Naik MRT di Jakarta, Serasa Tak Percaya Berada di Negara Berkembang

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Meski ber-KTP DKI, karena saya lebih banyak berdomisili di Bali, saya tidak terlalu intens untuk secara langsung merasakan segala perubahan atau kemajuan yang dialami Jakarta, terkait dengan transportasi umum. Bahkan dulu, ketika saya masih benar-benar tinggal di Jakarta antara 2010 -2013, pengalaman saya naik transportasi umum paling banyak cuma lima kali.

Dalam perkembangan transportasi umum di Jakarta ini ada satu yang membuat saya penasaran MRT (Mass Rapid Transit) yang idenya digagas oleh Habibie pada tahun 1986, saat saya masih duduk di bangku SD tapi baru dieksekusi pada tahun 2013, saat Jokowi menjabat sebagai gubernur DKI.

Sejak 2013 itu, saya intens mengikuti perkembangan proses pembangunan jalur MRT ini, bagaimana lika-liku dan dinamika dalam prosesnya, bagaimana mereka menyelesaikan persoalan penolakan dari masyarakat Fatmawati yang terkena imbas dari pembangunan proyek itu, melalui cerita teman saya Raihan Lubis, penulis buku Siti Kewe yang menjadi Public Relation di proyek pembangunan jalur MRT itu.

Dengan segala lika-liku dan kesulitan yang dialami sejak 2013 itu, akhirnya memasuki tahun 2019, MRT yang idenya sudah dimunculkan sejak saya masih SD ini resmi beroperasi ketika anak pertama saya sudah duduk di bangku SMA dan jabatan gubernur DKI sudah berpindah ke tangan Anies Baswedan. Jadi, jelas ini membuat saya penasaran.

Sebenarnya, akhir 2019 saat MRT belum lama beroperasi, dan saat pandemi baru akan menjadi persoalan besar, saya sekeluarga sempat ada di Jakarta, tapi waktu itu kami belum berkesempatan mencoba MRT yang membuat penasaran ini. Begitu juga, tahun 2020 lalu, meski saya beberapa kali ke Jakarta, saya belum berkesempatan mencoba moda transportasi umum ini.

Minggu 8 Maret 2021, akhirnya kesempatan itu datang. Kali ini saya tidak mau menyia-nyiakan. Saya memulai perjalanan dari pasar Kebayoran Lama, naik mikrolet ke stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Dari sana rencananya saya mengambil trayek maksimal sampai ke bundaran HI, dari sana saya akan menyambung dengan Trans Jakarta ke rumah di Rawamangun, Jakarta Timur.

Hal menarik dalam perjalanan ini, mulai dari pasar Kebayoran Lama sampai ke Rawamangun, saya merasakan tiga “Jakarta” yang berbeda.

Di Pasar Kebayoran Lama, kemudian naik mikrolet, saya merasa seperti berada dalam setting sinetron Bajaj Bajuri, secara posisi ada di tengah kota, tapi rasanya seperti ada di pinggiran. Pasar yang semrawut, trotoar yang dikuasai para pedagang, orang membuang sampah sembarangan, hampir tak ada orang yang memakai masker di jalan, suara klakson terdengar sahut-sahutan. Orang-orang berbicara dengan logat betawi, ya seperti di Bajaj Bajuri.

Naik mikrolet, saya selalu paling suka duduk di depan sehingga berkesempatan bercerita dengan sopirnya.

Mikrolet yang saya tumpangi, Daihatsu grand max yang disopiri Pak Dul yang juga sekaligus pemiliknya. Sopir sekaligus pemilik mikrolet ini, sudah agak berumur, katanya dia kelahiran akhir tahun 50-an. Seperti khasnya orang Betawi, dia suka bercerita.

Pak Dul dan para penumpang mikroletnya seolah tidak peduli yang namanya protokol kesehatan. Hampir tak seorangpun dari mereka yang memakai masker, kalaupun ada maskernya tidak dipakai sebagaimana seharusnya, seolah hanya sebagai pelengkap syarat saja.

Sepanjang jalan, Pak Dul terus menyerocos, menceritakan diri dan keluarganya. Dua orang anak kecil yang membeli jajanan menyetop mikroletnya, ketika anak-anak itu turun dan membayar ongkos, Pak Dul mulai bercerita tentang keluarganya.

Anak-anaknya yang sudah menikah semua, dan kemudian setelah istrinya meninggal dia menikah lagi dengan istri almarhum temannya dan sekarang dimana seharusnya dia sudah menikmati hidup, dia diamanahkan Allah untuk menghidupi anak yatim, anak almarhum temannya yang masih berumur 3 tahun.

Tiba di lampu merah di depan Pondok Indah Mall, sebuah Toyota Alphard putih yang akan melaju lurus dan harus berhenti di lampu merah, menutup jalan kami untuk berbelok langsung ke kanan dan menimbulkan kemacetan dan simfoni suara klakson dari belakang.

Pak Dul turun, mengetuk jendela di samping sopir Alphard, mobil mewah itu mencoba bergerak ke depan tapi terhalang mobil di depannya. Pak Dul kembali ke balik kemudi, tapi tidak bisa berbuat banyak, untungnya tidak terlalu lama kemudian lampu hijau menyala dan kami pun bebas dari ‘jepitan’ Alphard yang menghalangi jalan.

Usai kejadian itu, sepanjang jalan sampai Lebak Bulus, Pak Dul merutuk orang-orang kaya yang bertingkah sembarangan. Pembicaraan melebar kemana-mana sampai ke taksi udara yang baru beroperasi yang diamati oleh Pak Dul dengan pola pikir lugunya.

“Sekarang, kalo mau ngajak istri terbang enak ya pak, kita tinggal ajak naik taksi aja ke Bandara. Blue Bird bisa mati nih bentar lagi,” katanya.

“Iya pak, tapi naik taksi itu, paling berapa menit naiknya, ongkosnya 20 juta,” kata saya.
“Oh, tapi kan nggak apa-apa, katanya sebentar lagi IMF mau kasih pinjaman. Nanti kita naik taksi begitu IMF yang bayar,” sahutnya dengan logat betawinya yang khas.

Tiba di stasiun MRT Lebak Bulus, Pak Dul menyarankan saya langsung naik lift saja. Di sini, saya benar-benar seperti dihempaskan ke dunia yang benar-benar berbeda. Terminal transit ini benar-benar modern, bersih layaknya sebuah mall, tak ada sampah sama sekali dan orang-orang di sana juga sangat tertib.

Seperti saran pak Dul, saya langsung naik lift. Bersama saya di dalam lift, seorang perempuan muda bercadar dan berpakaian serba hitam.

Di lantai dua, saya langsung membeli kartu untuk membayar MRT, karena mereka tidak menerima pembayaran tunai. Kartunya juga dibeli secara otomatis, melalui mesin otomatis yang dilengkapi layar sentuh seperti mesin ATM.

Di layar tersedia pilihan, kartu yang mau kita beli, lengkap dengan Saldonya. Setelah kita membuat pilihan, uang kita masukkan, maksimal pecahan 50 ribu, kalau kurang kita tambahkan pecahan 20 ribu atau sepuluh ribu. Lalu kembalian diberikan dalam bentuk uang kertas atau koin.

Setelah mendapatkan kartu, saya baru bisa masuk ke ruang tunggu, dengan cara menempelkan kartu di gerbang yang dilengkapi penghalang. Setelah kartu ditempelkan, penghalang terbuka dan kitapun bisa melewati gerbang.

Sejak masih di lantai dua, sebelum masuk ke ruang tunggu, aaya perhatikan calon penumpang satu persatu, tak satupun dari mereka berpakaian lusuh. Kebanyakan anak muda usia mahasiswa atau eksekutif muda dengan pakaian modis, kulit bersih dan wangi.

Duduk di ruang tunggunya, saya merasa seperti sedang berada dalam setting film atau drama korea. Dinding, pembatas escalator dan juga di berbagai penunjuk arah telihat poster iklan salah satu merk air mineral lokal.

Stasiun ini jauh lebih bagus daripada stasiun-stasiun metro yang digambarkan di film-film Hollywood atau stasiun-stasiun metro di eropa yang kumuh penuh coretan graffiti dan orang-orang yang bertingkah sembarangan.

Di sini semua sangat teratur dan rapih, tak ada coretan dan tidak mungkin bisa ada yang nekat melakukan karena sekuriti berpakaian bersih dan rapi, dengan radio panggil terselip di dada kiri dan pentungan di pinggang, selalu ada di sana berlalu lalang.

Ruang tunggu ini menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan dipatuhi semua orang. Tak seorangpun di sini yang tidak memakai masker, duduk juga tak bisa berdekatan, untuk memastikan semua orang mematuhi protokol kesehatan, bangku-bangku ruang tunggu yang tidak boleh diduduki, diberi tanda silang.

Jadwal kedatangan kereta diinformasikan melalui papan elektronik. Di sana tertulis Bundaran HI 14.20 dan benar, tepat pukul 14.20, kereta yang ditunggu datang. Seperti di stasiun, Badan kereta itu seluruhnya ditempeli stiker iklan salah satu produk air mineral.

Penumpang yang turun dari kereta, turun dengan tertib, kami yang masuk juga masuk dengan tertib dan duduk di kursi yang tersedia dengan menjaga jarak aman karena tiap berselang satu kursi, terdapat tanda silang.

Di sepanjang perjalanan, suara perempuan yang memberi informasi tentang protokol kesehatan untuk melawan Covid 19 kepada penumpang melalui pengeras suara. Suara perempuan itu terus menerus mengingatkan untuk terus menjaga jarak aman, jangan berbicara dengan penumpang lain.

Semenit sebelum tiba di salah satu stasiun suara perempuan itu kembali mengingatkan penumpang yang akan turun di stasiun tersebut dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Di setiap stasiun itu ada penumpang yang naik dan turun.

Sebagaimana para calon penumpang yang saya lihat di stasiun Lebak Bulus, para penumpang yang naik di setiap stasiun inipun sama, tak ada yang terlihat lusuh dan kumuh, mereka semua tampak modis menunjukkan kalau mereka berasal dari kalangan berada.

Suasana di dalam kereta ini dan penampilan para penumpangnay, membuat saya merasa, seperti bukan berada di Indonesia. Rasanya lebih seperti sedang berada di dalam kereta penghubung antar terminal, di Bandara Changi Singapura.

Dari Lebak Bulus sampai stasiun Sisingamaraja yang terletak di depan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Gedung Sekretariat ASEAN. kita berada di atas rel yang ada di atas tiang-tiang besar di atas jalan, sehingga sepanjang jalan kita bisa menyaksikan gedung-gedung Jakarta dari jarak sangat dekat.

Dari Sisingamangaraja sampai ke stasiun akhir Bundaran HI, kereta masuk ke dalam terowongan, tidak ada lagi pemandangan kota di kiri kanan.

Tiba di stasiun senayan, banyak penumpang baru yang masuk di antaranya 5 orang gadis muda berjilbab yang sangat modis. Salah satunya duduk di samping saya, perempuan muda berkulit putih, berjilbab warna khaki dengan baju kaos lengan panjang warna kuning. Untuk bawahan dia memakai jins longgar yang modis dan sepatu sendal berbahan kulit dengan tali pengikat melingkar sampai di atas mata kaki.

Dari bentuk wajahnya, saya menduga dia bersuku sunda. Empat orang temannya yang lain tidak kalah cantiknya. Melihat itu, asli saya merasa menyesal dilahirkan terlalu cepat, batin ini rasanya berontak, kenapa saya tidak naik MRT ini sekian tahun yang lalu ketika saya masih sering “back packing” bertualang sendirian kemana-mana.

Kelima gadis itu turun di stasiun Dukuh Atas dan saya melanjutkan perjalanan sampai di stasiun akhir Bundaran HI bersama penumpang lain yang menggantikan mereka.

Kereta tiba di stasiun Bundaran HI, pukul 14.50, tepat 30 menit perjalanan dari Lebak Bulus. Saya keluar dari kereta kemudian kembali berhadapan dengan gerbang yang hanya bisa dilewati dengan cara menempelkan kartu penumpang MRT di sensornya. Ketika saya tempelkan, di layar tampak saldo saya terpotong 14 ribu rupiah dan setelah itu saya bisa keluar.

Suasana di stasiun Bundaran HI ini layaknya sebuah mall mewah, di tiang dan dindingnya dipenuhi gambar iklan produk telepon seluler dan sebuah situs belanja online yang menampilkan foto-foto anggota pop idol Korea, BTS dan Black Pink.

Di depan foto-foto para anggota pop Idol itu, gadis-gadis muda sampai mamak-mamak berpoto dengan pose instagramable secara bergantian.

Suasana ini membuat kita seolah kita merasa sedang berada di sebuah negara maju dengan penduduk yang makmur.

Kalaulah ada orang asing yang dari Bandara, naik taksi dan langsung diturunkan di stasiun MRT Lebak Bulus sampai ke Bundaran HI dan kemudian sampai pulang, Indonesia yang dia kenal hanya sebatas ini. Saya berani jamin kalau mereka tidak akan percaya pada orang yang mengatakan Indonesia ini adalah negara berkembang.

Saya terus berjalan menuju jalan keluar, melewati escalator yang tinggi untuk menuju ke halte Trans Jakarta yang terletak di seberang. Sialnya, di luar ternyata hujan lebat, saya tertahan dengan banyak penumpang lain.

Sebenarnya, penumpang MRT yang ingin melanjutkan perjalanan dengan Trans Jakarta, bisa saja keluar langsung melalui terowongan bawah tanah menuju halte Trans Jakarta Bundaran HI dengan cara menempelkan kartu penumpang Trans Jakarta nya, sialnya saya belum punya kartu itu, sehingga saya tak punya pilihan selain menerobos hujan.

Untungnya, di depan pintu keluar stasiun ada banyak pengojek payung. Saya menyewa payung milik seorang remaja laki-laki yang umurnya saya perkirakan sepantaran anak sulung saya. Dia mengaku bernama Aji, sekolah di SMK dan hari itu sudah mendapatkan 20 ribu rupiah dari mengojekkan payungnya.

Saya menyeberang ditemani Aji yang bercelana pendek dan bertelanjang dada, menggigil di bawah dinginnya hujan. Tiba di seberang, saya memberinya 5 ribu, kemudian saya membeli kartu, memasukkan uang 100 ribu untuk membeli kartu seharga 30 ribu. Mesin ini tidak memberikan kembalian, struk diberikan dengan cara men-scan kode yang muncul di layar, dan nanti akan dikembalikan melalui Whatsapp. Sialnya, baterai HP saya sedang habis dan saya tidak bisa men-scan kode yang muncul.

Saya tanyakan pada petugas, apakah uang itu hilang. Dia katakan tidak, nanti bisa menghubungi customer service. Tapi setelah saya hubungi, sampai hari ini uang saya belum ada kejelasan.

Begitulah, akhirnya saya masuk ke halte Trans Jakarta, untuk mengambil jurusan Tosari lalu dari sana saya berganti bis untuk ke Rawamangun dengan mengambil jurusan Velodrome untuk nantinya turun di stasiun Pemuda.

Suasana di halte dalam bis Trans Jakarta, tidak se ekstra vaganza seperti di dalam MRT tapi juga tidak sebersahaja suasana di dalam mikrolet dan di pasar Kebayoran Lama.

Di dalam bis Trans Jakarta ini, tetap menerapkan protokol kesehatan, penumpangnya meski tidak se bling-bling penumpang MRT, tapi juga tidak sebersahaja penumpang mikrolet.

Begitulah, naik tiga moda transportasi umum di Jakarta, saya menemukan tiga wajah Jakarta yang berbeda. Tiga wajah yang meski ada di kota yang sama, tapi seolah ada di tiga dimensi yang berbeda. []

Comments

comments