Raja Ampat : Surga Kecil di Ujung Timur Indonesia

oleh

Catatan Perjalanan : Muhammad Nasril, Lc. MA*

Penerbangan dari ujung barat Indonesia, Aceh menuju ujung timur Indonesia, Papua Barat terasa begitu melelahkan. Memakan waktu 7 jam di udara serta tambahan waktu saat transit di Jakarta, karena tidak ada direct flight (penerbangan langsung) dari Serambi Mekkah ke Papua Barat.

Setelah mendarat di Bandar Udara Domine Eduard Osok, Sorong, Rabu, 25 November 2020 pagi, saya menyempatkan diri untuk berkeliling Kota Sorong. Suasana kota di sana sudah menjelma layaknya kota-kota di daerah lain. Kami berada di sana untuk mengikuti kegiatan selama beberapa hari.

Papua Barat terkenal dengan destinasi wisata alam berskala internasional. Adalah Raja Ampat, salah satu wilayah kepulauan di Papua Barat yang juga sudah menjadi ikon provinsi ini. Rasanya tak sah ke Papua Barat, jika belum berkunjung ke Raja Ampat.

Raja Ampat merupakan wilayah kepulauan di Papua Barat. Raja Ampat terdiri dari gugusan pulau karang dan bebatuan.

Namun demikian, Raja Ampat memiliki empat pulau utama yang paling besar, yaitu, Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Salawati, dan Pulau Misool.

Empat pulau besar inilah yang menjadi titik awal penyebaran seluruh penduduk Raja Ampat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Sehari menjelang pulang ke Aceh (27/11) bersama kawan-kawan dari beberapa provinsi lain, kami menuju ke pulau idaman “Raja Ampat. Konon, Raja Ampat  disebut surga kecil yang jatuh ke bumi. Mungkin ini hanya gambaran akan keindahan pulau tersebut.

Untuk tiba di sana, khususnya di bentang alam Kars, Pulau Painemo, kami menempuh waktu lebih kurang dua  jam menggunakan speed boat dari pelabuhan Sorong.

Painemo merupakan salah satu primadona destinasi wisata di sana, selain  Wayag dan Kabui. Kawasan Karst berupa gugusan pulau karang yang membentang di lautan.

Kita harus melewati ratusan anak tangga untuk mencapai puncak, tapi kita bisa menaikinya dengan santai dan juga bisa istirahat sejenak sembari menikmati alam di beberapa tempat yang sudah disediakan. Kita bisa menikmati hutan bakau dan kicauan burung-burung, sehingga tak terasa saat mendaki.

Saat tiba di puncak Painemo,

Pemandangan Pulau-Pulau dari puncak Painemo. (Dok. Nasril)

rasa lelah hilang dan tergantikan dengan pemandangan yang begitu memukau, terlihat pulau-pulau terhampar di antara laut biru kehijauan Raja Ampat, ditambah dengan langit cerah menyajikan pemandangan yang sempurna. Semua yang tiba di sana akan memuji dan kagum keindahan ciptaan Allah itu.

Selain Painemo, kami ke Desa Sawinggrai Raja Ampat, di sana kita bisa menyaksikan ikan-ikan di dalam air yang jernih, memberi makan ikan-ikan  dari  pakan yang dibuat oleh penduduk setempat dari terigu. Menjadi kenikmatan tersendiri saat bermain dengan ikan seraya menikmati keindahan panorama kawasan tersebut.

Terakhir, kami menginjakkan kaki ke Pasir Timbul yang letaknya di tengah-tengah laut. Ini suatu keajaiban, pasir putihnya halus airnya jernih, akan rugi rasanya jika tidak menikmati kesempatan ini.

Subhanallah walhamdulillah tsumma Alhamdulillah, Alhamdulillah Wallahu Akbar. Mungkin itulah ungkapan yang tepat menggambarkan keindahan Raja Ampat. Ia menyimpan sejuta pesona keindahan alam bawah lautnya dan panorama atas permukaan yang menakjubkan. Sungguh keindahan Raja Ampat, Papua Barat menakjubkan.

Pemandangan Pasir Timbul di Tengah Laut. (Dok. Nasril)

Perjalanan dua jam ke sana, sungguh tak membosankan, pemandangan keindahan laut biru membuat mata susah terpejam, hanya tahmid dan tasbih melihat kekuasaan Allah.

Alhamdulillah wa Syukru lillah, akhirnya saya bisa tiba di Tanoh Papua, troh teuka u Raja Ampat, terimakasih banyak kawan kawan yang telah mensupport, membantu, mendoakan dan memfasilitasi suksesnya perjalanan saya kali ini…. #WonderfulIndonesia.

*Warga Aceh

Comments

comments