Guru dan Tantangan Masa Depan

oleh
Siswa dan guru MAN 2 Takengon di Loyang Mendale

(Refleksi Hari Guru Nasional)

Oleh Johansyah*

BERBICARA pendidikan tidak akan pernah lepas dari pembahasan seputar guru. Guru merupakan salah satu unsur pokok pendidikan. Tanpa guru, maka tidak ada pendidikan. Mereka akan terus bereksistensi di atas panggung sejarah manusia dan tidak akan tergerus oleh pergantian zaman, karena pendidikan tidak mungkin pernah berhenti selama planet bumi belum berakhir masanya.

Oleh karena perannya yang begitu penting, rasanya tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa guru, mau tidak mau harus selalu siap dalam menjalankan misi pendidikannya. Ada masa dapan membentang jauh yang tampak indah. Boleh saja, sesuatu yang tampak indah tadi adalah jebakan dan tantangan pendidikan yang siap menggagalkan, atau paling tidak menghambat misi pendidikan yang dijalankan oleh guru. Dalam hal ini, mereka harus menyikapi secara kritis dan meresponnya dengan modal intelektual dan moral sehingga tantangan tadi dapat digiring menjadi peluang.

Untuk merespon tantangan zaman ini, guru harus menyiapkan dan membekali diri dengan beberapa hal; pertama, bahwa guru harus mau belajar sepanjang hayat. Belajar tidak punya batasan. Gelar keserjanaan sampai orang memperoleh Doktor sekali pun, bukanlah akhir proses belajar bagi seorang guru. Tidak ada istilah ‘pensiun’ dari belajar karena telah merasa cukup dengan apa yang diperolehnya. Makanya, Nabi menekankan agar kita belajar dari buaian hingga liang lahat (sampai seseorang menemui ajalnya).

Beberapa tahun yang lalu, di Austalia, seorang nenek memperoleh gelar sarjana di usianya yang sudah 90 tahun lebih. Walaupun sudah lanjut usia, dia tetap memiliki semangat belajar. Di Gayo, mungkin kita harus mengapresiasi tokoh dan ulama Gayo, Drs. Tgk. H. Mahmud Ibrahim, MA. Di usianya yang tidak muda lagi, beliau mampu memperoleh gelar Magister dari UIN Banda Aceh dan kembali melanjutkan studinya ke program Doktor di kampus yang sama. Semangat belajar seperti inilah yang patut ditiru.

Kedua, dalam menghadapi tantangan pendidikan, guru juga harus mengikuti perkembangan teori pendidikan dan konsep pembelajaran kontemporer. Seiring dengan perkembangan filsafat ilmu pengetahuan, maka teori-teori pendidikan pun ikut berkembang. Terjadi proses shifting paradigm (pergeseran paradigma) pendidikan yang menawarkan konsep baru pendidikan.

Pergeseran paradigma ini harus selalu diikuti oleh guru dalam perjalanan karirnya sebagai pendidik. Paling tidak, guru harus tau bahwa sekarang ini pendidikan Indonesia sedang diarahkan untuk beralih ke pedagogik transformatif seperti yang ditawarkan oleh H.A.R Tilaar, sebagai paradigma pendidikan kontemporer. Sebelumnya pendidikan kita masih berkutat pada pedagogik kritis, bahkan mungkin masih ada yang menganut pedagogik tradisional.

Tilaar (2012: 332) menjelaskan bahwa ciri-ciri pedagogik transformatif adalah; 1) pendekatan dalam pedagogik transformatif adalah pendekatan individual partisifatif dalam masyarakat yang berubah, penyadaran dan pengembangan potensi individu dalam kebersamaan bermasyarakat, pendekatan humanisme sosiokultur, dan penggerak kebudayaan; 2) pedagogik transformatif sebagai disiplin ilmu bersifat hermeunetik humanistik pedagogik; 3) Dalam pedagogik transformatif guru adalah mitra pembelajar; 5) peserta didik adalah subjek yang partisifatif antisifatif dalam perubahan sosial; 6) proses pendidikan adalah dialogis partisifatif; 7) kelembagaan pendidikan bersifat dekonstruktor dan rekonstruktor sosial.

Inti dari konsep pendidikan yang dikembangkan dalam pedagogik tranformatif adalah pendidikan yang mengupayakan partisipasi semua pemangku kepentingan dalam pendidikan sehingga produk pendidikan yang dihasilkan mampu bereksistensi dalam dinamika sosial, bahkan menjadi pelaku dan penggerak perubahan itu sendiri.

Ketiga, guru harus berani, kritis dan kreatif. Ketika ada kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan atau setidaknya mengurangi hak guru, maka mereka harus berani menyalurkan aspirasinya. Guru tidak hanya melakukan protes di belakang panggung, tapi mengkritik secara langsung apa adanya. Menyampaikan kritikan tentu tidak harus diekspresikan melalui demonstrasi dengan turun ke jalan, tetapi dapat disalurkan lewat tulisan. Saat ini, banyak media cetak dan online yang bersedia menampung tulisan kita. Rugi kalau tidak dimanfaatkan.

Dalam Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru memang dinyatakan memiliki hak untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan nasional. Untuk tujuan ini, guru juga dapat menyampaikan aspirasinya melalui organisasi guru yang ada, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI), Serikat Guru Indonesia (SGI), dan organisasi guru lainnya. Jika ditempuh jalur perorangan, mungkin beresiko bagi yang bersangkutan, misalnya diancam mutasi, atau urusannya dipersulit.

Keempat, guru harus berakhlak mulia dan menjadi teladan. Keteladanan guru merupakan sebuah keniscaayaan. Menjadi guru cerdas, kritis dan kreatif, tidaklah cukup, tetapi mereka juga harus menjadi sosok yang arif, berwibawa, dan disegani. Guru harus memiliki karakter santun, ramah, sabar, ikhlas, disiplin, tanggung jawab, peduli, serta karakter terpuji lainnya. Guru juga harus menjadi sosok yang kehadirannya dapat membuat bahagia peserta didiknya.

Dulu, ketika masih di tsanawiyah (MTsN 1 Takengon), saya terkesan dengan kepala Madrasahnya, bapak M. Said Benu. Beliau saya anggap satu di antara sosok pendidik ideal yang patut diteladani. Dalam mengajar, saya tidak pernah melihatnya marah, apalagi membogem siswa. Tetapi setiap kali dia masuk kelas, tidak ada teman yang usil atau gaduh. Semua terpusat pada materi yang disampaikannya. Meskipun beliau bukan sosok guru yang garang, tapi semua segan dan menghormatinya.

Dengan mempersiapkan diri melalui empat hal yang saya sampaikan di atas, semoga guru kita akan lebih siap dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan ke depan. Di sisi lain, kita berharap kepada pemerintah agar dapat memenuhi hak guru sesuai amanah undang-undang. Kenyataannya, selama ini guru memang selalu dicari, tapi kurang dihargai. Guru dibutuhkan, tapi sering diremehkan. Guru dituntut menjalankan kewajibannya, tapi lupa memberikan haknya.

Akhirnya, kita ucapkan Selamat hari guru. Mari berdoa dengan ketulusan hati agar guru yang telah mendidik kita senantiasa memperoleh kebaikan di dunia maupun akhirat, dan diberi kesehatan dalam menjalankan misi mulianya. Bagi para guru yang telah mendahului kita, semoga diampuni dosanya dan mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Terima kasih guruku, jasamu akan selalu kami kenang.

*Pemerhati pendidikan, tinggal di Bener Meriah. johan.arka[at]yahoo.co.id.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.