Spanduk Miskin Ala “Yahudi Ija Kroeng”

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Tentu ada kebanggaan bagi prilaku kejiwaan penyebar “spanduk miskin” bahwa upayanya telah menjadi viral. Namun bagi orang waras, menilai itu sebagai upaya terakhir pelaku yang mencoba mengaburkan prestasi Pemerintahan Aceh.

Beberapa waktu lalu, sempat viral juga pemasangan “stiker miskin” pada rumah permanen milik warga. Dari calon intelektual sampai intelektual sibuk berkomentar, “Orang kaya tidak pantas menerima PKH. Aceh negeri kaya dan pasti ada kesalahan data.” Ketika melihat fakta di lapangan mereka menolaknya, tetapi saat melihat angka mereka menguatkannya dengan spanduk. Lagi-lagi karena kebencian akan bangkitnya prestasi Pemerintahan Aceh saat ini.

Sejarah berulang! Selalu saja ada pada setiap zaman, orang-orang yang menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu tidak datang dari kalangannya. Sesungguhnya inilah kekhawatiran kita, yaitu masuknya anasir watak Yahudi dari 76 karakter buruk lainnya yang dicatat dalam Al-Qur’an. Janganlah sampai sifat itu mengakar kepada kita Bangsa Aceh.

Ini merupakan tantangan hidup Bangsa Aceh ke depan, lahirnya seseorang atau kelompok dengan tubuh dan rupa Aceh, tetapi cara berfikir dan bertindaknya ala Yahudi. Orang-orang seperti inilah yang disebut Muallim Muzakkir Manaf pada awal damai Aceh sebagai “Yahudi ija kroeng.” Casingnya Aceh tetapi hatinya Yahudi.

Kembali kepada soal “spanduk miskin” yang bagi pelakunya sudah merasa sukses, tetapi janganlah karena kebencian pada Pemerintahan Aceh saat ini akan membuat orang-orang Aceh benar-benar menjadi miskin karena tidak bersyukur atas nikmat Allah selama ini dan tidak bersabar dengan kondisi masih pada kehidupan pra sejahtera.

Dalam sebuah Hadits Riwayat Muttafaqun Alaih; “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku.” Kalau mendapat kenikmatan, bersyukurlah, dan kalau terjadi musibah bersabarlah. Apapun yang terjadi dengan kehidupan kita harus berhusnu zhon kepada Allah. Pada Hadits Riwayat Muslim; “Janganlah sampai salah seorang dari kalian mati, melainkan dia harus berhusnu zhon kepada Allah.”

Sesuatu yang kita tulis, kita ucapkan dan kita ikrarkan dalam hati akan menjadi do’a bagi kita. Bergantung isi redaksinya; kalau kebahagiaan yang inginkan maka Allah akan memberikan kebahagiaan. Sedangkan kalau kemiskinan yang selalu kita tulis, kita ucapkan dan kita fikirkan, maka kemiskinan yang akan kita tuai.

Bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, “Allahumma Shalli ‘ala Sayyina Muhammad” (Ya Allah limpahkanlah Shalawat atas junjungan kami Nabi Muhammad) yang selalu kita ucapkan akan memantulkan dan menjadi syafaat bagi pembacanya.

Rhonda Byrne dalam buku “The Secret” menyatakan kehidupan adalah hukum tarik menarik. Kemiripan akan menarik kemiripan lainnya. Fikiran Anda akan menarik fikiran-fikiran serupa ke dalam diri Anda. Senada dengan itu bait do’a, shalawat, ratib, dzikir, barzanji, lagu-lagu Islami pasti akan wujud dalam diri kita karena itu bagian dari prasangka baik kita kepada Allah SWT.

“Spanduk miskin” dimaksudkan sebagai perbuatan iseng atau disengaja yang dimaksud menohok pemerintahan Aceh, sadar atau tidak telah menjadi “do’a meminta miskin” yang seharusnya dikenakan pasal karet subversif karena perbuatannya akan berakibat rakyat Aceh benar-benar akan menjadi miskin. Naudzubillah min dzalik!

(Mendale, 19 Januari 2019)

Comments

comments