Ukhuwwah dan Kemanusiaan Sejati

oleh

Oleh Johansyah*

Ukhuwwah (persaudaraan) adalah salah satu nilai dasar kemanusiaan. Bahkan kualitas kemanusiaan seseorang diukur dari tingkat rasa persaudaraan yang tinggi. Persaudaraan dalam tataran kehidupan adalah sebuah keniscayaan karena manusia diciptakan untuk saling melengkapi.

Orang maupun kelompok selalu memiliki kekurangan. Namun di sisi lain memiliki kelebihan. Di saat inilah mereka menjalin kebersamaan untuk saling mengisi.
Persaudaraan itu adalah nilai pokok yang menjadi kekuatan sesorang maupun kelompok.

Hal ini disebabkan karena terdapat berbagai nilai positif dalam persaudaraan; kasih sayang, peduli, setia, tanggung jawab, menolong, toleransi, perhatian, membela hak orang lain, dan sebagainya. Dengan ungkapan lain, orang yang memiliki rasa persaudaraan tinggi pasti setia, peduli, memiliki kasih sayang, mau menolong, dan senantiasa membela hak orang lain.

Kalau ada orang yang mengaku diri sebagai orang yang komitmen dengan nilai-nilai persaudaraan, pembuktiannya dapat dilihat pada aspek-aspek tadi. Apakah dia sebagai orang yang setia, berkasih sayang, peduli, mau menolong dan seterusnya? Kalau di antara karakter ini tidak mewujud dari dalam diri, berarti persaudaraannya hanya sebatas ungkapan belaka.

Untuk lebih mengenal seperti apa sebenarnya persaudaraan itu, perlu kiranya dipahami bentuk-bentuk persaudaraan. Pertama, persaudaraan kekerabatan, yakni persaudaraan disebabkan karena pertalian darah. Minsalnya antara kita dengan saudara kandung, sepupu, paman, keponakan, dan lain-lainnya. Salah satu aspek yang paling detil diterangkan al-Qur’an terkait dengan persaudaraan kekerabatan yakni mengenai warisan.

Sebab persoalan ini yang paling rentan menjadi sumber perselisihan dalam keluarga. Warisan sering kali merusak nilai-nilai persaudaraan. Antara adik dan kaka kandung tidak saling sapa, saling benci, bahkan saling mencelakai hanya karena berebut warisan.

Di antara contoh persaudaraan yang indah adalah persaudaran antara nabi Musa dan Harun. Keduanya berjuang dalam kebaikan dan menegakkan kebenaran. Mereka saling melengkapi, meskipun dalam al-Qur’an nabi Musa lebih banyak diceritakan. Tapi nilai hikmah yang dapat diambil dari persaudaraan mereka yakni kekompakan dalam memperjuangkan kebenaran.

Ada juga contoh persaudaraan yang diceritakan al-Qur’an dan tidak pantas untuk ditiru, yakni persaudaraan antara Kabil dan Habil. Kabil adalah pribadi yang ambisius. Ketika keinginannya tidak terwujud, dia akan berusaha mewujudkannya meski pun harus membunuh saudaranya Habil.

Kedua, persaudaraan ideologis. Yakni persaudaraan berdasarkan kesamaan ide, kelompok, pandangan, maupun kepentingan. Orang yang berkarakater jahat umumnya bersaudara dengan orang jahat. Sebaliknya, orang yang baik akan mencari teman orang baik pula. Sementara orang munafik tidak akan memiliki teman abadi. Dia akan berteman dengan orang-orang yang dapat dibohongi dan dimanfaatkan. Ketika orang tau, persaudaraannya akan gugur. Orang akan menjauhinya.

Persaudaraan ideologis yang sangat kejam salah satunya adalah persaudaraan karena kepentingan bisnis. Jika sesuatu itu menguntungkan, maka ada persaudaraan. Tapi kalau sesuatu itu merugikan secara materi, tidak ada persaudaraan. Persaudaraan semacam ini tidak mengenal pertimbangan ras, suku, dan agama, kecuali pertimbangan utamanya adalah keuntungan materi bagi masing-masing orang maupun kelompok.

Persaudaraan semacam inilah yang kerap merusak sistem, menekan orang lemah, mengendalikan pemerintahan, dan bahkan mengorbankan mereka. Pertimbangan mereka sama sekali jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, peduli, dan seterusnya. Di kepala mereka hanya kalkulasi keuntungan dari persaudaraan dan persekongkolan yang mereka buat.

Ketiga, persaudaraan religius. Yakni persaudaraan karena keyakinan dan keimanan. Dalam al-Qur’an disebutkan sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Persaudaraan ini bukan didasarkan pada persaudaraan geneologis atau karena kekerabatan, melainkan karena persamaan keyakinan. Sesama orang muslim adalah bersaudara tanpa mengenal suku, status sosial, dan warna kulit.

Dalam Islam, persaudaraan semacam ini menjadi modal utama dalam membangun peradaban Islam. Pada awal perkembangan Islam, terutama fase Madinah, persaudaraan begitu kelihatan antara kaum pendatang (muhajirin) dan penduduk setempat (Anshar). Mereka dipersaudarakan antara satu dengan yang lainnya.

Penyematan persaudaraan itu tidak sekedar simbolik, tapi diwujudkan dalam praktik keseharian mereka. Saudara-saudara dari kaum anshar memberikan bantuan kepada para kelompok muhajirin yang membutuhkan.
Dalam perkembangan selanjutnya, pasca wafatnya rasulullah SAW, pertikaian internal antar umat Islam mulai bermunculan.

Apakah yang berkaitan dengan dengan politik Islam, maupun yang berkaitan dengan pandangan-pandangan pemahaman keagamaan. Hal ini sering menjadi batu sandungan umat Islam. Mereka saling menyalahkan dan melemahkan. Di saat yang sama, kelompok lain di luar Islam banyak yang memanfaat kondisi ini untuk memecah belah umat. Tidak ada solusi bagi persoalan seperti ini kecuali menguatkan ukhuwwah Islamiyah dengan mengenyampingkan egoisme, ashabiyah, dan menganggap diri paling super dan benar.

Keempat, persaudaraan global. Yakni persaudaraan yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan secara global. Wujud persaudaraan global salah satunya dapat dilihat ketika peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 lalu. Waktu itu bantuan mengalir dari berbagai negara, baik negara negara Eropa, Amirika, Asiabarat, Afrika, Asia, dan Islam maupun non Islam, semuanya membantu.

Persaudaraan global terbatas pada aspek muamalah belaka. Dalam konteks ini, jalinan persaudaraan tidak didasarkan pada persamaan keyakinan, tapi berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena ada batasnya dalam dimensi muamalah, maka dalam persaudaraan global tidak dibolehkan memasukkan misi keagamaan tertentu. Ketika mau menolong kelompok lain yang berbeda keyakinan, tidak boleh membuat persyaratan khusus, minsalnya harus berpindah keyakinan, kalau menolak tidak akan menerima bantuan.

Di beberapa tempat mungkin kasus seperti ini sering kita dengar. Kelompok tertentu memberikan bantuan, tapi di balik itu ada misi lain yakni ingin mempengaruhi orang-orang yang mereka beri bantuan untuk berpindah keyakinan. Maka praktik persaudaraan seperti ini sama sekali jauh dari nilai-nilai dasar persaudaraan global.

Terakhir, faktor yang sering merusak nilai-nilai persadaraan itu adalah ambisi pribadi dan kelompok. Ketika orang atau kelompok begitu ambisi, dia tidak lagi peduli dengan nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan yang sejatinya mereka rawat dengan baik. Yang jelas, tanda seorang itu manusia sejati adalah ketika dia menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan mewujudkannya dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab!

*Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

Comments

comments