Urgensi Kerjasama dalam Dakwah

oleh

Catatan Jum’at : Mahbub Fauzie*

Kerjasama dalam suatu kebaikan adalah sangat dianjurkan oleh ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Maidah ayat 2 yang artinya “Bertolong menolonglah di dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong di dalam keburukan dan permusuhan”.

Kita menyadari, bahwa suatu kebaikan yang dilakukan dan orang-orang baik yang melakukan kebaikan tentu harus memperhatikan pentingnya kebersamaan. Pentingnya manajemen kebersamaan tersirat dari kata-kata mutiara: “Kebaikan yang tidak terorganisir akan mudah terhancurkan oleh kejahatan yang terorganisir”!

Kegiatan dakwah, baik dalam skala lembaga atau organisasi maupun personal adalah sesuatu yang tidak kalah nilai kebaikannya. Apalagi dakwah itu merupakan upaya ma’ruf dan nahi munkar, mengajak kepada perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan yang sebaliknya (kemungkaran), maka adanya kerjasama dalam kegiatan ini menjadi tidak kalah penting.

Tentang pentingnya kebersamaan dalam dakwah amar makruf nahi munkar, sangat jelas tersebut dalam surah Ali Imran ayat 104 yang maksudnya: “Dan hendaknya ada segolongan umat di antara kamu untuk menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, yang sedemikian itu adalah orang-orang yang beruntung.”

Dalam tatanan kehidupan masyarakat, kerjasama akan memudahkan terselesaikannya suatu pekerjaan berat yang menjadi beban bersama. Perkara dakwah adalah perkara besar yang butuh kerjasama dan penguatan kebersamaan dalam sistem kerja saling tolong menolong (ta’awun). Bahu membahu, saling mengokohkan. Tidak sendiri-sendiri buyar dengan kepentingannya masing-masing.

Kita bersyukur dan bangga, di sekitar kita banyak organisasi kemasyarakatan (ormas) atau lembaga yang bergerak di bidang dakwah semisal Nahdhatul Ulama (NU), Persyarikatan Muhammadiyah, Jami’atul Al-Washliyah, Al-Irsyad dan lain sebagainya.

Juga di sekitar kita juga banyak para juru dakwah semisal mubaligh, dai, teungku, kyai dan ustadz-ustadzah; mereka adalah para penyuara kebaikan dalam tatanan kehidupan umat.

Indah sekali sekiranya kesadaran tentang pentingnya kerjasama antar lembaga dan personal dakwah terwujud dengan sangat sinergisnya dalam setiap kegiatan dakwahnya. Sekali lagi, kegiatan dakwahhendaknya tidak saling jalan sendiri, bergerak sendiri dengan ego masing-masing!

Ilustrasi kerjasama dalam dakwah amar makruf nahi munkar mungkin tidak salah diawali mulai dari skup keluarga, misalnya. Dalam dakwah tarbiyah sebagai upaya pendidikan di rumah tangga atas anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, kerjasama antara ayah dan ibu atau antara suami dan istri sangat menentukan kemana arah keberhasilan produk tarbiyah atas anak-anak kita. Ayah dan ibu atau Suami dan istri karus kompak bekerjasama.

Dalam lingkungan masyarakat, misalnya lingkungan desa. Kerjasama aparatur kampung (kalau di Gayo disebut dengan Sarak Opat) juga sangat penting dalam mewujudkan kemajuan kampung. Peran dan fungsi masing-masing unsur kampung yakni Reje Si Musuket Sipet, Imem Si Muperlu Sunet, Petue Si Musidik Sasat, Rakyat Genap Mupakat, akan bernilai “dakwah” jika dalam menjalankan peran fungsi aparat kampung terlaksana dengan salingbekerja sama.

Dalam perspektif transformasi social, Dakwah juga bermakna sebagai upaya merubah sesuatu kondisi dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari yang sudah baik menjadi lebih baik. Koridornya tentu luas, mencakup perbaikan aqidah, ibadah dan juga akhlaqul karimah baik yang muaranya pada tatanan sosial, ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain.

Kerjasama dalam dakwah atau tolong-menolong dalam dakwah akan sangat menentukan keberhasilan dakwah, baik yang dilakukan secara kelembagaan maupun secara perseorangan. Setidaknya ada tiga pon penting yang sangat menentukan upaya perwujudan kerjasama dalam dakwah:

Pertama, adanya kesadaran pentingnya berdakwah. Dakwah pada hakekatnya adalah menyeru dan mengajak manusia kepada kebaikan. Dan itu adalah tugas yang sangat mulia. Allah menyebutkan bahwa tugas yang paling mulia adalah dakwah. Allah berfirman:“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS. Fushilat[41]: 33)

Kebenaran tidak mungkin akan tersebar kalau kita tidak berdakwah. Justru kalau kita tidak berdakwah, kebatilan akan semakin merajalela. Imam Ahmad berkata, “Kalau aku diam, kamu diam, kapan orang bodoh akan tahu ini benar ini salah?”

Maka ta’awun, saling tolong-menolong ini harus dimulai dengan disadarkan tentang pentingnya dakwah. Karena itu, jangan remehkan satu kalimat kebaikan. Berapa banyak orang yang mendapatkan hidayah hanya karena satu kalimat kebaikan? Bahkan berapa banyak seseorang menjadi ulama besar gara-gara satu kebaikan?

Kedua, adanya kesadaran untuk saling mencintai karena Allah. Kita tidak mungkin bias bekerjasama atau tolonmg menolong jika kita tidak saling mencintai karena Allah. Kalau kita saling membenci, kita tidak akan bisa saling tolong-menolong.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi !” (HR. Muslim no. 2564)

Kecuali karena membencinya karena Allah. Disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”(HR. Tirmidzi).

Abdul Qadir Al-Munawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan cinta karena Allah adalah mencintai seseorang karena ketaatan, ketakwaan, keimanannya. Bukan karena harta atau kedudukannya. Demikian pula kita membenci seseorang karena kemaksiatan dan pembangkangannya kepada Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selama ini kita mencintai teman kita karena Apa? Jika karena satu organisasi, itu bukan cinta karena Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda : “Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut.

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. at-Tirmidzi)

Ketiga, saling menasihati. Sampaikan nasihat dengan cara yang baik. Terkadang, ketika melihat seorang teman berbuat salah, belum dinasihati langsung disikapi. Tentu itu tidak benar. Kalau kita melihat saudara kita berbuat salah dimata kita, nasihati dia secara rahasia. Jangan nasihati dia didepan orang. Jangan pula tiba-tiba sikap kita berubah tanpa ada sebab. Tentu dia akan bingung.

Semoga dengan kesadaran bersama tentang pentingnya kerjasanma dalam dakwah, baik di kalangan organisasi atau lembaga-lembaga dakwah maupun di kalangan para rijalud dsakwah (Dai, Tengku, Kyai, Ustad Ustadzah) maka keberhasilan dakwah dalam rangka pemberdayaan umat menuju Izzul Islam Wal Muslimin dengan segala manifestasinya akan terwujud.

Catatan ini intisari dari Khutbah Jumat tanggal 9 Oktober 2020 di Mesjid Jami Al-Lathifah Kampung Kayu Kul, Pegasing.

*Mahbub Fauzie, adalah alumni Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan sekarang sebagai ASN yang bertugas di KUA Kec. Pegasing Aceh Tengah.


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments