Selamat Jalan Sahabatku Prihandoyo

oleh

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*

Pulang dari kantor siang menjelang sore ini, tetiba mendapat kabar lewat akun media sosial, seorang sahabat, Prihandoyo telah berpulang ke Rahmatullah hari Jum’at, 12 Juni 2020 kemarin. Kameramen senior di SCTV kelahiran Jakarta 12 Desember 1967 ini kembali ke pangkuan Sang Khalik dalam usia 53 Tahun.

Sebagai sahabat yang pernah mengenalnya, tentu aku ikut berduka dan merasa kehilangan sosok peramah dan suka bercanda ini, yang telah memperkenalkan saya pada ‘dunia’ yang tidak pernah saya duga sebelumnya..

Perkenalan saya dengan Prihandoyo terjadi tanpa sengaja di tahun 2015 yang lalu, waktu itu dia menelpon saya, mengatakan akan mengangkat salah satu tulisan saya ke layar kaca SCTV. Dia mendapatkan nomor selulerku dari Pemimpin Redaksi LintasGAYO.co waktu itu, Khalisuddin (sekarang Camat Syiah Utama, Bener Meriah).

Awalnya saya mengira itu hanya candaan saja, karena saya merasa tidak mungkin tulisanku diangkat ke layar kaca.. Tapi ternyata itu benaran terjadi, hanya seminggu berselang setelah dia menelpon saya, dia sudah muncul di Takengon bersama M. Nasir, Reporter SCTV Lhokseumawe.

Malamnya kami langsung bertemu sekaligus berkenalan langsung di sebuah kafe, beberapa teman ikut bergabung ngobrol bersama kru SCTV ini seperti Pak Muhammad Syukri, Masna Manurung, Khalisuddin, Darmawan Masri dan penyuluh pertanian Edi Wahyuni, sosok yang akan diangkat lewat tayangan Liputan 6 Siang ini.

Awalnya aku mengangkat sosok Edi Wahyuni yang dengan kreativitasnya mampu ‘menyulap’ limbah buah-buahan menjadi pupuk organik cair melalui tulisan di beberapa media. Tidak dinyana, ternyata tulisanku itu menarik perhatian broadcast nasional sekelas SCTV, dan itulah awal perkenalanku dengan Prihandoyo.

Usai perbincangan malam itu, paginya dengan mengambil setting di kawasan pertanian Pedemun di pinggiran Danau Laut Tawar, saya mulai mendampingi Prihandoyo dan Nasir untuk melakukan syuting dibantu oleh teman-teman dari BPP Lut Tawar. Selesai syuting pertama, kemudian kami sempat makan bersama di lesehan ikan bakar di One-one sebelum melanjutkan syuting di komplek BPP Bies.

Hari kedua, syuting dilanjutkan di beberapa lokasi, mulai dari rumah Edi Wahyuni, kemudian ke pasar Paya Ilang dan kembali ke Pedemun. Cukup melelahkan memang, tapi aku melihat kameramen SCTV ini bekerja sangat gesit dan profesional, nyaris tidak ada adegan yang harus diulang.

Cukup puas Prihandoyo dengan hasil syuting dua hari di seputaran Takengon itu, dia menyampaikan rasa terima kasih kepada saya yang sudah membantun mengarahkan para pihak yang terlibat dalam syuting untuk tayang ‘Sosok Minggu Ini’ dalam program Liputan 6 Siang SCTV.

Tayangan itu kemudian benar-benar tampil di layar kaca SCTV pada tanggal 18 November 2015, sesuatu yang tidak saya duga, Prihandoyo telah ‘menyeret’ tulisan saya ke ranah broadcast nasional, tentu kenangan indah yang tidak terlupakan.

Lewat tayangan itu pula sosok penyuluh pertanian Edi Wahyuni dan para penyuluh pertanian lainnya di kabupaten Aceh Tengah kemudaian dikenal di kancah nasional melalui layar kaca.

Usai menyelesaikan syuting, saya sempat mengantar Prihandoryo kembali ke hotel dan keesokan harinya melanjutkan syuting ke daerah Pining, Gayo Lues untuk mengangkat sosok Abu Kari alias Aman Jarum “Harimau Pining” penyelamat hutan di Gayo Lues.

Dan itulah pertemuan terakhir saya dengan Prihandoyo, meski setelah itu kami masih berkomunikasi lewat telepon dan media sosial. Sempat beberapa kali saya mengirimkan bubuk kopi arabika Gayo untuknya.

Dan hari ini saya mendengar kabar duka itu, Prihandoyo Bin K. Suhari, telah meninggalkan kita untuk selamnya. Sebagai sahabat, saya hanya bisa mengiringi kepergiannya dengan seuantai do’a, semoga semua dosanya diampuni dan seluruh kebaikanya diterima sebagai amal disisi Allah SWT.

Selamat jalan sahabat, semoga Allah menempatkanmu di tempat mulia disisiNya. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.