Bidadari Rimba [4] : Sahabat Tua Ayah

oleh

Oleh : Salman Yoga S*

Gecik Kampung Arias, lelaki tegap dengan otot dan badan kekar, meski ia sebagai kepala kampung yang disegani, putra dari almarhum Peski Gecik Tue Arias yang sangat dihormati, kali ini ia tanpak bukan seperti kepala kampung yang punya kharisma sebagai pemimpin sejati.

Dengan lutut yang terus bergetar karena ketakutan ia lebih mirip sebagai buronan terpidana atas kasus pembunuhan yang tidak pernah ia lakukan.

Ketakutannya seperti kerbau yang terikat di bawah rerimbunan perdu bambu yang disambar petir, pucat kehitam-hitaman dengan degub jantung yang nyaris berhenti.

Meski demikian, ia sempat bertanya dan berpikir jauh ke belakang. Kemasa dimana ayahnya pernah mengamanahkan sesuatu yang hingga hari ini belum selesai ia fahami.

Satu amanah yang sebelumnya dianggap tidak begitu penting dibanding dengan amanah yang mengharuskan ia merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan, atau mengasuh kedua orang adik-adiknya yang masih kecil.

Belum lagi tanggungjawabnya lainnya yang cukup berat dalam usianya yang masih berusia 16 tahun.

Iapun tidak pernah bertanya kepada sang ibu atau para petua kampung lainnya tentang makna “sahabat tua” yang dimaksud almarhum ayahnya. Kalimat itu demikian berat baginya selama dua puluh tahunan lebih, hingga ibunya meninggal dunia dan kedua adik-adiknya menikah.

Ketiga makhluk kerdil yang berada di hadapan Gecik Kampung Arias itu juga terlihat diam dan tak melakukan gerakan apapun. Ketiganya seolah sama herannya dengan Gecik Kampung Arias, sama-sama berdiri kaku dengan pikiran masing-masing.

Sementara itu Gecik Kampung Arias dalam ketakutan dan gemetarnya terus berusaha berpikir dengan keras, mengingat-ingat amanah ayahnya dua puluh tahun silam di rumah panggung beratap rumbia.

Saat itu sang ayah menggenggam tangan sang anak dengan sangat erat. Telapak tangan sang ayah terasa sangat dingin dengan keriput kulit sepanjang siku hingga bahunya yang bergelombang.

Mata sang ayah membelalak sayu menatap langit-langit rumah, bibirnya yang mengeriput bergerak pelan berucap sepatah demi sepatah kata. Pada detik-detik terakhir inilah Gecik Kampung Arias mendengar ucapan yang terbata-bata.

“Anakku kau yang paling sulung, lanjutkan apa yang telah ayah telah lakukan yang kau anggap baik. Jangan pernah mengeluh dengan tanggungjawab, ringan dan lemah lembutlah tangan dalam merawat dan mengurus ibumu, sabar dan berbesar hatilah mendidik kedua adik-adikmu. Satu lagi. Sahabat tua ayah adalah juga sahabat tuamu juga.”

Kalimat amanat sang ayah yang membuat Gecik Kampung Arias berpikir keras sepanjang tahun adalah kalimat “Sahabat tua ayah adalah juga sahabat tuamu juga”.

“Ini sungguh sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan” gumamnya dalam hati.

Dari sejumlah pesan sang ayah sebahagiannya telah Gecik Kampung Arias lalui dengan lapang dada. Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang tak lama setelah kedua adik-adiknya melangkah ke pelaminan.

Penduduk kampung Arias pun kemudian mengamanahinya untuk melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai gecik, sehingga ia punya kesempatan yang cukup untuk berbuat baik lebih banyak.

Hanya “sahabat tua” yang tidak pernah menjadi pikirannya selama dua puluh tahunan lebih kini mencuat kembali di kepalanya.

* * *

Di depan tiga makhluk aneh yang berada di hadapan Gecik Kampung Arias ingatan atas dua kata itu muncul kembali. Ketakutan dan keheranannya terhadap makhluk asing itu berangsur memudar. Terlebih namanya disebut bukan sebagai kepala kampung Arias, tetapi sebagai lelaki dewasa putra Peski Gecik Tue Kampung Arias.

Pikiran dan ingatannya kembali pada amanah sang ayah. Dua kalimat yang selama ini menjadi teka-teki baginya perlahan terjawab dengan kehadiran makhluk-makhluk aneh itu di hadapannya.

“Dari mana makhluk ini tau namaku”, gumam Gecik Kampung Arias dalam hati.

“Bukankah nama yang disebut itu adalah nama pemberian ayahku saat masih kecil?”, tanya Gecik Kampung Arias dalam hati.

[] Bersambung……

Comments

comments