Stereotip Gutel

oleh

Oleh : Ali Makmur*

Dalam kehidupan orang Gayo, kita mengenal sejenis makanan yang boleh dikatakan telah menjadi maskot terutama masyarakat Gayo Lues. Adalah gutel “makanan khas Gayo” yang kemudian menjadi makanan paling istimewa.

Lihatlah, dalam kearifan pertanggalan, kita mengenal adanya waktu “tangkuh rom” (waktu panen padi), jika ada yang panen awal maka akan ada slot untuk gutel (menyiapkan panganan rutin), dan sebagainya.

Gutel terbuat dari tepung beras, kelapa, gula dan garam. Bentuk dari gutel ini seperti genggaman tangan yang dibalut biasanya dengan daun pandan ataupun daun pisang. Cita rasa dari gutel diumpamakan dengan bagaimana kecintaan si pembuat gutel terhadap orang yang diberikan gutel tersebut.

Gutel memiliki bentuk dengan ukuran genggaman yang lebih besar ataupun genggaman gutel yang lebih kecil, dikarenakan fungsi dari Gutel. Pembuatan gutel juga sudah mulai dikreasikan dengan meletakkan hiasan-hiasan dari pitanya tersendiri.

Dalam perkembangannya kemudian, kata “gutel” mengalami perluasan makna dan digunakan sebagai ujaran-ujaran yang berkonotasi negatif. Sebut saja ketika seseorang yang bekerja sembrono dan konyol, orang Gayo akan mengatakannya, gutel. Di tempat lain, ketika seseorang bersikap konyol, maka kita akan berujar, gutel ini menunjukkan ciri khas.

Gutel di sini bermakna konyol dan tak bisa diandalkan. Vulgarnya, kata “Gutel” juga digunakan sebagai simbol identitas daerah yang dulunya menjadi budaya setiap panen padi.

Begitulah, dalam pergaulan sebut saja “pongku” dalam bahasa Gayo (kawan-kawan) juga sedang dilanda apamisme (paham gutel). Sebut’ ampun, misalnya, ketika salah seorang diantara mereka selesai menyatakan sesuatu, tanggapan darinya hanyalah satu kata saja, gutel.

Gutel bagi Ampun adalah kata yang bisa mewakili olokan ia terhadap kawan-kawannya. Ini juga tanda bahwa ia tak pernah suka pada pernyataan serius siapa saja. Suatu hari sepulang dari kampus di sudut kota Minang, Ampun duduk bersama teman-temannya di sebuah warung kopi di sudut kota Minang.

Mereka membahas perkembangan genk yang sedang banyak menjadi buah bibir di kalangan kampus itu. Genk sedang mencari anggota untuk nantinya mereka akan mendirikan komunitas atau pergerakan membela hak-hak para genk di seluruh wilayah Banda dan sekitarnya.

Mereka ingin haknya diakui oleh masyarakat. Para anggota Genk berseragam selaik menunjukkan identitas kebersamaan, segala hal tentang mereka adalah mantan alumni, kecuali “Gutel” saja, barangkali.

Ampun yang bila mengolok selalu menggunakan kata gutel, hari itu juga begitu. Kata teman mereka si chek, eh, katanya genk juga mau meruntuhkan peradaban himpunan yang ada di kampus. Nadanya serius, mukanya hangus. Namun sungguh terkejut ia begitu mendengar Ampun menjawab, “Gutel, mereka punya gutel, gak?” kawan-kawannya tertawa, chek sedikit murka.

“Mukamu itu lama-lama kayak gutel juga ya?” balasnya.

Chek yang kalau tertawa akan keluar aura tampannya dan berlipat-lipat kali rupawannya itu tertawa lagi. Kemudian Chek menambahkan

”Mereka suka membicarakan keburukan himpunan di belakang kita semua,” kawan-kawannya menjawab

”Seperti gutel mereka.”

Ampun menambahkan,”apa kukata, memang mereka seperti apa. Kapan sekali kita periksa gutel mereka?” Chek yang kesal atas pernyataan Ampun dengan suara keras menghardik.

”Kau betul gutel kul, kau sibuk dengan gutel dengan mereka. Mana ada gutel mereka yang meluh-meluh itu, yang ada mereka mungkin bisa bikin gutel karena memang mereka seperti gutel kemul. Paham, gutel?” Ampun ternganga dan tak bisa mengucapkan apa-apa lagi, kecuali kata “Gutel” yang diucapkannya setengah berbisik dan patah-patah. [SY]

Comments

comments