Bencana Alam dalam Novel Hujan

oleh

“Manusia mungkin saja merasa berkuasa dan spesies paling unggul di atas muka bumi, tapi manusia sebenarnya dalam posisi sangat lemah saat berhadapan dengan alam.”

Negeri Hujan di atas awan dan Kuta Raja di pesisir baru saja dilanda bencana alam dengan kekuatan air, tentang bencana alam ini teringat pada perkataan salah seorang Profesor dalam novel ‘Hujan’ karya novelis Tere Liye. Novel ini memang bercerita tentang persahabatan, cinta, melupakan, perpisahan dan tentang hujan. Namun, peristiwa dalam novel ini berkenaan dengan bencana alam.

Pasca bencana alam terjadi, maka Profesor tersebut mengatakan bahwasannya manusia sejatinya sama seperti virus, berkembang biak cepat menyedot habis, kemudian tidak ada lagi yang tersisa. Manusia rakus sekali, maka seperti virus, hanya obat paling keras yang bisa menghentikannya.

Obat paling keras tersebut bukan perang atau epidemi penyakit, itu tidak bisa menghentikannya kata Profesor karena ketika wabah penyakit mematikan muncul dan puluhan perang berlalu, manusia justru tumbuh berlipat ganda. Jadi, apa obat paling keras? Obat paling keras adalah bencana alam.

Tere Liye menambahkan penjelasannya dalam novel ini menyebutkan bahwa manusia mungkin saja merasa berkuasa dan spesies paling unggul di atas muka bumi, tapi manusia sebenarnya dalam posisi sangat lemah saat berhadapan dengan alam.

Cerita novel ini terjadi pada tahun 2042 ketika keadaan dunia sudah super canggih dan mewah dengan kemajuan tekhnologinya, walaupun kecanggihan tekhnologi telah diraih manusia, tidak bisa lari dari yang namanya bencana alam seperti gunung meletus, banjir, dan perubahan iklim.

Keberadaan tekhnologi menyebabkan segala aktivitas banyak diperankan oleh robot, ketika bencana alam terjadi, tenaga relawan pun sangat dibutuhkan, yang mana definisi seorang relawan itu sendiri adalah siap berkorban demi kepentingan orang lain dan siap mengutamakan keselamatan orang banyak.

Ada yang menggelitik hati dalam kisah novel ini yaitu dalam keadaan bencana pun masih saja mementingkan kepentingan politik. Para pejabat dalam mengurusi bencana alam hanya basa-basi dan omong kosong saja ketika ada pertemuan, para pejabat tidak pernah berbicara soal ilmu pengetahuan dan pendekatan tekhnologi.

Para politisi sangat egois dan hanya mementingkan diri masing-masing, ketika datang bencana alam yang lebih besar barulah sadar dan baru berbicara soal ilmu pengetahuan dan pendekatan tekhnologi.
Bukankah para pejabat dan elit politisi hari ini juga begitu? Dalam keadaan bencana pun masih saja mementingkan kepentingan politiknya.

Nah, ternyata ketika terjadi bencana alam seperti gunung meletus, tapi umat manusia tetap bertahan. Manusia seperti virus, rakus menelan sumber daya di sekitarnya, terus berkembang biak hingga semuanya habis, hanya obat paling keras yang bisa menghentikannya dan obat paling keras itu adalah bencana alam.

Walaupun ada bencana alam, manusia tetap bertahan. Oleh karena itu, virus tidak bisa diobati, virus hanya bisa dihentikan oleh sesuatu yang lebih mengerikan daripada bencana alam. Saat manusia merusak dirinya sendiri, menghancurkan dirinya sendiri, barulah manusia akan berhenti.

Manusia lemah jika berhadapan dengan alam, karena itu kalau ingin alam tidak marah janganlah seperti virus yang menggerogoti sumber daya alam. Bukankah manusia diciptakan dalam bentuk terbaik dan dengan keunggulan akalnya menjadi pengatur di muka bumi? Jika manusia sebagai pengatur, kenapa justru manusia sebagai perusak alam?.

Info Novel:
Judul Novel : Hujan
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : Cetakan Ke-35, Januari 2020
Jumlah Hlm : 318
Resiator : Husaini Muzakir Algayoni

Comments

comments