SEORANG putra Gayo yang menempuh pendidikan di University Internasional Bina Nusantara (Binus) Jakarta berhasil menyelesaikan Studynya dengan mengangkat ironi nasip seniman di Kabupaten Aceh Tengah.
Iqbal Meurahmege Fadly yang memilih Jurusan Sinematografi ini sukses mempertahankan karya filmnya dihadapan sejumlah dosen penguji pada Senin, 6 Juli 2015. Tugas akhirnya berupa film pendek yang mengangkat ironi hidup penari Guel Ceh Sahaq pada tahun 1980-an dinyatakan lulus dengan hasil Sangat Memuaskan.
Kandar SA salah seorang seniman Gayo senior yang menetap di Jakarta menyatakan film karya Iqbal sangat menyentuh.
“Ini mengingatkan saya terhadap salah seorang sutradara film Hollywood yang menjatuhkan pilihan judul dan tema filmnya pada daerahnya sendiri, meskipun teman-teman Iqbal yang lain banyak yang memilih cerita nasional bahkan internasional. Ini patut kita apresiasi”, jelas Kandar SA sembari memberi ucapan selamat kepada Iqbal atas keberhasilannya menyelesaikan study dengan nilai maksimal.
Film pendek Iqbal Meurahmege Fadly yang berjudul “Kilau Kerikil” mengambil setting di sejumlah tempat, diantaranya adalah Takengon, Bogor dan Jakarta. Film yang berdurasi 20 menit ini mengangkat sisi hidup seniman tari Guel Ceh Sahaq ketika di undang oleh Bupati Kabupaten Aceh Tengah saat itu, untuk menari dalam rangka menyambut tamu penting dari ibukota negara.
Ceh Sahaq yang diperankan oleh Onot Kemara dengan “garis tangannya” memenuhi undangan itu setelah dijemput oleh Ibrahim yang diperankan oleh Zulpian Karim. Sebagai seniman tulen Ceh Sahaq menampilkan tari Guel dengan memukau dihadapan ratusan penonton.
Eksistensi dan tarian yang ia lakonkan menjadi kebanggaan sekaligus identitas daerah, demikian isi pidato sang Bupati dihadapan para tamu. Namun apa yang Ceh Sahaq terima setelah acara besar itu sungguh sangat ironi, ia dijemput dengan mobil dan pulang diantar dengan sepeda motor. Belum lagi jerih payah yang ia diterima saat itu sangat bertolak belakang dengan isi pidato sang Bupati.[AR]





