Jatuhnya Benteng Pëparik (Bag 7) ; Neeb si Juru Foto

oleh
Ilustrasi Neeb Si Juru Foto Belanda

Oleh : Win Wan Nur*

Matahari naik semakin tinggi, para Marsose masih menikmati waktu rehatnya di tempat terbuka di tepi Berawang Tasik yang berair jernih.

Beberapa Marsose dengan lahap menikmati makanan dalam nesting, panci khas militer yang terbuat dari aluminium. Sebagian menikmati kopi dan yang lain mengobrol santai dengan temannya.

Orang-orang hukuman yang dipekerjakan sebagai kuli angkut logistik berkumpul sesama mereka agak jauh dari anggota pasukan. Mereka sangat mudah dibedakan dengan para Marsose. Kalau para Marsose itu semua berseragam militer lengkap dan bersepatu, orang-orang hukuman ini memakai baju seadanya, beberapa bahkan tak berbaju dan beberapa bertelanjang kaki.

Aroma kopi dan bau ikan asin bakar menyengat menggugah selera siapapun yang mendekat ke sana.

Agak jauh dari tempat mereka, sosok laki-laki jangkung berambut pirang dengan pakain putih-putih bersepatu boot hitam sibuk dengan peralatannya, sebuah peranti kayu berbentuk kotak dengan lensa kaca yang memantulkan cahaya di depannya. Peranti itu dipasangnya di atas perangkat berkaki tiga yang terbuat dari logam.

Laki-laki itu terlihat sangat serius di balik peralatannya. Sesekali dia menekan tombol yang berada di bagian atas kotak kayu di atas kaki-kaki logam itu. Tiap kali dia menekan tombol itu terdengar bunyi “Klik” kemudian dia menunggu selama 30 detik, berharap objek yang dia foto tidak bergerak supaya gambar yang diambil tidak buram. Setelah itu dia mengambil sebuah plat, memasukkan yang baru memutar posisi kotak kayu itu, lalu menekan tombol itu lagi dan bunyi “Klik” kembali terdengar, menunggu 30 detik dan kemudian berpindah lagi.

Bidin memperhatikan setiap gerak-gerik orang ini dengan seksama.

Sejak mereka masih dalam perjalanan menuju ke Gayo Luës ini. Gerak-gerik orang yang resminya adalah dokter militer yang bertanggung jawab atas kesehatan pasukan Marsose dan tim pendukungnya ini, selalu menjadi perhatian sang kejurun berusia muda ini.

Piranti dan perangkat berkaki tiga yang dimiliki sang dokter, begitu istimewa di mata Bidin. Teknologi modern yang tak pernah ada di Gayo sebelumnya. Piranti dan yang menjadi bukti nyata, bagaimana tinggi dan superiornya peradaban Eropa.

“Betapa kecilnya peradaban Gayo ini dibandingkan dengan peradaban tuan-tuan ini,” gumam Bidin di tengah rasa kagumnya.

Setelah beberapa bunyi klik, laki-laki jangkung yang mengoperasikan peranti itu menghentikan aktivitasnya dan duduk di samping Bidin.

“Tuan Neeb, perlengkapan milik tuan ini hebat sekali. Baru kali ini saya melihatnya,” ungkap Bidin memulai pembicaraan. Bidin benar-benar mengagumi peralatan itu karena memang dia sama sekali belum pernah menyaksikan teknologi secanggih itu dalam hidupnya, bagaimana pemandangan yang dia lihat sehari-hari bisa dipindahkan ke dalam selembar kertas dengan gambar yang persis sama seperti yang dilihat dengan mata. Seperti sihir saja.

“Ya, ini namanya kamera tuan Kejurun,” ujar laki-laki jangkung berambut pirang itu dengan nada suara riang dan bibir menyunggingkan senyum. Tidak seperti para perwira tempur yang kentara sekali memandang rendah Bidin, dokter ini masih menunjukkan rasa hormat pada statusnya sebagai seorang Kejurun.

“Seandainya, saya dulu punya peralatan seperti milik tuan Neeb, tentu saya bisa menunjukkan pada anak cucu saya, seperti apa wajah bapak saya dan wajah saya waktu kecil,” kata Bidin.

Neeb tersenyum.

“Kalau saja kita tidak dalam suasana perang seperti ini, sayapun sebenarnya ingin sekali bisa mendatangi kampung-kampung di Gayo ini dan mengambil foto dalam suasana damai. Saya ingin mengambil foto acara pernikahan orang Gayo, saya pikir itu akan menarik,” ungkap Neeb tentang keinginannya.

Benak Neeb tiba-tiba dipenuhi kenangan yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Saat itu dia berada di Lombok mengikuti Christiaan, abangnya yang seperti dirinya dan ayah mereka juga berprofesi sebagai dokter militer. Selain sebagai dokter militer, abangnya ini juga seorang ahli fotografi. Dari Christianlah Neeb mempelajari teknik-teknik fotografi.

Selama di Lombok, abangnya mengambil begitu banyak foto-foto penduduk Lombok yang bersuku sasak dengan pakaian kebesaran mereka terutama saat melaksanakan upacara pernikahan. Mengingat itu, Neeb pun jadi sangat terobsesi untuk membuat foto-foto tentang penduduk Gayo dalam kostum terbaik mereka.

“Wah, kebetulan sekali tuan Neeb, tidak lama lagi Sepi’i adik saya akan menikah. Nanti kalau tuan mau, tuan saya undang untuk mengambil gambarnya,” tawar Bidin.

“Oh, tentu saja. Tapi dia tidak akan menikah dalam waktu dekat saat kita masih dalam perang ini kan?”

“Tentu saja tidak tuan, tidak mungkin saya menikahkan adik saya dalam suasana seperti ini,”

Neeb bangkit dan berencana melanjutkan aksinya, tapi di kejauhan dia melihat van Daalen dan para perwiranya berjalan mendekat ke arah mereka.

Beberapa puluh meter di depannya, Neeb melihat van Daalen memanggil Letnan Kempees ajudannya yang sedang sibuk mencatat segala sesuatu.

***
“ Letnan Kempees!” panggil van Daalen dengan suara penuh otoritas.

Orang yang dipanggil Kempees inipun segera mendekat.

“Siap Overste, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan sopan.

“Apakah foto-foto kemenangan kita di benteng Paser sudah ada yang dicetak?” Tanya van Daalen.

“Sudah Overste, apa perlu saya ambilkan!”

“Ya, tolong ambilkan, saya mau lihat,” perintahnya.

Kempees segera bergegas berjalan menuju ke arah Neeb yang berada dekat perantinya.

“Dokter Hendrik, Overste ingin melihat hasil foto kemenangan kita di Paser yang kamu tunjukkan kemarin.” Ujarnya ketika dia berada tepat di depan Neeb.

Kempees, tak pernah memanggil Neeb dengan nama keluarganya. Ajudan van Daalen ini selalu memanggilnya dengan nama depannya, Henricus Martinus, yang disingkat oleh Letnan Kempees menjadi Hendrik.

“Baik,” Sahut Neeb lalu memberi kode jari kepada orang hukuman yang pada ekspedisi ini ditugaskan sebagai kuli angkut.

Laki-laki bercelana panjang tak berbaju dan bertelanjang kaki yang dipanggil oleh Neeb, dengan berlari-lari kecil bergegas menuju ke arah sang dokter.

“Sahaya tuan, ada yang bisa sahaya bantu,” ujarnya dengan wajah menunduk tak berani menentang wajah si jangkung berambut pirang ini.

“Iya, kamu ambil tas foto saya di dalam tenda dan bawa ke sini,” perintah Neeb.

H.M Neeb merasa sangat terbantu dengan pesatnya kemajuan teknologi fotografi belakangan ini. Berkat penemuan teknologi kertas cetak Colodion pada tahun 1865, lima tahun sebelum dirinya lahir. Sekarang dia bisa mencetak tiap foto yang dia ambil tanpa harus menunggu melihat hasilnya saat tiba dikota, dengan resiko banyaknya foto yang rusak karena plat-plat gelatin kering yang digunakan sebagai negative rusak selama proses pengangkutan yang lama.

Berkat teknologi mutakhir ini, ketakutan-ketakutan seperti itu sebagaimana yang ditakutkan para fotografer pendahulunya tidak perlu dia alami. Meski untuk itu dia harus dibantu oleh sembilan orang pekerja paksa untuk mengangkut semua peralatan fotografinya. Tapi itu semua tidak ada masalah karena Overste van Daalen tanpa ragu memenuhi semua yang dia butuhkan, termasuk Sembilan orang pekerja paksa yang ditugaskan mengangkut semua peralatannya.

Si orang hukuman inipun segera lari kembali dengan bergegas menuju tenda milik Neeb.

Pada ekspedisi militer ini, Neeb memang membawa peralatan afdruk dan kamar gelap yang diangkut oleh orang-orang hukuman yang mereka pekerjakan. Sehingga foto-foto yang dia ambil sepanjang ekspedisi ini bisa segera dia cetak dan dilihat oleh semua orang.

Tidak berapa lama, orang hukuman itu sudah kembali, membawa tas kulit besar milik Neeb.

Neeb mengambil tas tersebut dari tangan si orang hukuman, menentengnya lalu bersama Kempees dia berjalan beriringan untuk menemui van Daalen.

***
Van Daalen, mengambil lembar demi lembar dan memperhatikan gambar-gambar dalam kertas foto yang ada di tangannya.

Di gambar itu terlihat jelas titik-titik serangan mereka pada benteng Paser, diikuti dengan gambar-gambar mayat-mayat penduduk Paser bergelimpangan, tumpang tindih berlumuran darah berserakan di bawah pohon, di kolong rumah. Neeb memotret mayat-mayat itu dari jarak dekat, dengan luka-luka mereka dan wajah yang terdistorsi terlihat jelas.

Pada lembaran lain, terlihat gambar pasukannya mengacungkan kelewang dengan sikap bangga penuh kemengangan dalam posisi kaki menginjak tubuh para bajingan Gayo yang baru saja mereka tumpas habis.

Di lembar lain dia melihat pemadangan alam dari barisan pegunungan yang mereka lewati dalam perjalanan menuju ke tempat ini.

Bibir van Daalen menyunggingkan senyum, kumis baplangnya yang tak seberapa lebat kalau dibandingkan dengan kumis dan janggut milik para perwiranya tampak bergerak-gerak.

“Bagus, pertahankan terus seperti ini,” ujarnya membuat Neeb merasa sangat lega.

Sejak awal ketika dia meminta Neeb untuk ikut ekspedisi ini sebagai juru foto, van Daalen memang hanya memiliki satu motif. Dia membawa Neeb sebagai fotografer adalah untuk mengumpulkan bukti visual dari kemenangan dan keunggulan pasukannya di bumi Gayo dan Alas.

Van Daalen ingin menjadikan itu sebagai pesan yang melekat pada gambar-gambar yang diambil Neeb.

Van Daalen memerintahkan Neeb untuk tidak memotret adegan demoralisasi. Dia mau kehidupan militer dalam ekspedisi yang dipimpinnya ini hanya ditunjukkan dari sisi heroik dan kenyamanan yang menyertainya.

Van Daalen tidak mau prajurit Marsose yang terluka atau terbunuh digambarkan dengan cara sebagaimana para korban di kampung-kampung yang dia serang. Sebab van Daalen memang bermaksud menjadikan foto-foto ini sebagai elemen-elemen propaganda yang meningkatkan moral pasukan, bukan melemahkan.

Melalui foto-foto yang diambil oleh Henricus Marinus Neeb, van Daalen juga bermaksud supaya orang-orang bisa melihat foto-foto bivaknya, termasuk yang ada di rumah sakit lapangannya sendiri, yang menunjukkan bagaimana cakapnya dirinya sebagai komandan berdarah setengah pribumi ini mengelola dan mengaturnya.

Terkait : Jatuhnya Benteng Pëparik (Bag 6) ; Strategi Perang Van Daalen

Comments

comments