Hari Ini 104 Tahun Lalu, Aman Njerang Pukul Mundur Marsose Belanda di Serule

oleh

Oleh : Zulfikar Ahmad Aman Dio*

Akhir Oktober 1922, diseputar Buntul Kubu Takengon terdengar sorak-sorai Marechaussee (Mersose). Kegembiraan itu terdengar lamat-lamat di kompleks perumahan perwira disebelah Timur Buntul Kubu. Letnan Jordan baru selesai mandi saat beberapa Marsose datang menjemput.

Senyum kemenangan terlihat diwajahnya ketika bercermin menggenakan pakaian komandan Marsose. Sebelum keluar dari kamarnya, Jordans sempat melirik pedang Aman Njerang yang tergelatak diatas tempat tidurnya.

Jordans baru kembali memimpin sekitar 100 orang (2 brigade) marsose. Mereka kermbali dari Serbejadi melalui Serule Bintang. Sekitar 2 bulan lalu Jordans mendapat perintah untuk menangkap kelompok Aman Njerang yang telah merugikan Belanda cukup besar.

Bivak Jamat dan Samar Kilang sudah beberapa kali “dikosongkan” oleh Aman Njerang, produksi getah pinus dari Bintang dan sekitarnya sering terganggu, sudah 20 tahun persoalan Aman Njerang tidak dapat diselesaikan, padahal sudah puluhan Kapten dan Letnan terbaik marsose ditugaskan untuk menangkap Aman Njerang dengan hasil nihil.

Sekitar 30 tahun yang lalu, Aman Njerang masih seorang pemuda belia yang pendiam dan gesit. Salah satu kegemarannya adalah menemani sang Ayahanda menjual hasil hutan dan ternak ke Lokop Serbejadi, Kuta Binje, Perlak, Langsa atau Meulaboh.

Sepanjang perjalanan Ayahanda mengajari berbagai hal, terutama ilmu-ilmu agama. Perjalan yang ditempuh berhari-hari melalui hutan belantara terkadang sambil menahan lapar bukanlah penjalanan yang mudah bagi Aman Njerang.

Alangkah kecewanya beliau setelah menjual barang bawaannya mereka harus membayar pajak kepada Belanda yang berada dipasar-pasar tujuan. Tidak adil rasanya cucuran keringat selama berminggu-minggu berjalan sambil membawa beban barang dagangan kemudian dipotong pajak. Rasa tidak suka Aman Njerang makin lama makin memuncak.

Terdengar kabar Belanda mengejar Sultan Aceh yang berlindung di Tanoh Gayo. Pasukan Van Daalen berhasil dipukul mundur oleh Cik Bebesen dan Reje Bukit. Tidak lama kemudian, Van Daalen dengan pasukan yang lebih besar terlihat mendarat di Lhoksuemawe, dari kabar yang didengar pasukan ini akan melumpuhkan Gayo.

Pembataian urang Gayo besar-besaran oleh Van Daalen mengobarkan semangat jihat Aman Njerang. Beliau segera mengumpulkan beberapa rekannya, termasuk dua orang Aceh dari Panton Labu untuk mengusir Belanda dari Tanoh Gayo. Sejak 1902 Aman Njerang mengembara di hutan belantara Gayo, menyerang pos-pos militer Belanda.

Jalur perdagangan Gayo ke Meulaboh, Langsa dan Tamiang adalah daerah yang sering “dibersihkan” oleh Aman Njerang, agar urang Gayo dapat berdagang dengan nyaman terbebas dari pungutan atau rampasan barang dagangan seperti hewan ternak, daging rusa, kambing hutan atau kijang.Aman Njerang terus berkelana di hutan belantara Gayo melindungi jalur-jalur perdagangan.

Jalan Gayo yang menghubungkan Takengon – Bireuen dibangun tanpa membayar upah pekerjanya. Mereka yang ditangkap Belanda terkadang tanpa alasan jelas dikirim ketitik-titik pembangunan jalan, ratusan orang sudah meninggal akibat kelelahan dan malaria. Setelah jalan selesai dibangun, kenderaan militer Balanda mulai mengangkut alat dan mesin-mesin terpentin. Penderesan Getah pinuspun dimulai.

Getah pinus yang dikumpul disekitar Bintang (pante Menye), Kalang, One-one, Kelitu dan beberapa tempat lain setiap hari diangkut dengan perahu menuju kampung Bom. Sedangkan dari daerah Isaq dan sekitarnya diangkut dengan truk menuju ke Lampahan dan Baliq.

Para penderes getah disekitar Linge dan Bintang sering kali diperlakukan tidak adil oleh Belanda, hal ini memicu kemarahan Aman Njerang. Akhir Juli 1916 Aman Njerang mengirim Aman Rasum menjumpai Penghulu Mungkur untuk membicarakan pengusiran Belanda dari Tanoh Gayo.

Aman Rasum dan Penghulu Mungkur sepakat untuk menyerang bivak Jamat, sambil kembali ke Samar Kilang, Aman Rasum menjumpai seorang ulama perempuan di Weh Dusun Jamat memberitahukan rencana penyerangan bivak Jamat. Persiapan penyerangan dilaksanakan di pasentren kecil Weh Dusun.

Pasukan Aman Njerang (7 orang), Penghulu Mungkur (9 orang) dan bergabung pula pasukan ulama perempuan dari Weh dusun (7 orang) bergerak diam-diam menuju Weh Jamat. Awal Agustus 1916 Bivak Jamat berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti.

Informasi lumpuhnya bivak Jamat terdengar di Takengon, Belanda segera mengirim pasukan menuju Jamat. Pada Tanggal 9 – 10 Agustus 1916, selama dua hari dua malam di Serule pasukan marsose Belanda bersenjata lengkap di pukul mundur oleh pasukan Aman Njerang dan kawan-kawan.

Hari ini, 104 tahun lalu ada peristiwa hebat di Serule, 9 Agustus 2020.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.