Kekelang Rukut Telangke Sange ; Istilah Populer Meminang dalam Adat Gayo

oleh

Oleh: Turham AG*

Kekelang rukut telangke sange merupakan dua istilah sangat popular terutama dalam munginte (meminang) pada masyarakat Gayo, terdiri dari kekelang rukut dan telangke sange. Kedua istilah tersebut memiliki pengertian dan makna sama sebagai utusan, namun dalam penempatan dan penggunaan keduanya berbeda.

Kekelang rukut sebagai utusan komunikasi awal sebelum meminang dan telangke sange sebagai utusan saat meminang, berikut akan diuraikan kedua istilah tersebut.

1. Kekelang Rukut

Kekelang dalam bahasa Gayo berarti perantara dan rukut adalah rumput ranti yang biasa digunakan masyarakat Gayo sebagai sayur dengan rasa agak kepahit-pahitan dan mengandung lemak. Jadi, kekelang rukut sebagai lakap yang dinisbatkan kepada orang (dari keluarga pihak laki-laki) yang akan pergi menjalin komunikasi awal dengan keluarga perempuan sebagai utusan untuk menyampaikan keinginan keluarga laki-laki yang akan menikahkan salah seorang putranya dengan salah seorang putri keluarga perempuan.

Orang yang akan diberi tugas sebagai kekelang rukut tidak mesti atau tidak harus dari kalangan keluarga, karena kekelang rukut merupakan utusan dari pihak kelurga laki-laki dan umumnya sudah dikenal oleh keluarga pihak perempuan, sehingga dalam pembicaraan tentang maksud menikahkan dapat berjalan dengan baik, dalam bahasa komunikasi kekelang rukut merupakan pembawa misi komunikasi secara persuasif.

Dikatakan kekelang rukut karena utusan tersebut belum tentu menerima sambutan baik dari keluarga perempuan dan tidak jarang ucapan menyakitkan yang diterima, tetapi sebagai kekelang rukut dia tetap tenang dan tidak terpancing emosi dengan sambutan dan perkataan yang diterima sebagaimana halnya rukut (ranti), kendati pahit rasanya namun tetap enak dimakan sebagai sayur.

Tugas kekelang rukut sampai kepada komunikasi yang dibawa kepada keluarga perempuan mendapat kesimpulan diterima atau ditolak. Jika ditolak berarti tidak ada kelanjutannya, namun bila diterima dengan ucapan kiasan kite petama pintu beruke alas pedenang dengan istilah lainya welcome (kehadiran untuk meminang diterima) sebagai tanda setuju dan menerima kehadiran serta disepakati atau ditetapkan waktu untuk proses selanjutnya,

2. Telangke sange

Telangke sange merupakan utusan dalam melakukan pekerjaan munginte (meminang), sebab dalam masyarakat Gayo lazimnya munginte tidak dilakukan oleh orangtua kandung pihak laki-laki, melainkan ditunjuk orang tertentu dan dapat dipercaya dari kalangan keluarga tutur ringen (panggilan ringan/mudah) sebagai delegasi, disebut telangke sange karena:

a. Sange (batang ping-ping) yang biasa digunakan untuk gagang pancing, maksud dan tujuan kedatangan telangke untuk ”memancing” anak gadis keluarga perempuan.

b. Sange juga termasuk ringan, hal ini melambangkan telangke adalah orang-orang yang tutur ringan.

c. Sange juga dapat digunakan sebagai pelampung dalam memancing yang dapat memberi gambaran terpancing atau tidaknya ikan, demikian juga dengan telangke adalah orang-orang yang dapat mengetahui tanda-tanda yang diisyaratkan keluarga perempuan tentang pancingan yang diberikan dan memberi gambaran diterima atau ditolak

d. Sange dapat dibuat penjere tama (sangkar untuk menangkap burung), jadi telangke mengaharapkan burung tersebut dapat tertangkap melalui untaian kata yang dirangkai dan disampaikan melalui melengkan (kata-kata puitis serat makna)
Telangke sange sebagai delegasi tersebut beranggotakan antara tiga sampai lima pasang suami siteri. Peranan kaum ibu dalam saat munginte sangat besar mulai dari mempersiapkan alat-alat kelengkapan yang dibawa sampai kepada perbincangan tentang kedua calon mempelai.

Seiring dengan perkembangan zaman, kaum ibu lebih memfokuskan diri kepada peranan mempersiapkan alat-alat yang dibawa saat munginte, untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan telangke disampaikan dalam pidato adat yang dinamakan melengkan (kata-kata puitis yang serat makna) diambil alih oleh kaum laki-laki.

*Dosen STAIN Gajah Putih Takengon

Comments

comments