[Kekeberen] Kisah Atu Berukum Serule : Konon Jadi Tempat Berkumpulnya Semua Hewan Dimasa Nabi Sulaiman

oleh

Kampung Serule, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah menyimpan banyak misteri yang belum terungkap ke permukaan. Selain menjadi kampung tue di Dataran Tinggi Gayo, kawasan Serule juga dikenal dengan salah satu kampung bersejarah di tanoh Gayo.

Terletak 48 KM dari pusat Kota Takengon, Serule dimasa kerajaan Linge tempo dulu juga dikenal dengan kawasan yang melahirkan sosok-sosok penting, salah satunya sebut saja Chik Serule yang terlahir dengan nama Sjirajuddin, tokoh agama Islam pada masanya di tanoh Gayo.

Tak lengkap rasanya, jika menyebut nama Serule jika tidak dikaitkan dengan salah satu pepatah-petitih Gayo yang kini terus disebut sebagai asal mula urang Gayo, Asal Linge Awal Serule. Pepatah ini, sampai saat ini masih terus menjadi slogan bagi masyarakat Gayo.

Terlepas dari segalanya, di kawasan ini juga berkembang folklor atau cerita rakyat yang saat ini masih terus diceritakan oleh orang tua di Kampung Serule kepada anak-anaknya.

Ialah, Atu Berukum atau Atu Bekas yang konon menjadi tempat Nabi Sulaiman pada masa lalu mengumpulkan semua hewan di bumi ini.

Atu Berukum (Atu Bekas) terletak 200 M dari Kampung Serule. Memang di batu seukuran rumah ini, jika kita perhatikan sampai saat ini, masih dapat disaksikan bekas-bekas menyerupai tapak segala hewan yang ada diatas batu tersebut.

Dari cerita rakyat Serule, di Atu Bekas ini juga muncul awal mula cerita perseteruan antara Asu (Anjing) dan Giongen (Rusa). Masyarakat setempat bercerita, bahwa Anjing datang terlambat saat Nabi Sulaiman mengumpulkan para hewan.

Saat anjing datang terlambat, Giongen protes dan mengatakan anjing congkang dan langsung ditendang oleh Giongen. Tak terima, maka anjing mengejar Giongen. Sampai saat ini, kondisi tersebut terus berlanjut, anjing selalu menjadi hewan yang digunakan untuk memburu Giongen atau rusa.

Di kawasan Atu Berukum ini juga masyarakat setempat juga ada menyebut Atu Canang. Konon, batu ini dijadikan sebagai petanda berkumpulnya semua hewan saat dibunyikan.

Begitulah kisah Atu Berukum atau Atu Bekas yang dijadikan cerita rakyat di Kampung Serule yang juga punya tokoh yang kesehor di Gayo bernama Muyang Gerpa ini.

Benar atau tidak cerita tersebut terjadi di Serule, namun pada intinya bahwa cerita nabi Sulaiman mengumpulkan para hewan setelah diberi mukzizat oleh Allah SWT bisa berbicara dengan semua hewan adalah benar adanya sesuai keyakinan kita ummat Islam.

Begitu juga dengan cerita rakyat (folklor) yang merupakan seni tutur yang sudah melegenda di dataran tinggi Gayo. Kekeberen demi kekeberen yang disampaikan orang tua kepada anaknya, merupakan cara berkomunikasi yang diolah sedemikian hingga sehingga menjadi pembelajaran kepada si anak.

Selalu ada pesan moral yang disampaikan dari setiap kekeberen yang disampaikan. Dan hemat penulis, kekeberen saat ini sudah tergerus dengan kondisi zaman. Padahal, kekeberen memiliki pesan moral yang harus dilestarikan.

[Mawardi/DM]

Comments

comments