Cekcok Shafda (Shabela-Firdaus)

oleh

Catatan : Joe Samalanga*

Kebiasaan buruk selalu berakhir buruk, dan biasanya itu terjadi pada kalangan muda yang membantah pengalaman orang tua. Kenapa pengalaman tua diperlukan, agar penerus tidak salahmasuk kelubang yang parah.

Di Gayo, kebiasaan uken toa harusnya cukup di gelaran Didong saja, kesenian khas yang diperlukan sebagai sosial kontrol, tidak harus ke situasi cek cok pemimpin negeri ini, karena secara prinsip pemimpin adalah amanah rakyat yang harus mengedepankan kepentingan rakyat, dan bahkan harus menyatukan sumber daya pemikiran yang ada.

Bagi saya cek-cok personil utama di pasangan “Sabda”, antara bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar dan Wakil Bupati Firdaus, adalah kesalahan “kemanusiaan”, dimana efeknya akan buruk pada generasi muda, akan buruk pada masyarakatnya, dan akan buruk pada citra politik di Aceh Tengah, pangkalnya ya yang berseteru adalah bupati dan wakil bupati, imbasnya pasti pada pendukung pula.

Inilah cermin yang pecah, tidak ada tempat lagi untuk orang menaruh harapan, karena sosok yang dia banggakan telah “kehilangan” wibawa, berlaku seperti anak kecil, dan lebih mengedepankan “sok jago”. Nauzubillah Min Zholik”, pemimpin seharusnya menjadi penengah, bijak, adil, dan punya kharisma.

Ini pasti menjadi sejarah memalukan di Aceh Tengah. Saya melihat sejarah inilah yang menjadi bagian penting generasi di Gayo ketika menjalani politik kekuasaan, ternyata butuh waktu dan butuh cerita penting tentang “raja” yang adil, supaya sejarah tidak mengambang akibat etika politik yang salah.

Shabela-Firdaus sedang mainkan cerita “baru” yang lepas dari balutan sejarah awal terciptanya “adat” di Gayo. Lebih memalukan, tindakan dan kelakuan tidak berdasar “adat” sebenarnya, karena menjadi pemimpin punya konsekuensi sebab akibat, semisal menghadapapi keragaman berfikir masyarakat, yang harus dipahami tidak melulu pemikiran sendiri benar.

Didalam pertikaian Shabela-Firdaus yang notabene pemimpun di Aceh Tengah, sebenarnya telah melanggar etika dan kemanusiaan yang mendasar. Semestinya, di situasi bencana begini, mereka pemandu utama untuk.menyelesaikan masalah, malah ribut yang terjadi.

Tentu, semua itu harus menjadi perenungan kita bersama, bahwa banyak nasehat kepada pemimpin dari pendahulu kita untuk menjadikan Gayo sejahtera. Orang dulu tepah banyak mencatatnya, terutama dalam karya-karya seni, mereka.

Munirin Reje yang dilakukan Shabela beberapa waktu lalu pun sudah menampakan kesalahan. Kebiasaan itu.dulu memang terjadi, dilakukan pada bulan syawal di sunggai yang menggalir. Munirin Reje yamg sebenarnya dilakukan atas permintaan rakyatnya, karena hasil panen yang bagus, bukan mandi sembarang mandi, di daerah dingin lagi, bisa kebayang bagaimana adat itu dilakukan, salah dan mengada-ada pula.

Kita berharap peristiwa ini akan menjadi yang terakhir, tanpa harus fahan sebab musababnya, cukup pahami bahwa Shabela dan Firdaus telah gagal menjadi pemimpin Rakyat, karena mereka bertikai diwaktu yang salah, saat sèluruh masyarakat butuh kehadiran pemimpin untuk menyelesaikan persoalan “bencana” yang dialami rakyatnya.

Harapan kita kedepan tentu “badai dan peseteruan” pemimpin kita cepat berakhir, dannkembali instrospeksi diri, dan kembali berjalan bersama menyelesaikan persoalan rakyat, dan tentu mengenyampingkan kepentingan-kepentingan pribadi.

Tetap yakin pada nasehat-nasehat orang-orang tua, karena penghayatan dalam nasehat menjadi penting, sebab mungkin kita bukan bagian yang suka “menghayati”. Penyair dan penulis Syaer Gayo Abdurrahim Daudy atau biasa di sapa Mude Kala, juga menuliskannya dalam “Gelumang Pitu” bahwa pemimpin itu punya 7 tantangan yang harus siap dia hadapi. Berikut syaer Gelumang Pitu dari artikel yang ditulis
Novarizqa Saifoeddin, putra pejuang dan seniman Gayo Alm. Saifoeddin Kadir.

Gelumang tujuh ini kusederen.
Kin inget – ingeten gelumang pitu.
Sara pepatah ini ku perin,
Ku atas pemimpin baring sahan tengku
Gelumang pitu turah i rasa, ku atan ni jema si mujadi ulu.

Yang pertama rugi belenye.
Nan pé yang kedue beden payah demu.
Yang ketige kona pitenah
Ke empat mutamah buet diri padu
Yang kelime wé kona caci
Ke enam wé menjadi ber até karu
Yang ke tujuh i deye setan
Depet miyen wé kona ganggu.

Terjemahnnya;

Yang pertama rugi finansial, artinya seorang pemimpin itu harus rela berkorban materi.
Kedua letih, lelah. Ketiga mendapat fitnah. Keempat, urusan pribadinya terabaikan sebab seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan yang dipimpinnya. Kelima, menerima caci maki. Ke enam, sering dihampiri rasa galau dan bimbang dan yang ketujuh senantiasa di goda setan untuk menyalahgunakan kepemimpinannya.

Si pitu perkara turah i rasa
Oya le makna gelumang pitu
Si pitu perkara ke lepas ilewen
Selamat berjelen mungayuh perahu

Tgk. Mudekala menyebut tujuh hal di atas dengan “Gelumang Pitu” dan jika seorang pemimpin mampu mengatasi ketujuh hal tersebut maka selamatlah kepemimpinan seseorang.

Ke baréng sana ara perpakatan
Wé i bubun kin kepala ulu
Semisel jema menjadi reje
Turah i cube gelumang pitu
Menjadi reje olok di sakit
Merasai pahit lagu empedu
Mikiri rakyat wan kampung
Kune kati beruntung kune kati maju

Menjadi pemimpin tidak mudah, ia harus memikirkan kesejahteraan dan kemajuan rakyat yang dipimpinnya.

Konot ni cerak singket ni peri
Ike mujadi kin kepala ulu
Ke baring sahan jema manusie
Turah i cube gelumang pitu
Ike gere beta nguk i perinen
Gere jadi ilen kin kepala ulu

Gelumang tujuh ini kusederen.
Kin inget – ingeten gelumang pitu.
Sara pepatah ini ku perin,
Ku atas pemimpin baring sahan tengku
Gelumang pitu turah i rasa, ku atan ni jema si mujadi ulu.

Yang pertama rugi belenye.
Nan pé yang kedue beden payah demu.
Yang ketige kona pitenah
Ke empat mutamah buet diri padu
Yang kelime wé kona caci
Ke enam wé menjadi ber até karu
Yang ke tujuh i deye setan
Depet miyen wé kona ganggu.

Terjemahnnya;

Yang pertama rugi finansial, artinya seorang pemimpin itu harus rela berkorban materi.
Kedua letih, lelah. Ketiga mendapat fitnah. Keempat, urusan pribadinya terabaikan sebab seorang pemimpin harus mendahulukan kepentingan yang dipimpinnya. Kelima, menerima caci maki. Ke enam, sering dihampiri rasa galau dan bimbang dan yang ketujuh senantiasa di goda setan untuk menyalahgunakan kepemimpinannya.

Si pitu perkara turah i rasa
Oya le makna gelumang pitu
Si pitu perkara ke lepas ilewen
Selamat berjelen mungayuh perahu

Tgk. Mudekala menyebut tujuh hal di atas dengan “Gelumang Pitu” dan jika seorang pemimpin mampu mengatasi ketujuh hal tersebut maka selamatlah kepemimpinan seseorang.

Ke baréng sana ara perpakatan
Wé i bubun kin kepala ulu
Semisel jema menjadi reje
Turah i cube gelumang pitu
Menjadi reje olok di sakit
Merasai pahit lagu empedu
Mikiri rakyat wan kampung
Kune kati beruntung kune kati maju

Menjadi pemimpin tidak mudah, ia harus memikirkan kesejahteraan dan kemajuan rakyat yang dipimpinnya.

Konot ni cerak singket ni peri
Ike mujadi kin kepala ulu
Ke baring sahan jema manusie
Turah i cube gelumang pitu
Ike gere beta nguk i perinen
Gere jadi ilen kin kepala ulu

*Dewan Redaksi LintasGAYO.co

Comments

comments