Inilah Gayo Terbaru

Selain Jerman, Tim Amerika juga ke Gayo dalam Pembuktian Teori Einstein tahun 1929

Oleh : Win Wan Nur*

Twin Camera yang digunakan oleh Tim Amerika untuk Membuktikan Pelengkungan Cahaya. Yang dipasang di Belang Musara Alun.(foto : articles.adsabs.harvard.edu)
Twin Camera yang digunakan oleh Tim Amerika untuk Membuktikan Pelengkungan Cahaya. Yang dipasang di Belang Musara Alun.(foto : articles.adsabs.harvard.edu)

SEBAGAIMANA diberitakan LintasGayo.co Senin 15 Februari 2015, Erwin Finlay-Freundlich, fisikawan muda Jerman, tangan kanan Albert Einstein berhasil membuktikan kebenaran Teori Relativitas Einstein berdasarkan hasil foto terhadap Gerhana Matahari Total yang difoto di Gayo pada tanggal 9 Mei 1929. (baca : Gayo, Tempat Dimana Teori Relativitas Einstein Menemukan Pembuktiannya)

Tapi setelah ditelusuri media ini, ternyata bukan hanya satu ekspedisi yang datang ke Gayo saat itu. Selain tim Jerman yang diketuai Erwin Finlay-Freundlich, juga hadir tim peneliti dari Amerika Serikat dari Swarthmore College yang menamai Ekspedisinya sebagai  “The Rubel Eclips Expedition by Swarthmore College.

Berdasarkan artikel yang ditulis oleh  ketua tim ini, Prof. John A. Miller dan Prof. Ross W. Mariot dari Swarthmore Collegedimuat di jurnal ilmiah Popular Astronomy milik SAO/NASA Astrophysics Data System (ADS) yang dipublikasikan di website milik Universitas Harvard http://articles.adsabs.harvard.edu/full/1929PA…..37..495M/0000495.000.html.

Tim Ekspedisi dari Amerika ini beranggotakan 9 orang dengan perincian 6 orang akademisi, istri dari Prof. Miller dan Prof. Mariott beserta seorang anak perempuan Prof. Miller yang masih berusia 10 tahun, total ada 9 orang.

Peralatan-peralatan yang akan digunakan oleh tim Amerika ini di Takengen, diberangkatkan dari Swarthmore di Philadelphiapada tanggal 26 Desember 1928. Dan langsung dikirimkan dengan kapal Saparoea milik Belanda yang meninggalkan pelabuhan New York pada tanggal 30 Desember 1928 langsung menuju Belawan di Deli. Sementara 7 anggota ekspedisi menyusul berangkat tanggal 19 Januari 1929, dua lainnya yaitu Prof. Ross W. Mariot dan istri menunggu di San Fransisco dan bergabung tiga minggu kemudian.

Tidak disebutkan tanggal berapa mereka sampai di Medan. Tapi di artikel ini dikatakan di Medan yang mereka puji sebagai kota Metropolis, mereka menjadikan Hotel De Boer sebagai Base Camp. Di Medan lah mereka membeli perbekalan dan material untuk ekspedisi ini.

Disebutkan di sini, Takengen yang dipilih sebagai lokasi pengambilan foto Gerhana Matahari berjarak 475 Kilometer dari Medan yang bisa ditempuh dalam dua hari perjalanan.

Mereka menempuh perjalanan dari Medan ke Besitang menggunakan Kereta Api Uap di Jalur Deli Railwayyang bergerak dengan kecepatan 10 sampai 12 mil per jam(sekitar 16 – 20 km/ jam. red). Dalam perjalanan ini, meski mereka menyewa kabin kelas I yang maksimal hanya diisi 16 penumpang mereka mengaku kepanasan.

Tiba di Besitang pukul 9.30 dan harus mengganti kereta dengan Aceh Tram yang menurut mereka adalah Kereta api mini, karena rel di sini yang jarak antar rel nya cuma tiga perempat meter ini adalah satu-satunya jalur kereta api di Hindia Belanda yang tidak menggunakan jarak standar 1,067 meter.  Kabin kelas I hanya memuat 8 orang penumpang. Kereta ini berjalan dengan laju 12 Kilometer per jam.

Mereka tiba di Langsa pukul 1 siang dan makan siang di sana, dijadwalkan tiba di Lhokseumawe pukul 18.00 tapi jadwal kereta mundur 2 jam, sehinga mereka tiba pukul 20.00 dan menginap di hotel Naas. Sengatan hawa panas dan banyaknya nyamuk adalah pengalaman yang paling tidak bisa mereka lupakan dari bekas ibukota Kabupaten Aceh Utara ini.

Pukul 6.00 pagi mereka melanjutkan perjalanan ke Bireun dan tiba pukul 9.30. Dari sana tak ada lagi Kereta Api. Mereka melanjutkan perjalanan ke Takengen dengan menggunakan mobil sewaan yang dicarikan oleh seorang perwira militer Belanda di Bireuen.

Berbeda dengan perjalanan dari Medan ke Bireuen yang mereka gambarkan penuh penderitaan. Perjalanan dari Bireuen ke Takengen mereka gambarkan sebagai perjalanan yang sangat menyenangkan.  Dengan mobil sedan buatan Amerika yang disopiri oleh seorang pribumi, mereka melintasi jalan militer yang bagus dan terawat dengan pemandangan gunung-gunung tropis yang indah. Mereka berhenti di Blang Rakal dan melihat seekor harimau yang baru saja ditangkap malam sebelumnya.

Dari Blang Rakal mereka melanjutkan perjalanan, ketika sampai di puncak tanjakan (Singah Mata), mereka mengaku terkagum-kagum menyaksikan keindahan pegunungan yang mengelilingi Danau Lut Tawar (dalam artikel ini ditulis Lho Tawar. Red).Melihat pemandangan ini segala letih dan penderitaan selama perjalanan ini langsung terlupakan.

Turun dari Singah Mata, mereka kehilangan pemandangan sebentar sampai tiba di Takengen. Dimana mereka tinggal bekerja selama dua bulan.[] (Bersambung)

Comments

comments