Muhasabah Isra’ Mi’raj 1441 H ; Menjaga Shalat, Melawan Covid-19 dan Solidaritas

oleh

Oleh : Muhammad Nasril, Lc, MA*

Saat ini kita sudah berada di akhir bulan Rajab 1441 H, dimana pada akhir bulan ini, tepatnya kemarin, Minggu 27 Rajab 1441 H ada satu peristiwa besar dalam sejarah umat Islam.

Peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (sirah) Rasulullah SAW, yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra’) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi’raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian).

Peristiwa tersebut menjadi salah satu peristiwa yang selalu dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia setiap tahunnya. Bahkan di Indonesia ditetapkan menjadi tanggal merah, salah satu hari besar umat Islam, sehingga sebagian umat Islam memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj, baik secara instansi resmi pemerintah maupun masyarakat umum.

Namun, kondisi saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Gaung peringatan hari Isra’ dan Mi’raj ini jauh dari wah dan meriah, bahkan perayaan secara nasional dan lokal Aceh terpaksa ditunda. Karena kita sedang diuji dengan wabah penyakit yang hampir merata di seluruh dunia, yaitu Virus Corona.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh juru bicara penanganan Covid-19 Indonesia, angka positif terjangkit virus tersebut terus bertambah. Pemerintah terus berjuang dengan berbagai kebijakan sebagai bentuk ikhtiar pencegahan penyebaran wabah Covid-19 di negara kita.

Wabah tersebut juga telah merambah aktivitas ibadah shalat berjamaah umat Islam di masjid, seperti disampaikan dalam fatwa MUI begitu juga dengan Malaysia, Mesir dan bahkan Masjidil Haram tempat awal peristiwa Isra’ itu terjadi, kini juga terdampak dari wabah tersebut.

Kita berdoa semoga badai ini cepat berlalu dan diberikan kekuatan, ketabahan dan kesehatan untuk mereka pahlawan yang berada di garda terdepan melawan wabah ini, serta diberikan kesembuhan bagi semua saudara kita yang sakit. Amin

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj memiliki berbagai hikmah bagi umat Islam, diantaranya adalah turunnya perintah wajib shalat lima waktu. Shalat merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam yang telah baliq, berakal, suci, masuk waktu. Perintah wajib shalat ini diistinbatkan melalui dalil Qath’I dan termasuk salah satu rukun Islam, amaliah inti seorang muslim, kalau shalat diabaikan maka Islamnya menjadi cacat.

Tapi, sekarang ada yang ganjil dengan perintah shalat tersebut, orang yang meninggalkan shalat menjadi hal biasa, mereka lalai terhadap perintah shalat. Berbagai alasan mereka jadikan dalih mengabaikan shalat, mulai dari asyik internet-an, games, sibuk dengan pekerjaan, pakaian tidak suci dan alasan-alasan lainnya yang sering dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan shalat.

Kesibukan menjadi alasan nomor satu meninggalkan shalat. Padahal ini tidaklah menjadi sebuah alasan, apalagi di Aceh walaupun pekerjaan sangat padat, namun tetap ada waktu istirahat, makan dan shalat. Hanya individu tertentu saja yang tidak mau berusaha untuk melaksanakan shalat di kesempatan yang ada, bahkan ironisnya waktu untuk istirahat yang diberikan dalam pekerjaan lebih diutamakan untuk merokok dari pada shalat.

Kalau melihat kondisi mesjid di Aceh sebelum ada fatwa dari MUI dan MPU terkait wabah Covid-19, sebagiannya sangat memprihatinkan, kondisi mesjid yang luas tidak diiringi oleh jama’ah yang banyak, belum lagi kalau harus dibandingkan antara masjid dengan kedai kopi.

Bagi mereka yang sudah terbiasa menjalankan dan sudah menemukan nikmatnya shalat, sesibuk apapun ia tetap shalat. Baginya, shalat di samping kewajiban juga terdapat kenikmatan yang luar biasa. Keterbiasaan atau istiqamah dalam menjalankan shalat membutuhkan sebuah upaya sungguh-sungguh dalam menjalankannya.

Karena itu, peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini menjadi ajang bermuhasabah untuk evaluasi shalat kita selama ini, berapa banyak shalat yang tinggal dengan sengaja dan tidak sengaja, berjama’ah dan tidak jamaah. Oleh-oleh yang dibawa oleh Rasulullah SAW dalam Isra’ dan Mi’raj untuk kita yaitu shalat lima waktu hendaknya senantiasa kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada lagi alasan untuk meninggalkan shalat kecuali alasan syar’i seperti haid dan nifas.

Meski peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini tidak semeriah biasanya, apalagi saat ini kita sedang dalam menghadapi musibah wabah Covid-19 mudah-mudaham kita dapat mengambil pelajaran untuk tidak lagi meninggalkan shalat. Amin. Mari dirikan salat saudaraku!!

Selamat memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab 1441 H. Semoga Covid-19 cepat berlalu, masjid-masjid makmur dan kita bisa menjaga shalat. Saatnya kita bersatu, bersama sama melawan wabah ini, hancurkan Ego, tinggalkan kepentingan politik dan solidaritas sesama kita.

Mari jadikan peristiwa agung ini sebagai momen menjaga, merawat persatuan dan Kebersamaan kita, bersatu melawan Covid 19. Jangan bandel, saling membantu and no hoax.

*ASN Kemenag Aceh

Comments

comments