Pertalian Mendale dan Kenawat Lut

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Berbagai macam tujuan orang menggali, mengkaji dan menggunakan sejarah. Ada untuk kepentingan intelijen, mendapatkan gelar akademik, sekedar ingin tahu dan ada pula agar tahu diri. Apapun tujuannya akan bermuara kepada kepuasan bathin.

Saya salah seorang yang suka belajar sejarah, yang kata sebagian orang hanya cerita tentang orang-orang yang sudah mati. Sejarah lebih dari sekedar bicara romantisme tentang masa lampau yang sempit, seperti yang orang klaim, para istri itu bisa disebut ahli sejarah, ketika ribut dengan suaminya semua peristiwa masa lalu diungkap.

Bukan, bukan begitu neneng, penggalian sejarah itu lebih kepada pengetahuan tentang perjalanan “panggung sandiwara” diri karena gerak manusia pada ruang dan waktu serta perputaran alam semesta ini tidak ada yang kebetulan. Allah SWT telah merencanakan semuanya, tidak kecuali daun kayu yang gugur dari cabangnya. Semua memang menjadi rahasia Allah SWT, hanya sedikit bocoran kepada manusia yang mau berfikir.

Ketika saya bertapa di dalam gua, ada perang dalam bathin, apa sebenarnya yang mengantarkan saya ke Mendale? Mengapa ketika konflik saya merasa aman di sana? Bagaimana pertalian Mendale dengan Kenawat? Ternyata semua ada benang merah sejarah yang menghubungkannya. Subhanallah!

Pada zaman dahulu, datanglah utusan kerajaan dari pesisir yang mengharuskan kerajaan yang berpusat di Kebayakan agar tunduk kepada mereka, namun lantaran ulah orang dalam istana yang licik menyampaikan berita yang diplintir bahwa seolah kerajaan menolak tunduk. Padahal sebaliknya raja telah menyatakan siap berada di bawah kerajaan pesisir.

Pernyataan raja di Kebayakan yang diputarbalikkan itu membuat berang raja di pesisir, sehingga mereka memerangi raja di Kebayakan. Dalam peristiwa itu hanya dua orang yang selamat; Tengku Malun yang populer dengan panggilan Sapuarang dan Tengku Suhu Renem yang merupakan anak dari panglima kerajaan.

Mereka bergeser ke Blang Kolak (Lapangan Musara Alun sekarang), namun pasukan raja pesisir dan pengkhianat mengetahui keberadaan, sehingga kedua orang pewaris kerajaan di Kebayakan itu terpaksa pindah ke Hakim Bale, namun masih diketahui. Akhirnya mereka menyelamatkan diri ke Kenawat (rumah di atas pohon).

Tengku Malun dan Tengku Suhu Renem membagi Kampung Kenawat menjadi dua Blah, yaitu; Blah Setie Reje, yakni anak keturunan Tengku Suhu Renem, sedangkan anak keturunan Tengku Malun menjadi Blah Kemala.

Pertalian sejarah itulah yang membuat orang-orang tua di Kebayakan, pada masa konflik, berang ketika ada rencana kelompok tertentu akan membakar Kampung Kenawat Lut. Begitu kuat ikatan bathin keduanya, sampai orang-orang tua rela mandi darah kalau sesuatu terjadi pada kampung Kenawat Lut.

“Kalau sempat mereka membakar kampung Kenawat Lut, maka kami orang-orang Kebayakan siap bangkit bertempur melawan kelompok itu,” tegas orang-orang tua Kebayakan pada masa itu.

Dalam satu bulan terakhir saya kerap pergi ke Kenawat, berziarah ke makam ayah dan ibu saya. Satu waktu, dari Kampung Mendale saya hendak ke Kenawat, saya singgah karena telah lama tidak menjenguk Abang sepupu saya, Anda Putra yang tinggal di Pasar Pagi dan bekerja di KUA Bebesen.

Beliau mengajak saya ke kantornya, sebenarnya saya tidak suka dengan keramaian, tetapi karena sopan santun dan hormat kepada Abang saya itu, terpaksa saya ikut saja. Di KUA itu ada beberapa pasangan muda yang akan menikah dan ada pula yang akan sedang mendaftar mengakhiri masa bujang dan gadisnya. Saya teringat syair lagu Melayu, “Riwayat bujang berakhir sudah, malam pertama kenangan indah.”

(Mendale, Kamis, 9 Juli 2020)

Comments

comments