Saat menulis, novelet Alevtina salah seorang seniman produktif yang nyeleneh, juga dosen di UIN Ar-Raniry Salman Yoga S. Kusebut ia sebagai “dosen terbang” kerena ia tinggal di Takengon dan mengajar di Banda Aceh, tetapi ia menyebut dirinya dengan “dosen L.300”, karena selalu menggunakan minibus jenis ini menuju tempat kerja dengan jarak tempuh 500 km lebih dengan waktu tempuh antara 7-10 jam perjalanan.
Ia kukenal sejak masih di Yogyakarta sebagai mahasiswa dengan rambut panjang dan kacamata lebarnya, kala itu ia masih menjadi mahasiswa datang ketempatku bekerja.
Kini dosen dan direktur The Gayo Institue (TGI) ini tampak lebih klimis dan rapi. Namun bawaannya masih suka slengekan dan cenderung apa adanya. Dia duduk di sudut barat Kantin Batas Kota.
Mengutak-atik halaman laptopnya. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Yang kutahu, dia sedang menulis biograpi seorang tokoh penting Gayo dan sejumlah kegiatan lain di TGI. Saat aku datang, Salman dengan gaya selorohnya bertanya, “nge musiu ke wihte,” katanya bermetafora.
Aku mengerti maksudnya segelas kupi hitam kesukaannya, yang dibuat dengan mesin espresso, Schibello. Tapi sebelum kopi kubuat, kuberikan flash disk padanya.
“Cuge engon tengku mulo. Ara cerpen ku tos. Kune menurut tengku,” ujarku.
Aku ingin Salman menilai cerpen yang sedang kutulis, apakah menarik jika dibaca orang. File cerpen berjudul Alevtina kupindahkan ke laptopnya. Aku kemudian meninggalkannya dengan cerpen Alevtina.
Tak sampai sepuluh menit Salman mendatangi meja kerjaku. Saat itu aku sedang berselancar di dunia maya, membunuh waktu sebagai pelayan warung kopi dengan membuka Pc-komputerku.
“Kucak ni Tengkupé mulo lagu a,” katanya.
Salman tampak serius. Aku mematikan Winamp yang memutar lagu “Peruweren” karya Ceh Daman. Menurut Salman, cerita ini menarik dan memintaku mengekplor beberapa bagian cerita Alevtina.
“Cerpen ini idealnya dijadikan sebuah novel. Tengku tinggal mengeksflor beberapa bagian ceritera agar lebih menarik. Syarat novel diantaranya adalah dengan jumlah halaman 120 lembar,” ulas Salman.
Salman memang biasa memanggil rekan atau sahabatnya dengan sebutan “Tengku”. Bahasa ini kemudian melekat saat berkomunikasi dengannya. Sementara aku juga kerap memanggilnya dengan “Tengku” atau “Ketua”.
Sebagai bekas wartawan aku biasa bekerja dengan fakta. Cerita atau novel yang kutulis merupakan pekerjaan iseng untuk mengisi waktu. Menggunakan kemampuan imaginasi dan menampilkan tokoh cerita sehingga menarik. Pun begitu, ternyata tidak mudah menulis novel, ada sejumlah syarat yang menyertainya. (Win Ruhdi Batin)





