Melupakan Sejarah, Resep Liverpool Menjadi Juara

oleh
AP Photo/Francisco Seco Liverpool merayakan juara Liga Champions 2018/2019.

Catatan : Win Wan Nur*

Hari ini, dalam suasana suntuknya hidup di tengah pandemic Corona. Dunia, atau setidaknya para pecinta sepakbola hiruk pikuk dengan berita yang datang dari liga Inggris. Liverpool JUARA!

Kisah perjalanan Liverpool menjadi juara tahun ini bisa dibilang adalah kisah paling epik dan dramatis dalam dunia sepakbola di abad ke-21. Bayangkan, Liverpool baru bisa kembali menjadi juara kasta tertinggi liga Inggris setelah menunggu selama 30 tahun. Ya, 30 tahun bukanlah waktu yang pendek. Hampir semua anggota squad Liverpool yang menjadi juara tahun ini, belum lahir ketika tim ini menjadi juara untuk terakhir kalinya pada tahun 1990 silam. Ketika kasta tertinggi liga Inggris masih disebut Divisi I (First Division)

Sabtu, 28 April 1990, ketika Liverpool dengan pemain-pemain seperti Ian Rush, John Barnes, Peter Beardsley dan Bruce Grobelaar, kiper legendaris asal Zimbabwe memastikan gelar juara Liga Inggris untuk ke 18 kalinya setelah menang 2-1 atas QPR dan Aston Villa, pesaing terdekatnya ditahan imbang 3-3 oleh Norwich City. Jordan Henderson, kapten Liverpool saat ini, masih berada dalam kandungan.

Sebenarnya penantian 30 tahun yang dialami Liverpool bukanlah yang terlama dalam sejarah liga. Manchester City, sebelum kembali juara pada tahun 2012 di bawah kepelatihan Roberto Mancini, terakhir kalinya meraih gelar juara pada tahun 1968. Artinya mereka harus menunggu selama 44 tahun setelah mereka menjuarai kasta tertinggi Liga Inggris untuk pertama kalinya pada tahun 1968 yang itupun mereka dapat setelah menunggu 31 tahun dari tahun 1937 ketika City menjuarai Liga Inggris untuk pertama kalinya.

Tapi penantian City yang lebih lama dari Liverpool tak terlihat dramatis dan istimewa, karena City, sebelum dibeli oleh Thaksin Shinawatra pada pertengahan tahun 2007 dan kemudian dijual kembali kepada Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan asal Abu Dhabi, akibat hartanya dibekukan karena tuduhan korupsi, sejatinya adalah klub semenjana.

Sebelum kembali menjadi juara pada tahun 2012, sepanjang sejarah Liga Inggris Manchester City, cukup terdengar suaranya cuma dalam kurun waktu 1965 -1977 saja. Diawali dari promosinya mereka ke kasta tertinggi setelah menjuarai divisi II pada tahun 1965 dan menjadi juara divisi I, setelah unggul selisih gol atas Manchester United. Sampai tahun 1977 City masih sanggup bersaing di papan atas dan tengah, serta beberapa kali mewakili Inggris di kompetisi eropa.

Setelah itu, mereka lebih banyak bermain di kasta kedua, sesekali naik ke Divisi I untuk kemudian turun kembali ke kasta kedua. Bahkan pada tahun 1998, City sempat terdampar di kasta ketiga. Pendeknya, City bukanlah klub dengan sejarah istimewa.

Liverpool adalah tim yang berbeda, sebelum era Premier League yang ditandai dengan kejayaan Manchester United. Liverpool adalah klub terbesar Inggris. Bisa dikatakan, merekalah representasi Inggris di Eropa.

Tahun 1990, ketika Liverpool meraih gelar juara ke-18 mereka. Pesaing terdekat mereka di Liga Inggris dalam jumlah capaian gelar juara adalah Arsenal, dengan 9 piala. Hanya separuh dari jumlah gelar juara milik Liverpool. Manchester United, tim pertama yang meraih gelar juara kasta tertinggi Liga Inggris saat formatnya diubah menjadi Premier League dan kemudian mendominasi total liga ini sampai 12 musim berikutnya. Saat itu baru mengoleksi 7 gelar juara.

Karena itulah, ketika di tahun-tahun awal bergulirnya Liga Primer United yang begitu dominan di liga bertandang ke Anfield dengan jumawa. Suporter Liverpool membalasnya dengan spanduk sindiran, kalian baru bisa sombong di sini kalau sudah punya 20 Piala. Yang mana kita ketahui bersama, akhirnya benar-benar dicapai oleh United dan Liverpool masih tetap harus puas dengan koleksi 18 gelarnya.

Tahun 1990, Liverpool pun adalah tim Liga Inggris terbanyak memenangkan gelar Piala Champions Eropa. Saat itu mereka sudah mengoleksi 4 gelar juara. Tim Inggris lain yang jumlah koleksi Pialanya paling dekat dengan mereka adalah Nottingham Forest dengan dua piala. Selebihnya, hanya ada dua Tim Inggris lain, Manchester United dan Aston Villa yang masing-masing punya satu piala.

Roda nasib Liverpool mulai mengarah ke bawah setelah mereka menjuarai Liga Inggris pada tahun 1990 itu. Sejak itu Liverpool mengalami penurunan drastis dalam hal prestasi. Diawali dengan keputusan Dalglish mengundurkan diri dari kursi kepelatihan dengan alasan stress pada februari 1991. Tahun itu Liverpool gagal mempertahankan gelar juaranya, setelah dipecundangi oleh Arsenal.

Di tahun berikutnya, Ketika tim muda Leeds United yang dikapteni Cantona menjadi juara. Liverpool malah mencatatkan capaian terpuruknya. Tahun ini, Liverpool finish di urutan ke-6. Ini adalah pertama kalinya sejak tahun 1981, mereka finish di luar dua besar.

Musim berikutnya, 1992/1993 Liga berubah format menjadi Premier League. Manchester United, yang finish kedua pada musim sebelumnya, membeli Eric Cantona jantung permainan yang membawa Leeds juara. Dan sejarah kemudian mencatat, keputusan ini menjadi tonggak yang menandai dominasi total Manchester United di era Premier League.

Liverpool, setelah melakukan berbagai perbaikan, musim ini finish di peringkat ke-4. Ini adalah capaian terbaik mereka sejak kepergian Dalglish. Tapi seterusnya, meski berada di papan atas dan diperkuat pemain-pemain yang cukup bagus seperti Steve Mc Manaman, Paul Ince, Jamie Redknapp, pemain yang menjadi idola kaum hawa sebelum kemunculan David Beckham, Robbie Fowler sampai ke era Michael Owen dan Steven Gerrard. Squad Liverpool seolah tak pernah benar-benar cukup kuat untuk menjadi juara Liga Inggris.

Ketika Liga Inggris mulai menarik di mata para investor. Situasi Liverpool semakin sulit. Kalau sebelumnya, bisa dikatakan mereka cukup berkonsentrasi pada Manchester United dan Arsenal. Ketika Abramovic membeli Chelsea, penghalang serius buat Liverpool menjadi juara bertambah satu lagi.

Belum selesai urusan dengan Chelsea, datang lagi Manchester City. Ini membuat, bahkan posisi ke-4, posisi terakhir untuk bertanding di Liga Champions yang selama ini seperti sudah paten milik empat klub ini pun menjadi lebih sulit untuk diraih. Apalagi dari klub empat besar ini, bisa dikatakan Liverpool lah yang terlemah.

Memang, Liverpool sempat mengguncang dengan treble yang aneh pada tahun 2001. Mereka memenangi tiga gelar kompetisi, tapi semuanya bukan kompetisi kasta tertinggi. Di dalam negeri mereka memenangi Piala Liga dan Piala FA yang keduanya gengsinya di bawah juara Liga. Di eropa mereka memenangi piala UEFA.

Musim berikutnya, Liverpool hanya mampu mempertahankan Piala Liga dan finish di urutan keempat Liga. Gerard Houllier, manajer asal Prancis yang membawa Liverpool treble setahun sebelumnya, digantikan Rafael Benitez, manajer asal Spanyol yang sebelumnya sukses bersama Valencia. Bersamaan dengan ditunjuknya Mourinho, yang memenangi Liga Champions tahun itu bersama Porto untuk mengomandoi Chelsea.

Bersama Benitez, Liverpool membuat kejutan besar di Eropa. Mereka menjuarai Liga Champions, di final yang diselenggarakan di Istanbul, mengalahkan AC Milan, tim Italia dengan DNA Liga Champions, setelah sebelumnya mereka tertinggal 0 – 3 di babak pertama. Tapi pencapaian di Liga Champions ini tidak sejalan dengan pencapaian mereka di kompetisi domestik. Di Liga, Liverpool hanya mampu finish di urutan ke-5 dan nyaris tidak lolos ke kompetisi Liga Champions tahun berikutnya kalau saja UEFA tidak membuat kebijakan khusus.

Tahun 2008, ketika Manchester United sudah mengoleksi 17 gelar juara. Liverpool tampak menjanjikan. Di awal musim mereka seperti akan mampu menahan MU untuk menyamai pencapaian jumlah gelar mereka. Liverpool memenangi delapan dari 10 pertandingan pertama mereka.

MU mereka kalahkan di dua pertemuan, termasuk kemenangan 4 – 1 di Old Trafford. Tapi, meski sepanjang musim ini Liverpool hanya kalah dua kali, 11 kali hasil seri, membuat mereka harus puas berada di urutan kedua di belakang MU yang akhirnya musim itu menyamai perolehan gelar juara mereka.

Sir Alex Ferguson, pelatih MU saat itu di akhir musim menyindir Liverpool, dengan mengatakan mereka tidak akan pernah lagi juara. Tahun ini adalah kesempatan terbaik mereka untuk juara, kesempatan langka yang tidak akan bisa mereka ulangi lagi, tak dapat mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

2014, kesempatan itu datang kembali dengan peluang yang nyaris begitu besar, tapi sejarah kemudian mencatat gelar yang sudah di depan mata pada musim ini melayang dengan cara yang paling menyakitkan yang mungkin bisa terjadi. Musim ini berjalan begitu seru, kejar-kejaran poin terjadi antara Liverpool, Manchester City dan Chelsea.

Manchester City yang dikomandoi Manuel Pellegrini jelas menjadi favorit. Tapi, Liverpool di bawah kendali Brendan Rodgers juga memiliki squad yang cukup meyakinkan. Dengan tim yang diisi Philippe Coutinho, Luis Suarez, Raheem Sterling dan Steven Gerrard. Liverpool melaju kencang dari awal musim sampai 3 pertandingan terakhir liga.

Ketika pertandingan menyisakan empat laga, Liverpool yang memimpin klasemen, menjamu Manchester City, penghuni peringkat ketiga yang masih menyimpan banyak pertandingan tunda. Dalam sebuah pertandingan yang dramatis, Liverpool berhasil mengungguli City dengan skor ketat 3 – 2 dan Liverpool pun mantap di puncak dengan keunggulan 5 poin atas City. Dalam hitung-hitungan matematika, seandainya kedua tim memenangkan seluruh laga tersisa, maka Liverpool akan tetap unggul dengan selisih 3 angka.

Begitu emosional dengan kemenangan ini, dalam pidato kemenangan di hadapan rekan-rekannya. “Demi apapun, tahun ini, kita tidak akan terpeleset lagi” Kata Gerrard menyemangati dengan nada berapi-api.

Pertandingan selanjutnya, dilewati Liverpool dengan baik, dengan kemenangan melawan Norwich City. Tiga pertandingan lagi, mereka akan mengakhiri kutukan juara.

Mereka berhadapan dengan Chelsea, penghuni urutan kedua yang kembali ditangani Mourinho. Semua berjalan baik di pertandingan ini, seandainya mereka seri pun dan Liverpool memenangkan dua laga sisa melawan tim lemah, West Ham dan Crystal Palace mereka akan tetap menjadi juara karena mereka akan tetap unggul dengan selisih satu angka, meski Manchester City memenangkan seluruh laga sisa mereka.

Tapi, apa lacur saat Chelsea tak mampu memberikan tekanan berarti pada Liverpool. Liverpool memainkan bola di lini pertahanan. Coutinho memberikan bola kepada Mamadou Sakho, Sakho mengopernya ke Gerrard, tapi tak ada angin tak ada hujan.

Gerrard malah terpeleset sebelum bola sodoran Sakho mampir di kakinya. Demba Ba, penyerang Chelsea yang tak pernah memberi ancaman berarti seperti mendapat durian runtuh. Segera menyambar bola gratis itu dan berlari kencang ke arah gawang dan berhadapan langsung dengan Mignolet yang menjadi benteng terakhir Liverpool.

Gerrard yang mengerahkan seluruh upaya terbaiknya buat mencegah Demba Ba mencetak gol, gagal menghambat striker asal Senegal ini untuk menceploskan bola ke gawang. Seluruh Anfield hening.

Sepanjang sisa pertandingan, Liverpool mengurung pertahanan Chelsea. Tapi Mourinho yang terkenal dengan pertahanan grendelnya, tak memberi sedikitpun kesempatan. Malah di injury time babak kedua, Chelsea melengkapi penderitaan Liverpool dengan lesakan gol kedua dari Willian.

Gelar juara yang sudah di depan mata, tiba-tiba menjadi kabur. Sekarang, Liverpool harus bergantung pada Manchester City. Karena dengan situasi ini, meskipun Liverpool mampu memenangkan seluruh laga sisa, poin mereka akan sama dengan Manchester City yang unggul jauh dalam hal selisih gol.

Gerrard yang seusai pertandingan melawan City dengan berapi-api mengatakan “Demi apapun kita tak akan terpeleset lagi” mengacu pada kekalahan 0 – 2 melawan Middlesbrough pada tahun 2008 yang menjadi titik balik kegagalan mereka menjuarai liga tahun itu, malah TERPELESET dalam pengertian yang sebenarnya.

Kekalahan melawan Chelsea membuat mereka goyang. Di pertandingan berikutnya, di kandang Crystal Palace, keunggulan 3 – 0 di babak pertama gagal mereka pertahankan setelah Crystal Palace mencetak 3 gol dalam waktu 15 menit untuk memaksakan hasil seri 3 – 3. Pada waktu bersamaan, City menang atas West Ham dan mengkudeta Liverpool dari puncak, dengan keunggulan 3 angka. Pada pertandingan terakhir, Liverpool dan City sama-sama menang dan City pun kembali juara.

Kegagalan dengan cara yang sangat menyakitkan ini mempengaruhi mental Liverpool di musim berikutnya. Mereka tampil buruk, sehingga berujung dengan dipecatnya Rodgers dan Gerrard juga mengakhiri masa baktinya dan pindah ke LA Galaxy.

Dan dimulailah Era Juergen Klopp

Dalam wawancara dengan Sky Sport usai Liverpool dipastikan juara Liga Inggris tahun ini. Jordan Henderson, kapten mereka mengatakan “Dengan segala hormat pada semua manajer sebelumnya, tapi Klopp lah yang mengubah segalanya”

Era Klopp dimulai pada 8 Oktober 2015 ketika dia yang baru meninggalkan Dortmund menyepakati kontrak menangani Liverpool selama tiga musim. Dalam konferensi pers pertamanya, ketika ditanya wartawan, kapan dia bisa memberikan Trofi pada Liverpool. Dengan bercanda dia mengatakan, pada tahun keempat dia melatih. Kemudian dengan bercanda juga, dia menyebut dirinya “The Normal One” sebagai parodi atas “The Special One” gelar yang diberikan Mourinho untuk dirinya sendiri.

Seperti kita telah ketahui bersama, era Klopp tidaklah berjalan mulus dari awalnya. Liverpool di bawah Klopp berevolusi secara perlahan ke arah yang lebih baik. Lini per lini dibenahi Klopp secara bertahap. Mulai dari lini serang. Saat lini serang membaik, lini belakang keropos, sampai-sampai sempat ada meme yang beredar luas, yang menggambarkan Liverpool dengan gambar mobil Ferrari di bagian depan dan mobil rongsokan di bagian belakang.

Keseimbangan Liverpool baru didapat justru ketika menjual Coutinho, pemain terbaiknya ke Barcelona. Dengan uang penjualan Coutinho, Liverpool membeli Virgil van Dijk dan Allison, yang membuat sisi pertahanan yang merupakan titik lemah mereka menjadi kekuatan. Sisi penjaga gawang yang selama ini menjadi masalah Liverpool benar-benar berhasil ditutupi penjaga gawang asal Brazil ini.

Sebegitu puasnya Klopp dengan Alisson, sampai-sampai ketika Alisson berhasil membuat penyelamatan gemilang di menit terakhir saat melawan Napoli, penyelamatan yang akhirnya membawa mereka ke final Liga Champions dan menjadi juara Klopp sempat berujar “Kalau sebelumnya saya tahu dia sebegini bagusnya, saya akan membayarnya dua kali lipat dari harganya”

Di bawah Klopp prestasi Liverpool terus membaik, mereka rutin masuk zona liga champions dan puncaknya menjadi juara tahun 2019 setelah mengandaskan perlawanan Tottenham Hotspur di final.

Tapi di Liga, nasib Liverpool tak kunjung membaik, mereka benar-benar seperti mendapat kutukan. Tahun lalu, perjalanan Liverpool di Liga benar-benar luar biasa. Sepanjang musim, mereka berhasil mengumpulkan 97 poin dan hanya mengalami satu kekalahan saja. Tapi sayangnya, poin sebanyak itupun tak cukup untuk mereka buat mengklaim juara, sebab lagi-lagi Manchester City, mengungguli mereka dengan selisih 1 angka. Bandingkan dengan Leicester City yang menjadi juara di tahun 2016 “hanya” dengan 81 poin saja.

Biasanya, setelah musim dengan kekalahan mengecewakan ini, penampilan Liverpool akan hancur total pada tahun berikutnya. Tapi ajaibnya, tahun ini berbeda. Setelah kejar-kejaran yang melelahkan tanpa hasil melawan City di tahun sebelumnya. Ketika musim berganti, Liverpool masih tetap melaju kencang sebagaimana yang mereka lakukan di tahun sebelumnya.

Tidak seperti biasanya, dimana pemenang yang termotivasi, tahun ini malah City yang keteteran mengimbangi konsistensi Liverpool. Hasilnya telah kita ketahui bersama, Liverpool akhirnya berhasil meraih juara dengan ketika liga masih meninggalkan 7 pertandingan sisa. Luar biasa.

Bagaimana ini bisa terjadi?

George Santayana, filsuf kelahiran Spanyol yang besar di Amerika mengatakan “Orang yang melupakan sejarah, terpaksa harus mengulanginya”

Selama ini, kalimat George Santayana ini dimaknai dengan sudut pandang negatif. Tapi Klopp di Liverpool membuat kebalikannya.

Saat Klopp datang ke Liverpool, dia paham belaka. Klub ini terkenal dengan nostalgianya. Segala kegagalan yang dialami Liverpool di masa kini, ditutupi dengan nostalgia akan kebesaran masa lalu dan mereka pun larut di dalam keindahan masa lalu itu. Klopp melihat ini adalah racun. Tidak bisa dibiarkan. Maka, dengan caranya, Klopp mengubah mentalitas ini.

Saat Liverpool di bawah kendalinya, di pertandingan pertama di bawah kepelatihannya saat melawan Norwich City, dia menolak ritual parade Piala Champions yang mereka menangkan yang biasanya dilakukan sebelum Kick-off pertama di bawah pelatih baru. Dia juga melarang penonton menyanyikan namanya, sebelum mereka benar-benar memenangkan pertandingan.

Ketika mereka berhasil menahan seri West Brom di kandang, dia merayakan keberhasilan itu sampai-sampai orang menyebutnya idiot. Tapi kenapa dia melakukannya? Klopp melakukannya karena, hasil seri itu diperoleh setelah mereka tertinggal dan anak asuhnya terus berusaha mengejar.

Dia ingin menunjukkan pada para pemainnya dan juga penonton, kalau sebelum peluit berbunyi, mereka belum kalah. Alhasil, setelah kejadian itu, sampai sekarang Liverpool berhasil membalikkan keadaan di 19 pertandingan setelah sebelumnya tertinggal.

Dengan melupakan sejarah kebesaran masa lalu maupun kegagalan yang menyakitkan dan hanya fokus pada kerja keras. Akhirnya, Liverpool pun berhasil mengakhiri kutukan.

Walhasil, lirik lagu “You’ll Never Walk Alone” yang menjadi Anthem mereka pun menjadi kenyataan.

When you walk through a storm
Hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of a storm
There’s a golden sky
And the sweet silver song of a lark

Di ujung 30 tahun badai, Liverpool akhirnya tiba di langit keemasan. Bahkan Badai CORONA pun tak mampu menghentikan mereka.

Akhirul kalam, semoga kemenangan Liverpool ini bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita atau siapapun yang selalu larut dalam keagungan sejarah masa lalunya, yang selalu menjadikan nostalgia sebagai kompensasi atas keterpurukan nyata terjadi di masa kini.

*Liverpudlian

Comments

comments