Kopi dan Bahasa Inggris, Adakah Kaitannya?

oleh

Oleh : Muriya Ningrum*

Kopi yang merupakan salah satu satu produk unggulan di kabupaten Bener Meriah merupakan sumber denyut perekonomian seluruh masyarakat. Hampir seluruh komponen masyarakat menggantungkan perekonomian mereka pada kopi. Kopi dan masyarakat Gayo adalah dua komponen yang tak terpisahkan.

Hal ini dapat dibuktikan dari apapun profesi masyarakat (selain petani kopi) maka mereka juga tak bisa lepas dari permasalahan kopi. Walaupun telah memiliki profesi tetap sebagai aparatur sipil negara, staff kesehatan, pejabat, politikus dan lain-lain, tetapi dapat dipastikan mereka masih mengelola kebun kopi atau menjalani bisnis kopi sebagai usaha sampingan.

Sebagai komoditi yang bersifat global, maka peran bahasa Inggris sebagai Bahasa Internasional dalam mempromosikan kopi dan dalam hal negosiasi dengan pihak pembeli dari luar sudah pasti tidak terelakkan lagi.

Hal ini seharusnya sudah sejak lama disadari oleh pihak Pemda setempat, sehingga pemerintah daerah dapat mempertimbangkan sebuah kebijakan untuk menjadikan kopi sebagai pelajaran muatan lokal dan kemudian mengintegrasikannya dengan pelajaran Bahasa Inggris.

Bupati Ruslan Abdul Gani dimasa awal pemerintahannya pernah mengumpulkan dan memanggil seluruh guru Bahasa Inggris di kabupaten Bener Meriah untuk bersilaturahmi.

Disini sebenarnya ada sinyal yang menyatakan betapa pentingnya peran bahasa global ini untuk kemajuan Bener Meriah yang memiliki produksi kopi sebagai komoditi global. Bahkan beliau sempat melontarkan gagasan pembentukan Kampung Inggris di Bener Meriah.

Ada dua cara yang bisa pemerintah pertimbangkan untuk mengintegrasikan Bahasa Inggris ke dalam bidang perkopian. Yang pertama, dengan mempertimbangkan ‘Kopi’ dijadikan pelajaran muatan lokal dan kemudian di integrasikan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Petunjuk Teknis (Juknis) pelaksanaan pengembangan muatan lokal oleh Kemendikbud.

Dalam Juknis ini disebutkan bahwa pelajaran Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Standar Isi, Lampiran Bab II Bagian B3 butir a1).

Berdasarkan pengertian pelajaran muatan lokal diatas, dimana acuan penentuan pelajaran muatan lokal adalah ciri khas dan potensi daerah maka sudah selayaknya Pemerintah daerah mempertimbangkan kopi sebagai pelajaran muatan lokal daerah.

Meskipun hampir semua masyarakat tahu bagaimana menanam dan memproses kopi, tetapi tidak ada salahnya diperkuat kembali secara akademik di sekolah dengan menambah berbagai info dan penemuan ter-update yang berkaitan dengan kopi.

Kemudian dengan mempertimbangan bahwa sektor kopi sebagai komoditi global tidak dapat dipisahkan dengan Bahasa Inggris sebagai Bahasa komunikasi untuk promosi dan negosiasi maka Bahasa inggris dapat diintegrasikan kedalam pelajaran muatan lokal tersebut.

Hal ini selaras dengan apa yang disarankan oleh penulis jurnal ‘An Analysis of Factors Affect the Export of Gayo Coffee in Bener Meriah Regency, Acheh, Indonesia’ bahwa pemerintah daerah diharapkan dapat mengupayakan lebih banyak promosi ke manca negara (Nurlina & Putra, 2016).

Berkaitan dengan upaya promosi kopi Gayo ke luar negeri, maka kemahiran menjelaskan spesifikasi dan karakteristik kopi Gayo serta prosesnya menggunakan Bahasa inggris sudah pasti tak terelakkan.

Cara yang kedua adalah, dengan membuat kebijakan agar para guru Bahasa Inggris mengupayakan mengintegrasikan kopi ke dalam pelajaran Bahasa Inggris umum yang diajarkan di sekolah-sekolah. Ada beberapa tema pelajaran Bahasa Inggris yang dapat diintegrasikan dengan tema kopi.

Sebagai contoh, materi text ‘Procedure’ kelas XII yang dikaitkan dengan penggunaaan teknologi dapat diintegrasikan dengan ‘coffee hulling process’ atau coffee roasting process’.

Atau materi ‘iklan’ kelas XI (advertisement) dapat dikaitkan dengan bagaimana mempromosikan kopi Gayo dalam Bahasa Inggris sehingga diharapkan para siswa memiliki skill dan kemampuan menjelaskan tahapan proses kopi dan mempromosikan kopi mereka ke manca negara atau ketika ada pengunjung asing yang datang ke Bener Meriah.

Ditambah lagi dengan pesatnya penggunaan teknologi dan sosial media dimana para siswa secara mandiri dapat mempromosikan produk kopi mereka.

Kedua cara diatas sesuai dengan pendekatan ilmu bahasa (approach) yang disebut dengan CBI (Content-Based Language Instruction) yang secara garis besar terbagi menjadi ‘Content Driven’ dan ‘Language Driven’ (Tedick & Cammarata, 2012). Cara pertama dimana pelajaran muatan lokal diajarkan melalui media Bahasa inggris dapat dikembangkan sesuai dengan kaidah ‘Content Driven’.

Sedangkan cara kedua dimana pelajaran Bahasa Inggris Umum yang diajarkan di sekolah-sekolah kemudian diintegrasikan dengan topik yang berkaitan dengan kopi disebut dengan ‘Language Driven’. Pengembangan silabusnya nanti dapat diadaptasi dan disesuaikan dengan approach CBI (Content-Based Language Instruction).

Ada beberapa manfaat yang akan diperoleh siswa ketika salah satu dari dua cara diatas diterapkan. Pertama, para siswa akan memiliki ingatan atau memori yang lebih kuat akan pelajaran yang diajarkan karena pelajaran dikaitkan dengan pengalaman mereka sehari-hari yang tidak bisa lepas dari permasalahan kopi.

Sebagaimana yang disebutkan diatas jika kopi adalah sumber utama penghasilan masyarakat Gayo dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan budaya Gayo.

Mengintegrasikan Bahasa inggris dan kopi memiliki relevansi dan manfaat yang nyata terhadap kehidupan sehari-hari para siswa/i. Sebagai contoh, mereka akan memiliki skill untuk menjelaskan bagaimana kopi diproses dengan menggunakan Bahasa inggris dan mereka memilik kemampuan untuk promosi produk kopi mereka ketika ada turis asing datang.

Manfaat yang kedua adalah mereka memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk belajar karena mereka menyadari manfaat langsung dan nyata yang mereka peroleh dari proses pembelajaran.

Salah satu jenis motivasi yang melatari seseorang memiliki semangat belajar tinggi adalah extrinsic motivation. Extrinsic motivation dapat dikaitkan dengan berbagai reward yang akan diperoleh seperti manfaat belajar bahasa asing yang dikaitkan dengan peningkatan kapasitas diri yang berujung pada peningkatan perekonomian.

Dengan menyadari manfaat yang mereka peroleh berupa skill Bahasa yang dapat menopang bisnis kopi mereka, maka dapat dipastikan para siswa akan lebih termotivasi.
Manfaat ketiga adalah menopang ecotourism yang saat ini menjamur di dataran tinggi Gayo. Ecotourism merupakan kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan memberdayakan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat sekitar.

Sebagaimana kita ketahui saat ini marak dikembangkan berbagai spot wisata dimana kebun-kebun kopi yang disulap dan dikembangkan menjadi café sehingga para pengunjung dapat melihat langsung kopi dari kebunnya sambil menikmati berbagai hidangan makanan.

Selain itu objek-objek wisata barupun mulai bermunculan yang dapat menarik baik wisatawan lokal maupun asing. Maka penguasaan bahasa internasional akan memberikan nilai dan keuntungan lebih bagi perekonomian masyarakat.

Kenyataan bahwa bisnis kopi didataran tinggi gayo sedang mengalami kelesuan akibat menurunnya harga kopi, maka ada banyak faktor yang mempengaruhi. Pihak-pihak yang memiliki wewenang dan berkompeten mengurusi permasalahan ini harus segera mencari solusi.

Dari sektor pendidikanpun sudah selayaknya mencoba memberi kontribusi terhadap dunia pendidikan bagaimana agar proses pembelajaran dapat lebih praktikal dan dapat secara langsung dirasakan manfaatnya oleh siswa, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Diantara hal kecil tersebut adalah dengan mempertimbangkan untuk mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dengan kopi agar peserta didik nantinya memiliki skill tambahan untuk mempromosikan, menjelaskan dan bernegosiasi dengan pihak pembeli dari luar.

*Guru SMAN 1 Timang Gajah Kab. Bener Meriah, Alumni Flinders University, Australia

Comments

comments