Tindak Tutur Metamorfosa Ruhiyah Seharusnya Tidak Bohong

oleh
Dr. Joni MN, M.Pd.B.I

Oleh : Joni MN*

Pengkajian bentuk Tindak tutur Metamorfosa Ruhiyah (Tt.MR) terinspirasi dari pembahasan Dr. Johansyah Han dalam artikelnya yang berjudul “Belajar Diam”. Tindak Tutur dalam konteks pembahasan pada artikel ini, melingkupi kegiatan komunikasi, bertindak dan bertutur, serta bagaimana menggunakan bahasa dalam menyampaikan pesan kepada O2 dan O3 dengan benar dan beradab.

Aktivitas pertuturan dalam konteks ini tidak hanya berada di dalam demensi internal sistem bahasa seperti pada pembahasan mikrolinguistik. Tetapi, pembahasan dan kajian dalam kontelks pengkajian ini lebih kepada makrolinguistik. Selanjutnya yang paling berperan untuk memastikan makdud, tujuan, dan makna tuturan adalah sesuatu yang ada di luar dunia kebahasaan.

Jadi, ditilik berdasarkan pengkajian dan pembahasan dalam Tindak Tutur mulai dari edisi 1 sampai dengan edisi 7, hal ini merupakan bentuk atas kajian makrolinguistik.

Sikap dan berperilaku atau bertindak tutur ketika berinteraksi dengan pihak lain, hal ini sangatlah butuh kehati-hatian penutur, karena tindakan ini sangatlah menentukan baik-buruk perilaku tindak tutur. Di sisi lain makna dapat tersampaikan dengan cepat kepada mitra dan peserta tutur ketika menggunakan teknis atau cara ytang baik.

Tentu untuk menemukan cara bertindak tutur yang baik dan akan membawa danpak yang baik adalah dengan berpengetahuan dan berilmu tentang akhlaq dan konteks, yang meliputi beberapa demensi, yakni: (1) demensi budaya, (2) demensi latar belakang (mitra dan O3) dalam konteks pertuturan, (3) demensi keyakinan / agama Islam, (4) demensi etika dan adab, kemudian (5) dan demensi perinsip kerja sama dan perinsip sopan santun.

Melalui berintegrasi degan ke-5 demensi tersebut di atas, maka akan ada kekuatan dan energi yang dipancarkan dari integrasi dan perpaduan ke-5 demensi tersebut mempu memengaruhi psikologi masing-masing peserta tutur. Tuturan yang dikeluarkan oleh penutur dalam kondisi sadar atau ridak sadar, dan juga terasa atau tidak terasa dapat merubah perilaku dan tanggapan pendengar (mitra tutur).

Energi yang membentuk suatu kekuatan dalam diri dapat memengaruhi respon atau perilaku juga sikap mitra tutur, namun alangkah baiknya, akan lebih bermanfaat jika energi tersebut diisi dengan zat-zat yang bersipat baik dan bernilai kebaikan.

Kebaikan dalam konteks ini bukan yang bersipat tak terukur dan tak memiliki standar seperti yang kita pahami srlama ini. Tetapi, kebaikan di sini berdemensi rasa, yakni wujud dari hakikat manusia yang bermuara pada kefitrahan manusia itu sendiri.

Tidak ada satu pun manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan atau tindakan yang kotor, dan selanjutnya juga sebaliknya, tidak ada satu manusia pun yang tidak punya kesempatan dalam bertindak baik, semua manusia memiliki kesempatan bertindak baik.

Kemudian, kepada kita yang selalu bahkan berulang-ulang bertindak kotor juga diberi kemudahan atau peluang setiap saat untuk kembali kepada kebaikan, kebersihan dan kebermanfaatan diri serta kedalam demensi kebaikan, yaitu dengan cara bermetamorfosa ruhiya denganvAllah SWT tentu dengan demensi kebaikan.

Saat ini bertambah majunya ilmu pengetahuan, maka semakin bertambah pula pinter si para petutur dalam mengolah dan memoles tuturan atau ungkapan-ungkapannya untuk tujuan yang salah, yakni penguatan diri dan/ atau ada juga penutupan kesalahan diri (konvensasi).

Seperti, hampir setiap kami membaca beberapa status FB (tertentu) namun bentuk tindak tutur di FB ini akan di bahas lain kesempatan. Dalam konteks ini kita intens membahas tentang bentuk tuturan konvensional negatif yang dituturkan di dalam rapat, yakni, sering muncul dalam pembukaan rapat. Contoh tuturanya, dapat dilihat pada data berikut;

A. Ketua: memberi Salam …(mukadimah
rapat)
B. Ketua: ma’af mungkin dalam seperti saat
ini sering tidak hadir, terkadang saya hadir
“bapak (polan)” tidak datang, terkadang
“bapak (polan)” datang, namun saya
terlambat datang, dst. ….

Jika dianalisa dari tuturan yang diungkapkan Ketua pada data tuturan (B) di atas, bahwa Ketua itu berusaha menutupi kesalahan dirinya (konvensi), yang pada kenyataan sebenarnya tidak hanya satu atau dua orang yang mengetahuinya, terapi hampir 85℅ dari peserta rapat yang hadir bahwa ketua tersebut jarang datang terkecuali ada rapat, dan hal ini juga sudah disepakati adanya jadwal piket, dan atas kesepakatan bersama yang usianya sudah di atas 65 tahun tidak dimasukan lagi namanya menjadi anggota piket.

Ini latar belakang konteksnya, tetapi di balik itu ketua tersebut malah membangun konvensi dengan memutar balik fakta dan mengalihkan kesalahan kepada pihak lain (tuturan B) dengan bentuk tindak tutur yang halus, yakni menyatakan bahwa “bapak polan” Itu sering tidak hadir, ketika “bapak polan” hadir, saya (ketua) terlambat datang. Padahal dapat ketahui bersama bahwa beliau (bapak polan) aktif mengikuti kegiatan diluar (atas nama kantor).

Esensi dari Tindak tutur yang dicurahkan pada data (B) dialog di atas adalah nentuk tindak tutur “konvensional” yang dituturkannya adalah bentuk usaha penyelamatan muka oleh si penutur dalam data (B) tersebut. Dalam konteks ini penutur data (B) tersebut berusaha menutupi kesalahannya dan berusaha membela diri untuk menyelamatkan muka positif dan muka negatifnya.

Tindakan ini dilakukannya sebelum ada tuduhan terhadap dirinya bahwa dia lah yang jarang datang. Si penutur pada data (B) ini mengirimkan pesan pembelaan diri melalui bentuk tuturan konvensional, yakni untuk usaha meyakinkan para peserta tutur yang ikut rapat agar kesalahannya tersebut tidak terungkap atau tidak diketahui oleh peserta tutur yang ada.

Selanjutnya ia menggunakan cara halus (permainan kata) ini atau “language game” Ini bertujuan untuk memengaruhi para peserta tutur agar berpihak kepada dirinya, dan banyak anggota rapat tidak merasa bahwa mereka sudah dipengaruhi dengan bentuk tuturan yang salah, yaitu dengan permainan polesan bahasa (language game).

Dalam kondisi yang demikian kami mengamati redpon peserta tutur yang hadir dari ekspresi wajahnya, tidak satupun yang mengernyitkan alis atau dahinya atas dampak kebohongan tersebut, dengan menggunakan tuturan yang dipoles dengan bentuk konvensi tersebut, malah dari aura yang dipancarkan dari mimik wajah mereka malah sebaliknya peserta tutur itu merasa senang mendengar uraian tuturan kata-kata yang indah bak puisi dalam “didong” (seni bertutur) suku Gayo. Sebenarnya, masih banyak contoh-contoh tuturan lain yang dapat menjerumuskan dan yang berbentuk konvensasi para peserta tutur.

Seharusnya hal “sumang” Ini tidak terjadi bagi penutur yang nota benenya sudah dituakan oleh orang-orang, dan lebih-lebih si penutur tersebut juga beragama Islam. Karena tindakan mempoles kata-kata atau “language game” untuk tujuan tidak baik, akhirnya yang “sumang” bisa tidak sumang; seharusnya hal tersebut “kemali akhirnya menjadi tidak “kemali” lagi”, pada hakikatnya adalah yang bohong tetap lah berdosa, walaupun diolah dan diracit dengan bentuk bahasa puisi dan melengkan yang terdebgar indah dan seolah-olah itu bukan kebohongan.

Tindak tutur bukanlah alat untuk konvensasi yang menutupi kebohongan danbalat untuk menipu peserta tutur. Jika itu terjadi nilainya adalah buruk dan selanjutnya tindak tutur bukan sebagai alat untuk mengelabui orang serta menjerumuskan mereka kepada yangvsesat.

Tindak tutur dalam konteks yang sebenarnya adalah suatu bentuk tindakan dan bentuk tuturan yang bergabung menjadi satu terminologi dan difungsikan sebagai media informasi dan komunikasi bagi manusia dan mahluk lainya agar dapat memberi kejelasan dan penjelasan kepada yang sudah terlanjur sesat dapat kembali kepada hakikat manusia sebenarnya,.

Oleh sebab itulah tindak tutur metamorfosa ruhiyah ini perlu diinternalusasikan dan dilembagakan kepada setiap masing indevidu anggota masyarakat.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Dengan Pelaksanaan berpuasa di bulan suci Ramadhan ini Allah SWT dapat mengembalikan yang tidak baik menjadi baik dan menunjukan kebenaran yang hakiki.

MAHA BENAR ALLAH ATAS SEGALA FIRMANBYA
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Comments

comments