Resam Munoling: Liburan Sambil Belajar Kearifan Lokal

oleh
Ilustrasi Resam Munoling. (Foto : Reny)

Oleh : Muhammad Syukri*

Munoling atau memanen padi, dalam tradisi resam munoling dilakukan oleh perempuan”][/caption] Kemajuan teknologi pengolahan hasil pertanian tanpa disadari telah “mengikis” tradisi panen yang sudah mengakar dalam sebuah komunitas.

Merontokkan bulir-bulir padi dengan menggunakan kaki (mujik-bahasa Gayo), perannya telah digantikan oleh mesin perontok. Dahulu, memisahkan bulir bernas dengan bulir hampa memanfaatkan angin (munangin-bahasa Gayo), kini sudah digantikan oleh mesin. Pendeknya, mesin telah mengambil beberapa peran penting dalam sebuah tradisi. Dikalangan masyarakat Gayo, tradisi panen dikenal dengan istilah resam munoling.

Mereka yang memahami tradisi panen atau resam munoling itu sudah sangat sedikit. Generasi muda yang lahir diatas tahun 1990-an sama sekali buta terhadap tradisi resam munoling, boleh jadi akan menjadi sejarah bagi mereka. Kearifan lokal resam munoling tak mampu bertahan, dikalahkan oleh teknologi, karena pada dasarnya manusia ingin serba cepat dan praktis.

Begitulah penuturan Aman Fauzan (62), tokoh masyarakat Toweren yang diwawancarai beberapa tahun silam di lokasi berlangsungnya Festival Resam Munoling, Toweren Aceh Tengah.

Bagi Aman Fauzan yang juga sebagai dewan juri festival itu, sangat mengapresiasi upaya Pemkab Aceh Tengah yang memperkenalkan kembali kearifan lokal resam munoling. Dia mengakui, kalau memanen padi mengikuti tradisi resam munoling, memang bisa makan waktu hampir sebulan lamanya.

“Orang tua saya dulu harus mandah ke sawah, karena semua tahapannya dikerjakan secara manual, kalau sekarang sudah pakai mesin, lebih praktis,” sebut pakar budaya Gayo itu.

Dalam tradisi menanam padi (resam berume-bahasa Gayo) di Tanoh Gayo, terdapat kebiasaan tidak tertulis yang berlaku secara turun temurun. Misalnya, jelas Aman Fauzan, membajak sawah sampai siap tanam plus menyemai benih merupakan tugas laki-laki.

Pada tahap mencabut bibit, menanam bibit dalam petak sawah, menyiangi sampai memanen merupakan tugas perempuan. Mengumpulkan hasil panen dari tengah sawah, mengangkutnya ke pondokan, dan merontokkan bulir padi dengan memijaknya (mujik) merupakan tugas laki-laki. Lalu, untuk menganginkan (nangin-bahasa Gayo) yaitu memisahkan bulir bernas dari bulir hampa menjadi tugas perempuan.

“Sekarang, kerjasama seperti itu sudah berkurang, karena resam munoling tidak sepenuhnya digunakan lagi,” tambah Aman Fauzan.

Hebatnya lagi, ternyata resam munoling itu menjadi momentum bertemunya muda-mudi. Pengalaman inilah yang diceritakan Inen Win (60) salah seorang peserta dari Kecamatan Kebayakan.

Di era nenek itu, muda-mudi tabu untuk bertemu disembarang tempat, beda dengan saat sekarang, bisa bertemu di sekolah atau pasar. Menurut Inen Win, dengan ikut gotong royong dalam tradisi resam munoling di era itu, mereka bisa saling menyapa, melirik, bercanda sampai berkenalan. “Hanya itu satu-satunya kesempatan muda-mudi bertemu,” tambah Inen Win.

Cara berkenalannya tergolong unik, si pemuda menitip salam melalui bibi (tante) si pemudi. Kemudian, jika si pemudi berkenan, dia akan menitip kode-kode tertentu yang ditulis dengan kapur diatas selembar daun sirih.

Kemudian, daun sirih itu diselipkan dalam raden (rangkaian padi yang sudah disabit/dipotong). Rangkaian padi itu sengaja diikat oleh si pemudi diatas rumpun padi. Saat si pemuda mengumpulkan hasil panen yang sudah disabit (dipotong) oleh si pemudi itu dari tengah sawah, rangkaian itu tersangkut dirumpun padi. Kalau si pemuda memaksa menarik rangkaian itu, bisa jadi jemarinya akan teriris.

Intinya, supaya si pemuda memberi perhatian khusus terhadap rangkaian padi (raden) itu karena didalamnya ada surat yang ditulis pada selembar daun sirih.

Manakala si pemuda menemukan pesan pada lembaran daun sirih itu, si pemudi dan teman-temannya memantau dari kejauhan, lalu memekik dengan yel-yel: ahoiiiii….wiiiiiiwww. Pekikan itu disebut dengan mulawi, tandanya si pemuda sudah tahu bahwa “gayung bersambut.”

Begitulah, ternyata dibalik kearifan lokal resam munoling yang dirancang oleh nenek moyang kita, mereka menyediakan ruang untuk kaum muda-mudi. Memang, para perancang kearifan lokal itu tidak pernah menjelaskan secara eksplisit karena proses itu bagian dari tabu.

Hari ini, warga yang menghabiskan liburan di lokasi Festival Resam Munoling menemukan rangkaian itu. Para wisatawan dan pengunjung bisa menyaksikan, bagaimana tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun itu kembali direkonstruksi.

“Kisah dan tahapan resam munoling menginspirasi saya untuk menulis novel,” ungkap Zuliana, mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Medan. []

Comments

comments