Catatan Perjalanan: Darmawan Masri

Hari Sabtu, 2 Februari 2014 adalah hari dimana saya beserta ratusan pehobi olahraga sepeda di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah dan Bener Meriah melakukan touring keliling Danau Lut Tawar, kegiatan tersebut berbarengan dengan keinginan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh, Irjen. Pol. Herman Effendi yang berkunjung ke Takengon beserta ratusan pehobi Moter Gede (Moge), sesampainya di Takengon, orang nomor satu di Kepolisian Provinsi Aceh itu berambisi menjelajahi Danau berpenghuni ikan Depik (Rasbora tawarensis) sejauh 46 KM.
Bagi beberapa orang tertentu mengelilingi Danau Lut Tawar mengenderai sepeda adalah hal yang biasa, namun bagi saya dan satu teman saya yang tak lain seorang web master (IT) media ini, Adie EM merupakan hal yang luar biasa. Hal tersebut dikarenakan saya dan Adie melakukannya untuk kali pertama dan merupakan catatan rekor bagi kami sendiri.
Walau, sejak beberapa tahun belakangan ini saya sering bergaul dan mengikuti sepak terjang mereka di dunia balap sepeda bersama atlit balap sepeda dibawah Pengurus Cabang Olahraga Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Aceh Tengah, yang telah banyak menuai prestasi baik ditingkat nasional maupun internasional, namun kegiatan ini merupakan sejarah bagi saya pribadi yang bisa diceritakan keanak cucu kelak nanti.
Pagi itu, sekira pukul 7.30 Wib, Kapolda mulai mengayuh sepedanya diikuti beberapa pejabat di Polda Aceh, Polres Aceh Tengah dan Bener Meriah, disusul atlit binaan ISSI Aceh Tengah yang ditugaskan khusus mendampingi Kapolda, serta diikuti oleh ratusan pesepeda lainnya mulai dari TNI, masyarakat dan beberapa club di Aceh Tengah dan Bener Meriah, bergerak dari Hotel Linge Land Takengon menuju arah danau dari sisi utara.
Awalnya rombongan terlihat rapi dan bersemangat ditengah iring-iringan ratusan pesepeda, memasuki kampung Bale, Dedalu hingga Kampung One-one, para pesepeda masih bersemangat mengayuh sepeda masing-masing, memasuki jalan tanjakan di Loyang Koro, satu persatu mulai kewalahan, terlihat Kapolda yang berada didepan kami tetap mengayuh dengan semangat, banyak yang mendorong sepedanya dikawasan ini.
Saya bersama rekan saya Adie hampir saja putus asa, belum setengah perjalanan yang kami lalui rasanya tak sanggup lagi menyusul iring-iringan Kapolda yang berada didepan kami. Namun semangat kami berdua pun kembali, setelah sempat beristirahat di Loyang Koro selama 5 menit, kami berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Meski telah tertinggal jauh bersama iring-iringan Kapolda yang berada didepan diperjanan kami pun berkomunikasi bahwa kami harus bisa menaklukkan tanjakan dan turunan tajam diseputaran danau, mengingat masih banyak yang tertinggal dibelakang kami, hingga kami pun mencapai etape pertama di Teluk Rawe bertemu dengan rombongan lainnya dari Polres Bener Meriah.
Bersama mereka kami pun bergerak perlahan, sampai di etape ke-2 Nosar, setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kembali ada sekitar 7 orang bersama-sama mengayuh sepeda, sedangkan iring-iringan didepan tentunya dipimpin oleh Kapolda Aceh sudah tak terlihat lagi pertanda mereka telah jauh meninggalkan kami, sedangkan iring-iringan dibelakang kami sudah tak terlihat lagi, mungkin mereka sudah menaiki truk yang disediakan untuk mengangkut peserta yang menyerah.
Seakan tak memungkinkan lagi melanjutkan perjalanan, disebuah tanjakan yang panjang kami pun turun dari sepeda, Pak Syukri dan Pak Anto, keduanya adalah anggota Kepolisian yang bertugas di Polres Bener Meriah bersama kami, sedangkan 3 orang lainnya memilih melanjutkan perjalanan dengan mendompeng disisi kanan-kiri mobil patroli untuk menaklukkan tanjakan tersebut.
“Kita ber-empat pasti bisa menaklukkan perjalanan ini, susudah tanjakan panjang ini jalan kita akan lebih sering menurun”, kata Pak Syukri yang menyemangati saya bersama rekan saya Adie, dan kami pun mengiyakannya, karena ambisi untuk bisa mengitari danau dengan sepeda yang sudah menjadi keinginan kami sejak lama, akhirnya kami berempat adalah peserta terakhir yang berada dibelakang dan tertinggal jauh dari iring-iringan Kapolda.
Pukul, 11.30 kami ber-empat tiba di etape ke-3 dikawasan pante menye Bintang, disitu anggota Polsek Bintang sudah membuat pos, kami pun berencana berhenti sejenak guna mengusir lelah. Dalam perbincangan bersama mereka di etape ke-3, iring-iringan Kapolda berserta rombongan sudah 1 jam lalu meninggalkan etape ke-3 itu, artinya saat itu mereka sudah berada di etape ke-4 di kawasan Ujung Paking, Kelitu.
Seakan berputus asa, mengikuti rombongan pertama tadi kami pun berbisik bersama Adie, saya mengajaknya untuk menyerah menaklukkan danau ditengah perjalanan, namun pembicaraan kami terdengar oleh pak Syukri, dia pun berang dan berkata, kita pasti bisa sampai di etape ke-4, pasti itu jangan menyerah. Mendengar semangat dari pak Syukri yang sudah tak muda lagi itu, kami pun kembali bersemangat dan melanjutkan perjalanan.
Menaiki tanjakan tinggi, menuruni lembah ditengah jalan yang lumayan hancur dengan bebatuan tajam dan kerikil yang berserakan dikubangan air yang tersisa disepanjang sisi selatan danau, kami pun bernafsu untuk bisa sampai di etape ke-4, akhirnya tepat pada pukul 12.30 menit kami pun sampai ditujuan yakni etape-4. Pak Syukri dan Pak Anto memilih untuk tidak lagi melanjutkan perjalanan hingga ke Kota Takengon kembali, mereka berdua memilih untuk pulang menumpangi mobil patroli jenis double cabin milik Polres Bener Meriah. Mereka pun berpamitan bersama kami berdua yang berencana akan melanjutkan perjalanan guna memenuhi ambisi kami berdua bersama Adie, setelah mereka berpamitan dan menaikan sepeda ke mobil patroli, saya dan Adie bergabung bersama rombongan Kapolda yang sudah bersantai di kawasan itu.
Kami pun langsung bergabung bersama atlit ISSI Aceh Tengah, disana terlihat mereka telah usai melakukan makan siang, sedangkan kami dengan kucuran keringat dan tenaga yang tersisa hanya bisa tertawa gembira dan senang sudah bertemu dengan mereka. Kami pun dipersilahkan oleh panitia untuk melaksanakan makan siang, tanpa ragu ditengah perut yang sudah kosong kami pun mengiyakan dengan segera.

Sambil menyantap hidangan makan siang, kami berdua disendai oleh rekan-rekan kami lainnya, disana ada bang Khalisuddin, sekretaris ISSI Aceh Tengah, Munawardi (fotografer LintasGayo.co dan pengurus ISSI Aceh Tengah), atlit ISSI Aceh Tengah yang sudah menasional, Nur Wahyu Afriani, Mude Angkasa, Iwan Tan Miko, Al Zikri dan beberapa teman lainnya. Kami pun bercerita tentang perjalanan sulit yang kami lalui hari ini.
Setelah beristirahat di etape ke-4, Kapolda berserta rombongan tak lagi melanjutkan perjalanan, dan menaiki motor gede nya berserta rombongan lainnya Kapolda menuju kelokasi wisata Pantan Terong, sedangkan kami bersama atlit ISSI Aceh Tengah lainnya melanjutkan perjalanan bersepeda hingga kembali lagi ke Kota Takengon.
Seakan ada rasa penyesalan tidak mengikuti rombongan truk yang mengangkut sepeda, terasa tenaga telah terkuras habis, seakan-akan tak sanggup melanjutkan perjalanan mengayuh sepeda, Munawardi memberi semangat kepada saya dan Adie EM, dia mengatakan jika bertemu dengan tanjakan tinggi jangan lihat keatas, lihatlah jalannya saja agar tidak stress melihat jalan, jika stress akan cepat lelah, dan kami pun menurtinya ternyata benar apa yang dikatakan senior kami itu, hingga akhirnya kami pun tiba di Kampung Mendale Kecamatan Kebayakan, terasa ingin berteriak sekuat tenaga ternyata hari ini saya bersama Adie EM dapat melakukan perjalanan sulit untuk kali pertama menggunakan sepeda yang kami beli sejak beberapa bulan lalu itu.
Ada perasaan senang dalam hati kami berdua, apa yang kami inginkan sejak setahun terakhir ini akhir nya terwujud juga, pasti pehobi sepeda lainnya yang belum pernah menaklukkan danau dengan sepedanya ingin melakukan yang sama dengan kami, begitu juga dengan orang pehobi sepeda diluar Gayo ini.
Sudah Selayaknya Pemerintah Aceh Tengah Memperhatikan Wisata Danau Lut Tawar
Melihat tingginya animo wisatawan berkunjung ke Aceh Tengah, khususnya pehobi olahraga bersepeda, sudah selayaknya Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk mengelola dengan baik sektor pariwisata andalan Aceh Tengah tersebut.
Sebagai salah satu bukti, sewaktu Kapolda Aceh bersama rombongan mengitari danau dengan sepeda, mereka melihat tumpukan-tumpukan sampah yang berserakan dipinggir danau, walau sempat terucap Danau Lut Tawar sangat indah dan berhawa segar dari Kapolda dan rombongan.
Lebih dari itu sarana pendukung pariwisata lainnya juga perlu disiapkan, agar kedepan sektor pariwisata bisa menunjang perekonomian masyarakat yang tinggal diseputaran danau. Bayangkan saya tingkat fasilitas umum seperti MCK saja kita tidak punya, para pesepeda harus mencari semak belukar dengan membawa air kemasan untuk sekedar buang air kecil. Sungguh sangat disayangkan memang.
Penunjang lainnya, jalur seputaran danau sangat layak dijadikan wisata bersepeda, sambil menikmati pemandangan yang indah serta udara yang segar para wisatawan yang berkunjung ke Aceh Tengah, harus direkomendasikan mengelilinginya menggunakan sepeda, dengan suatu catatan bila sanggup melakukannya sejauh 46 KM, Pemda melalui dinas terkait akan memberikan penghargaan berupa sertifikat atau piagam penghargaan bahwa wisatawan tersebut sudah mengunjungi Danau Lut Tawar, sedikit meniru Pemkot Sabang bila mengunjungi Kilo Meter Nol.
Sudah saatnya sektor Pariwisata di Aceh Tengah bangkit, melihat potensi itu ada dan dipastikan akan berkembang jika memiliki konsep yang jelas. Tinggal menunggu keberanian dari Pemerintah untuk membuat konsep yang tepat kearah ini, jika tidak negeri penghasil kopi ini akan rugi besar, mengingat sektor ini merupakan salah satu sektor yang cukup bisa diandalkan untuk memajukan perekonomian masyarakat.
Satu hal lagi, pemerintah juga harus menggalakkan pelestarian Danau Lut Tawar, jika konsep pariwisata sudah berjalan dengan benar, maka lingkungan pun dengan sendirinya akan terjaga, sehingga anak cucu kita kelak juga bisa menikmati indahnya danau ciptaan Allah SWT ini, yang diturunkan kepada kita dengan tanah yang katanya serpihan tanah surga. Semoga saja tidak hanya menjadi ucapan belaka.
*Sekretaris Redaksi LintasGayo.co






