaya. Bowen mencari data bukan hanya di Gayo dan di Aceh pesisir saja.

Tapi dia mengulik informasi apapun, dokumen sejarah tertulis apapun yang menyebut nama “Gayo” sampai ke Jakarta dan Belanda, bahkan sampai ke Prancis.

Bowen benar-benar mencari dokumen atau manuskrip lama yang menyebut Gayo ibaratnya sampai ke lobang tikus yang paling jauh yang masih mungkin ditelusuri.

Bowen bisa melakukan itu semua, jelas karena dia memiliki sumber daya (baik itu dana maupun jaringan) yang memadai untuk melakukan itu. “Kemewahan” seperti ini jelas tidak dimiliki oleh Mukhlis PaEni.

Karena itulah, kalau kita baca buku Mukhlis PaEni ini. Untuk “sejarah” Gayo kuno, kentara sekali kalau antropolog asal Makassar ini terlalu bergantung pada kekeberen yang dibukukan oleh Tengku Mude Kala dan Hikayat Raja-Raja Pasee yang disusun kembali oleh M.Djamil, yang keduanya seolah dia terima bulat-bulat sebagai fakta, tanpa ada terlihat usaha dari dia, usaha kritis untuk membedah nilai keilmiahan sumber-sumber itu.

Untuk kasus tertentu, akibat keterbatasan sumber data dan referensi yang dimiliki Mukhlis PaEni. Beberapa kesimpulan yang dia rangkum di buku ini, bisa membuat pembaca awam non antropolog seperti kita ini tergiring kepada pemahaman yang salah atau minimal tidak komprehensif, apalagi golongan yang menganggap bahwa sebuah fakta yang ditulis dalam sebuah buku, adalah kebenaran absolut, yang hanya bisa dibantah dengan buku lain.

Contoh dari bagaimana PaEni hanya mengandalkan satu versi yang didapat dari Tengku Mude Kala bisa kita baca ketika dia mengisahkan, cerita Sengeda dan Meria (PaEni menulis Muria),

Ini berbeda dengan Bowen, untuk kisah yang sama, selain mengutip versi Tengku Mude Kala, anggota Akademi Amerika yang diangkat bersamaan dengan mantan presiden Barrack Obama dan Tom Hanks ini juga menampilkan kisah Sengeda dan Meria, versi Nyaq Puteh sebagaimana disampaikan oleh laki-laki asal Isaq ini pada Snouck Hurgronje.

Selain versi itu, Bowen juga juga menyertakan versi dari Samsir, orang Gayo yang dia temui yang bercerita secara oral dan juga versi Tengku Asaluddin. Bowen memaparkan banyak versi tentang kisah Sengeda dan Meria yang meski semua ada benang merahnya, tapi ada beberapa perbedaan dalam hal detail.

Cerita Sengeda dan Meria yang disampaikan Mukhlis PaEni hanya versi yang menyebut Sengeda dan Meria sebagai dua bocah bertuah yang datang dari negeri antah berantah tanpa keterkaitan apapun dengan Gayo.

Menurut kisah PaEni yang dia dapat dari kekeberen versi Tengku Mude Kala, Sengeda dan Merie, sepenuhnya orang luar yang tak punya asal-usul yang berakar atau terkait dengan Gayo.

Sedangkan Bowen, di samping memaparkan versi itu, dia juga menyampaikan kisah yang menceritakan bahwa Sengeda dan Meria adalah putra-putra Reje Linge dari istrinya yang berasal dari Johor, Malaysia.

Dua bocah ini datang ke Gayo untuk mengunjungi tanah asalnya. Tapi tuah yang dimiliki dua bocah membuat Reje Linge yang berkuasa ketakutan, menyangka mereka datang untuk menuntut haknya.

Pemaparan Bowen membuat kita pembaca awam berpikir, kalau cerita ini adalah kekeberen yang kebenarannya tidak bisa dipahami secara kebenaran matematika. Cerita Sengeda ini dituturkan turun-temurun dengan bias kepentingan politik lokal masing-masing.

Sementara kalau kita baca pemaparan PaEni, karena hanya ada satu versi, awam seperti kita, sulit untuk tidak berkesimpulan kalau kisah Sengeda dan Meria itu adalah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan.

Yang lebih berbahaya lagi, kalau karya PaEni ini dibaca oleh orang yang tak punya dasar pengetahuan sejarah dan ditambah ketiadaan nalar kritis. Saat PaEni memperkuat argumennya, untuk meyakinkan pembaca bahwa cerita Sengeda ini benar-benar fakta sejarah, mengaitkannya dengan Hikayat Raja-Raja Pasee.

Tanpa melakukan sedikitpun telaah kritis atas kronologi sejarah atas terbitnya manuskrip itu. Pendekatan model begini akhirnya membuat PaEni jatuh pada kesimpulan yang menyesatkan, bahwa kata Gayo itu benar-benar berasal dari kata Kayo alias penakut.

Apa yang dilakukan PaEni, berbeda sekali dengan yang dilakukan Bowen. Antropolog yang di kampungnya di Isaq, akrab dipanggil dengan Aman Genali ini, membedah habis Hikayat Raja-Raja Pasee secara kritis.

Dari telaahnya atas dokumen itu, membandingkan kisahnya dengan kisah sejaman, menelusuri awal mula kisah itu mulai diketahui orang, Bowen menemukan fakta kalau dokumen tertua dari manuskrip Hikayat Raja-Raja Pasee yang di Aceh secara umum dipercaya secara umum berasal dari masa kerajaan Pasee di Abad ke 13, sebenarnya tidaklah setua itu, manuskrip ini sebenarnya ditulis pada abad ke-19. Inilah sebabnya kenapa pola penulisan Hikayat Raja-Raja Pasee kental dengan aroma kepentingan politik wilayah.

Kemudian, bagi pembaca Non Gayo. Untuk memahami Gayo, Bowen jelas lebih layak direkomendasikan, karena pemaparannya jauh lebih komprehensif dibandingkan PaEni.

Bowen, disamping menggambarkan bagaimana terbentuknya peradaban di Lut. Dia juga dengan runut dan sistematis memaparkan, bagaimana Linge sebagai sumber peradaban Gayo lalu kemudian menyebar ke segala penjuru Tanoh Gayo.

Contohnya Bowen menceritakan bagaimana putri Linge Merah Aboq menikah ke Serbejadi dan membentuk domain politik Kejurun Aboq, bagaimana Kejurun Petiamang terbentuk dan seterusnya.

Membaca buku Bowen, pembaca Non Gayo akan mendapat pemahaman yang paripurna kalau Gayo itu bukan cuma sekedar Lut.

Sedangkan kalau mereka membaca buku Mukhlis PaEni. Pembaca Non Gayo hampir pasti akan tergiring kepada kesimpulan keliru, bahwa Gayo itu hanyalah Lut. Sebab PaEni sama sekali tidak membahas Deret (kecuali sebatas kisah Genali yang kemudian secara keliru menyimpulkan berdasarkan cerita dari satu versi bahwa pasca Sengeda pusat peradaban Gayo berpindah dari Linge ke Bukit), Gayo Lues, Serbejadi dan Kalul.

Bahkan ketika membahas van Daalen pun, kalau pembacanya adalah orang Non Gayo. Tidak bisa tidak, orang yang hanya mengenal Gayo dari buku karangan Mukhlis PaEni pasti akan menyimpulkan kalau pembantaian yang dilakukan van Daalen itu terjadi di Takengen, bukan di Gayo Lues.

Begitu juga terkait Ciq alias Bebesen, ketika membahas tentang masyarakat Ciq data yang didapat PaEni dari sumber Ciq, sangat sangat terbatas. Karena data yang didapat PaEni sangatBukit Sentris, sehingga ketika membahas Ciq, Bebesen alias Toa.

Orang Gayo yang tinggal di wilayah Lut, segera saja akan dapat menilai, dalam membuat kesimpulannya, PaEni terkesan tidak “Cover of Both Sides” sehingga dalam uraiannya, PaEni terkesan mendiskreditkan masyarakat Bebesen alias Toa.

Ini sangat berbeda dengan Bowen yang jauh lebih lengkap sumbernya. Sehingga ketika kita membaca pembahasan tentang Uken dan Toa ini, kita bisa melihat informasi yang lebih berimbang antara dua kelompok Gayo (PaEni menyebutnya sub suku) di wilayah Lut ini.

Tidak melulu mendiskreditkan Toa, seperti PaEni. Apa yang membuat orang Toa melihat Uken seperti itu, apa yang membuat Uken melihat toa begini, diulas secara jernih dan logis oleh Bowen tanpa menyimpulkan Toa lebih baik dari Uken, atau sebaliknya.

Tapi di samping alasan berbedanya tingkat kedalaman kesimpulan tentang Gayo dari dua antropolog ini. Yang paling menarik dari semuanya., dalam amatan saya, adalah cara pendekatan penelitian terhadap Gayo yang diterapkan oleh PaEni dan Bowen, yang benar-benar bertolak belakang.

PaEni, antropolog yang berasal dari Bugis ini memilih pendekatan ala Snouck Hurgronje, yang “memotret” Gayo sepenuhnya sebagai orang luar.

Dalam proses penelitiannya, PaEni, membedah dan menilai Gayo seperti orang mengamati dan meneliti ikan dari luar aquarium. PaEni memperlakukan orang Gayo yang dia teliti sebagai informan yang benar-benar berjarak dengan dirinya. Dengan alasan untuk menjaga objektifitas, dia berusaha keras untuk tidak ikut tercebur.

Sementara Bowen melakukan pendekatan sebaliknya. Dia memotret Gayo sebagai orang Gayo. Bowen masuk ke dalam Gayo. Seolah dirinya masuk ke dalam aquarium dan berenang bersama ikan-ikan yang ada di dalamnya, melihat dan menilai segala sesuatu yang ada di Gayo sebagaimana orang Gayo melihat dan merasakannya.

PaEni yang tidak bisa berbahasa Gayo, seperti Hurgronje, memerlukan perantaraan orang lain sebagai penerjemah supaya dirinya bisa memahami Gayo. Informan ini menjadi filter yang membatasi antara dirinya dengan Gayo.

Bowen sebaliknya, dia fasih berbahasa Gayo. Sehingga, ketika dia masuk ke kampung-kampung di Gayo, meski orang awalnya kaget dengan tampilan fisiknya yang sangat berbeda dengan orang Gayo kebanyakan. Tapi ketika dia mulai berbicara, tidak butuh waktu lama, keintiman langsung tercipta dan sumbernya pun langsung merasa kalau Bowen adalah bagian dari komunitasnya.

Ketika berada di lapangan, kalau PaEni konsisten menjaga jarak, sebagai pengamat. Bowen sebaliknya, dia melebur di dalam kampung tempatnya tinggal menjadi sama dengan warga. Saat berada di Isaq, Bowen benar-benar menjadikan dirinya warga Isaq dengan segala hak dan kewajiban.

Bowen ikut bergotong royong ketika di kampung ada gotong royong. Bowen ikut bantu-bantu kalau ada kenduri. Saya bahkan menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana Bowen bolak-balik mengangkat air dengan ember dari sungai untuk mengisi bak mandi Tengku Asaluddin, ayah angkatnya.

Ini berbeda dengan PaEni yang ketika mengerjakan penelitiannya, tinggal di sebuah kamar dengan fasilitas hotel di Buntul Kubu yang diberikan oleh Pemda. Bowen jelas tidak mungkin melakukan itu, dia tidak mungkin bisa menginap di hotel, karena pasti tidak akan diizinkan oleh keluarga Gayo-nya di Takengen. Apalagi Isak.

Kedekatan hubungan kekeluargaan ini, dipertahankan oleh Bowen sampai hari ini. Ketika dia sudah pensiun. Kali terakhir Bowen berkunjung ke Gayo, bersama anak dan istrinya. Bowen pun tidak menginap di hotel, tapi di rumah keluarga Gayonya.

Perbedaan pendekatan ini membuat perbedaan kesimpulan yang kentara. Contohnya ketika keduanya membuat kesimpulan tentang perempuan Gayo.

PaEni sebagaimana dia akui dalam bukunya. Cara pendekatannya sebagai orang luar ini membuat dirinya kesulitan untuk memahami kehidupan dan cara pikir perempuan Gayo. Karena sebagai orang luar, ada kendala etis baginya untuk mewawancarai perempuan Gayo, karena rentan menimbulkan kesalahpahaman dari pemuda kampung. PaEni dibatasi oleh “Sumang.”

Sementara Bowen, dia tidak mengalami kendala itu, karena Bowen masuk sebagai keluarga. Bowen sangat mudah untuk berbicara dan mengulik apapun untuk memahami cara pandang perempuan Gayo. Sebab perempuan Gayo yang menjadi sumbernya juga tidak risih bercerita dengan Bowen karena mereka tidak melihat sang peneliti sebagai sosok yang asing.

Bowen bisa lepas dari jeratan Sumang, karena para perempuan ini memandang sang peneliti yang sudah diterima sebagai warga Isaq ini sebagai adik, abang, paman, keponakan atau anaknya.

Karena sudah lepas dari jerat sumang, ketika Bowen berbicara dengan perempuan-perempuan di Isaq, tak ada pemuda kampung yang melihatnya sebagai perilaku tidak etis.

Mereka melihat itu selayaknya melihat seorang pemuda yang sedang berbicara dengan bibi, ibu, kakak, adik, anak atau keponakannya.
Bandingkan dengan PaEni, dia baru bisa punya akses ke perempuan Gayo. Setelah istrinya ikut menemaninya tinggal di Gayo pada kunjungan keduanya, pada tahun 1981. Dari cerita istrinya inilah PaEni membuat kesimpulan tentang perempuan Gayo.

Berdasarkan kesimpulan yang dia dapat dari cerita istrinya, PaEni mengatakan, di Gayo perempuan selain mengurusi rumah, juga membantu suami bekerja di kebun. Karena itu perempuan Gayo wajahnya tampak lebih tua dari umurnya dan tampak tidak menarik sehingga banyak lelaki Gayo yang beristri dua meski dia tidak bisa menyebutkan angka pastinya.

Sementara Bowen, dia melihat dengan cara berbeda dan yang sangat menarik kesimpulan yang buat bertolak belakang alias menjadi antitesis kesimpulan PaEni.

Berdasarkan pengamatan langsung yang dia alami sendiri, Bowen mengatakan, di Gayo keluarga adalah unit produksi bersama. Laki-laki dan perempuan sama-sama berproduksi dan memiliki harta bersama.

Terkait poligami. Bowen juga mengatakan, meski poligami dibenarkan tapi sangat tidak elok dipandang. Orang Gayo memandang pelaku poligami dengan pandangan merendahkan. Karena itulah, poligami tidak umum ditemukan di Gayo.

Benar-benar kebalikan dari kesimpulan PaEni.

Satu hal lagi terkait perempuan, karena dia benar-benar masuk dan “berenang bersama-sama ikan aquarium” Bowen mampu melihat kalau dalam urusan menentukan jodoh dan menentukan perkawinan di keluarga Gayo.

Perempuan justru lebih berperan daripada laki-laki. Perempuanlah, entah itu bibi, atau nenek atau ibu yang paling berperan memutuskan, mana menantu yang cocok untuk anggota keluarganya yang akan menikah.

Fenomena seperti ini, sepenuhnya gagal dilihat dan ditangkap oleh PaEni. Karena jelas, ini hanya mungkin bisa dilihat oleh orang yang masuk secara mendalam ke dalam Gayo.

Kemudian, bagaimana kentaranya perbedaan strategi pendekatan yang dilakukan kedua peneliti ini bisa kita lihat dengan jelas pada kata pengantar.

Ketika menyebut nama-nama sumbernya (di kata pengantar), Bowen tidak menuliskannya secara formal khas akademisi yang membuat jarak antara peneliti dan sumbernya. Bowen menuliskannya sebagaimana layaknya kita orang Gayo, menyebut orang-orang terdekat kita yang setiap penyebutan diawali dengan tutur di depan nama.

Sementara itu, membaca kata pengantar PaEni. Siapapun akan langsung berkesimpulan, kalau PaEni adalah seorang akademisi yang berjarak dengan sumbernya.

Di sini kita bisa melihat kalau PaEni menuliskan nama-nama sumbernya sebagai Bapak Mahmud Ibrahim, Bapak Tengku Abu Bakar Bangkit, Sdr. Harun Ugati, Bapak Tengku Ali Djadun, Bapak Tengku Ali Salwani dan seterusnya, menunjukkan adanya jarak antara dia sebagai peneliti dan nama-nama yang dia sebut sebagai sumber atau informan dari objek yang dia teliti.

Bowen sebaliknya, dia menulis nama-nama sumbernya sebagai Abang Mahmud Ibrahim, Abang Junus Melalatoa, Ayah Tengku Asaluddin, Aka Gemboyah, Abang Das dan seterusnya. Persis seperti kita orang Gayo yang tidak mungkin bisa menyebut orang-orang terdekat kita, tanpa embel-embel tutur.

Akibat perbedaan pemilihan strategi penelitian ini membuat hasil penelitian mereka, ketika dibukukan, saat kita membacanya pun nuansa yang kita rasakan benar-benar sangat berbeda.

Sebagai orang Gayo. Ketika kita membaca buku Bowen. Kita benar-benar merasa intim. Apa yang kita rasakan benar-benar tampil seperti adanya. Bowen seperti keluarga kita sendiri yang menceritakan sejarah keluarga dan kampung halaman kita.

Perspektif ini oleh Bowen dipadukan dengan cara pandang khas akademis barat yang analitis. Sehingga orang non Gayo pun mudah memahaminya secara kritis.

Sementara ketika kita membaca buku PaEni, kita seperti sedang mendengar seorang dokter menyampaikan observasinya tentang diri kita. Tanpa dia sendiri merasakan apa yang dia observasi.

Nah ini menariknya lagi, dari di sisi lain. Akibat perbedaan strategi pendekatan ini. Meski Bowen benar-benar sukses menunjukkan Gayo dari sisi pengamatan orang Gayo dengan segala nuansa, dinamika dan sisi emosionalnya. Tapi, professor asal Amerika ini tidak mampu menampilkan pengamatan orang luar terhadap Gayo sebaik yang ditampilkan oleh PaEni.

Karena meski Bowen bisa dekat sampai tak berjarak dengan orang Gayo dan bisa diterima menjadi Gayo. Tapi akibat tampilan fisiknya yang sangat berbeda, di mata para pendatang non Gayo yang tinggal di wilayah Gayo, Bowen adalah orang asing. Dia tidak bisa masuk secara mendalam dan membaur apalagi melebur kedalam pergaulan sehari-hari komunitas para pendatang non Gayo yang dalam keseharian berbahasa Indonesia.

Sebaliknya dengan PaEni yang memilih strategi penelitiannya sebagai orang luar dan memusatkan penelitiannya sebatas Takengen saja. PaEni dengan mudah masuk dan berbaur dalam pergaulan dengan para pendatang non Gayo.

PaEni dengan mudah masuk ke komunitasnya, merasakan nuansa dan dinamika yang dirasakan oleh para pendatang non Gayo yang tinggal dan menetap di Gayo. Sehingga, dalam memotret pandangan para pendatang itu terhadap Gayo, PaEni mampu melakukannya dengan jauh lebih baik daripada yang dilakukan Bowen.

Contohnya, PaEni dengan jernih bisa memotret dan menggambarkan bagaimana dalam relasi antara orang Gayo dan pendatang.

PaEni menyatakan dengan jelas kalau dibandingkan orang Aceh pesisir, orang Minang jauh lebih bisa membaur dengan orang Gayo.

Bandingkan dengan Bowen, yang dalam relasi Aceh dan Gayo ini, hanya mampu menggambarkan hubungan itu secara normatif, misalnya dengan menyebutkan “perkawinan antara orang Gayo dan Aceh jarang terjadi”

Sementara PaEni, peneliti berdarah Bugis ini mampu menggambarkan situasi ini dengan jauh lebih gamblang, dengan mengatakan ” Sekalipun sudah menetap dan beranak cucu di Gayo, sangat sulit bagi mereka (orang Aceh pesisir) untuk mengintegrasikan diri atau membaur dengan penduduk setempat, apalagi untuk menganggap Tanah Gayo sebagai negerinya sendiri.

Ada perasaan di kalangan orang pesisiran yang menganggap bahwa diri mereka lebih tinggi dari Gayo. Anggapan seperti ini tidak saja hidup di kalangan orang-orang Aceh pesisir yang bermukim di Gayo, tetapi juga di antara orang-orang Aceh terpelajar meskipun mereka sudah lahir, menetap dan diikat perkawinan di Gayo.” (Riak di Laut Tawar Hal 38) []

Comments

comments