Bantah Pernyataan Kabag Humas, Petani dan Toke Kopi Bener Meriah Buat Surat Terbuka

oleh

Surat Terbuka Toke dan Petani Bener Meriah yang melakukan aksi jemur kopi di halaman Kantor Bupati Bener Meriah

Perwakilan : Gayadi

Pasca tragedi penjemuran kopi di Kantor Bupati Bener Meriah Kabag Humas dan Protokoker Setdakab Bener Meriah, menuding tindakan tersebut ada yang memanfaatkan dan tidak sesuai dengan keadaan di lapangan.

Menanggapi itu saya, saya Gayadi salah satu pengepul kopi yang ikut serta dalam aksi tersebut, menuliskan surat terbuka ini.

Bapak Kabag Humas yang Terhormat,

Sebagai mana kita pahami bersama Kondisi petani di kabupaten Bener Meriah pada umum nya masih memakai pola jual gelondong (kopi merah) sedangkan kopi yang dimasukan ke SRG ini harus kopi yang sudah di olah dengan kadar Air 13,5% dan trase 8% belum lagi persyaratan-persyaratan lainnya.

Hal ini yang kemudian Kami pertanyakan pada bapak bupati pada pertemuan, Senin (22/04) di ruangan beliau. Apakah sistem SRG bisa di persingkat alurnya, mengingat masa panen kopi hampir berakhir? Apakah Sistem SRG dapat diterima oleh masyarakat?

Tentu Bapak Kabag Humas juga mendengar hal ini karena bapak juga hadir pada saat itu. Pertanyaan tersebut bahkan kami tanyakan berulang-ulang .

Kenapa ini kami pertanyakan supaya SRG yang dianggap sebagai alternatif untuk menyelesaikan persoalan kopi ini bisa menjadi solusi bagi petani di tengah musibah musibah Covid-19 ini.

Mengingat umumnya petani tidak memilik mesin penggiling, belum paham cara mengolah kopi agar bisa sampai ke kadar air 13,5 % dengan trase 8% yang menjadi syarat agar bisa di masukan ke SRG, belum lagi persolan kopi yang di masukan ke gudang tersebut minimal harus 2 ton per kelompoknya. Banyak regulasi yang memberatkan masyarakat.

Bapak Kabag Humas yang terhormat,

Pada saat itu kami juga mempertanyakan perihal adminkstrasi dan pembiayaan SRG karna seperti yang kita ketahui pembiayaan resi gudang ini cuma 70% berbentuk pinjaman ke BANK sebelum kopi ini di jual pada saat harga setabil dan pinjaman tersebut di kembalikan dengan bunga 6%.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kebiasaan petani yang biasanya langsung menjual ke pengepul. Ada juga petani yang bahkan meminta uangnya terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan sebelum kopinya di petik dan di jual. Kondisi ini juga sudah kami sampaikan diskusi di ruang bupati pada saat itu.

Berhubung waktu juga singkat dan Bupati juga menawarkan untuk diskusi lebih lanjut membahas bagaimana teknisnya karena menurut bupati diskusi pada saat itu masih mentahnya maka beliau mengundang perwakilan petani dan pengempul kopi di kabupaten Bener Meriah untuk hadir kembali di aula kantor bupati esok hari nya.

Oleh karenanya, kami hadir kembali pada saat itu, Selasa (22/04) di ofroom Sekdakab Bener Meriah.

Jadi, kami juga perlu tegaskan yang di sepakati saat itu adalah diskusi lebih lanjut dengan harapan jika pun hanya resi gudang ini yang menjadi solusinya bagaimana teknisnya supaya administrasi dan juga syaratnya setidaknya bisa di persingkat. Bukan menyepakati atau menolak keberadaan Resi Gudang.

Namun pada saat diskusi selasa (21/04) hal itu tidak di bahas. Pertanyaan-pertanyaan
Tentang administrasi dan persyaratan – persyaratan resi gudang ini bisa di permudah yang sebelumnya juga telah dibahas tidak di jawab bahkan pihak calon pengelola resi gudang juga menyampaikan fakta bahwa mereka masih calon dan ijin resi dari BAPPEBTI masih belum terbit.

Dalam diskusi tersebut kami juga sampaikan, bukannya kami tidak sepakat dengan Sistem Resi Gudang ini, namun jika persyaratan – persyaratannya tidak dipangkas dan harus di paksakan kepada petani otomatis ini tidak akan bisa menjadi solusi untuk menyelamatkan hasil panen petani yang waktunya tidak sampai 2 bulan lagi akan habis.

Kondisinya sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan dan idul Fitri sedangkan harga hasil pertanian lain seperti cabai dan palawija lainya juga anjlok.

Kondisi tersebut membuat forum diskusi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga kami keluar meninggalkan ruangan.

Salah satu dari toke yang hadir berkebetulan membawa gelondong ke tempat kejadian dan relan rekan kemudian berinisiatif untuk melakukan penjemuran gelondong dihalaman kantor bupati sebagai ungkapan kekesalan terhadap pemerintah.

Bapak Kabag Humas yang terhormat,

Dari runtutan kejadian diatas jelas bahwa kami sudah bersikap kooperatif dengan mengikuti instruksi Bapak Bupati dan mendengarkan penjelasan terkait dengan SRG. Bukan seperti apa yang bapak tuduhkan.

Tidak ada dari kami yang bersikap provokatif ataupun berupaya memancing keributan. Justru bapak yang berupaya memancing keributan dengan mengeluarkan statement menuding kami bersikap provokatif.

Semoga Bapak selalu diberi kesehatan, sehingga sedia setiap saat mendampingi Bupati kemana pun bertugas.

Hanya ini, klarifikasi kami pak. Agar masyarakat juga tidak salah tafsir kepada kami.

Salam hormat

Perwakilan Petani dan Toke Kopi yang melakukan aksi jemur gelondong di Halaman Kantor Bupati a.n. Gayadi

Comments

comments