Pendidikan Kita, Penyakit Lama Kambuh Kembali

oleh

Oleh : Johansyah*

Beberapa waktu lalu, saya coba browsing informasi update seputar pendidikan. Saya buka situs Republika online (ROL), tiba-tiba muncul berita tentang ‘PGRI tolak mata pelajaran sejarah dihapus’ (21/09/20). Dari conten berita yang saya pahami ada wacana Kemdikbud menghapus mata pelajaran sejarah dari SMA/SMK. Alasannya untuk penyerderhanaan kurikulum 2013.

Dalam hal ini organisasi guru PGRI menyatakan dengan tegas menolak rencana ini karena dianggap membuat resah dan menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Menurut PGRI, pelajaran sejarah berkontribusi penting untuk memberikan pemahaman dan penanaman nilai perjalanan suatu bangsa kepada generasi selanjutnya sehingga terbentuk watak yang baik dari suatu bangsa.

Sebagai pemerhati, terkadang kita merasa jengkel dengan wacana ini, dan ada juga rasa lucunya. Bagi saya ini adalah penyakit lama yang kambuh lagi dalam sistem pendidikan Indonesia, yakni otak-atik kurikulum. Kita sepertinya tidak memiliki pekerjaan lain yang lebih penting, hanya menimbulkan kegaduhan saja.

Hemat saya, menghapus mata pelajaran sejarah dari kurikulum adalah kebijakan konyol. Dalam situasi seperti ini bahkan orang akan menginterpretasi upaya penyederhanaan ini sebagai upaya pendangkalan wawasan generasi muda tentang sejarah kelam bangsa ini.

Minsalnya agar mereka tidak lagi paham dengan jejak hitam dan kejamnya komunis di negeri ini. Kalau mereka tidak lagi paham, suatu saat paham ini akan tumbuh dan berkembang dengan bebas tanpa hambatan.

Dari tinjauan berbagai aspek landasan pengembangan kurikulum, maka sulit pula menegaskan bahwa mata pelajaran sejarah itu tidak penting. Sejarah adalah masa lalu yang dijadikan pelajaran, bahan evaluasi, tolok ukur perkembangan, sumber keteladanan, sumber informasi, inspirasi bagi generasi muda, sekaligus peringatan atas peristiwa sejarah kelam agar tidak terulang di masa mendatang.

Melupakan sejarah itu bagaikan melupakan ibu kandung kita. Bagaimana memutuskan pertalian rahim antara kita dengannya, kecuali hanya anak durhaka yang melakukannya. Demikian halnya sejarah, bahwa kita ini memiliki pertalian jaman dengan masa lalu. Lantas tegakah kita memutuspertalian jaman itu?

Lihatlah al-Qur’an

Mari kita perhatikan al-Qur’an sebagai kitab suci dan pedoman hidup. Kalau diperhatikan, begitu banyak konten al-Qur’an yang bercerita tentang kisah para nabi, kelompok, sosok yang sangat baik, dan juga sosok yang sangat jahat. Al-Qur’an juga bercerita tentang asal mula kejadian alam semesta, penciptaan manusia, sejarah perkembangan dunia, dan masih banyak lagi. Ini semua adalah masa lalu yang diabadikan oleh al-Qur’an.

Lalu untuk apa al-Qur’an menceritakan itu semua? Dalam salah satu firman-Nya ditegaskan: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Jawabannya sudah jelas, karena dalam sejarah itu ada ibrah (pelajaran) yang sangat berharga bagi kita. Dari kisah para nabi kita mendapatkan nilai-nilai keteladanan; perjuangan, kerja keras, tanggung jawab, kejujuran, keberanian, strategi menghadapi berbagai rintangan hidup, kesabaran dalam masalah dan seterusnya.

Dari tokoh-tokoh yang berkarakter buruk kita juga mendapatkan pelajaran agar tidak berkarakter seperti mereka; jangan seperti Fir’aun, jangan seperti Namruz, jangan seperti Qarun dan sebagainya. Atau jangan seperti kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan umat-umat para nabi yang membangkang dan kufur terhadap nikmat Allah SWT.

Proklamator sekaligus presiden Indonesia pertama adalah sosok yang sadar sejarah hingga dia pernah menyebutkan; ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal dan menghargai sejarahnya’. Dengan kata lain, menghargai masa lalu adalah salah satu syarat untuk menjadi bangsa yang besar.

Kalau kita perhatikan mobil maupun sepeda motor, mengapa harus ada kaca spion? Fungsinya untuk melihat kondisi dan situasi di belakang. Seorang sopir harus jeli melihatnya. Tidak boleh langsung tancap gas dengan hanya melihat ke depan. Sebagai contoh saja, ketika sang sopir ingin mendahului kendaraan yang ada di depannya, dia harus memastikan dulu apakah ada kendaraan lain di belakang yang melaju kencang. Kalau ya, dia harus melihat momen yang tepat untuk menyelip, jika tidak dapat membahayakan dirinya.

Bangsa ini juga demikian, tidak boleh membuang sejarah karena sejarah itu spion untuk melihat kondisi masa lalu dan selanjutnya dijadikan bahan evaluasi. Berpikiran progres dengan berorientasi ke depan memang harus, tapi bukan berarti harus menghapus masa lalu. Jika ada sejarah kelam, jadikan cambuk dan pengalaman berharga agar tidak terulang di masa yang akan datang.

Fokus pada peningkatan kualitas guru
Dalam berbagai kesempatan saya selalu menekankan pentingnya peningkatan kualitas guru. Sebab kalau ada persoalan dalam pendidikan kita, bukan sebenarnya bukan kurikulumnya yang bermasalah, tapi lebih pada persoalan guru sehingga bukan kurikulumnya yang terus diubah atau diganti, tapi mutu atau kualitas gurunya yang perlu ditingkatkan secara terus menerus.

Terlepas dari apa dan bagaimana model kurikulum yang dikembangkan, faktor guru patut menjadi perhatian semua pihak. Keberhasilan lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah atau swasta yang komitmen dalam pembentukan karakter peserta didik sangat ditentukan oleh guru. Dengan demikian, agenda reformasi pendidikan pun haruslah berorientasi pada penguatan profesionalisme guru, bukan sekedar revisi kurikulum.

Dalam pembentukan karakter, guru itulah yang menjadi kurikulum inti dan sumber nilai yang menjadi “menu utama” bagi perkembangan karakter peserta didik. Dalam teori pendidikan Islam ditekankan bahwa khususnya dalam pembentukan akhlak, guru itu adalah sosok teladan, dan bisa dikata pendidikan harus berpusat pada guru karena masalah sikap bukanlah masalah pengetahuan apa yang diajarkan, melainkan masalah nilai apa yang ditanamkan pada peserta didik.

Kecuali itu, bahwa untuk urusan pengembangan aspek kognitif dan psikomotorik teori pendidikan yang berpusat pada peserta didik dapat menjadi sandaran, karena kedua aspek ini harus digali semaksimal mungkin dari dalam diri peserta didik.

Akhirnya wacana penghapusan mata pelajaran sejarah di SMA/SMK perlu pertimbangan mendalam dan jangan sampai hanya karena kepentingan sesaat bagi kelompok tertentu kita mengorbankan sesuatu yang sangat besar dari bangsa ini, yakni sejarah.

Kiranya kita juga berharap, para administrator pendidikan di tingkat kemdikbud untuk berhenti membuat program yang hanya melahirkan kegaduhan publik, fokuslah pada masalah substantif pendidikan agar pendidikan Indonesia benar-benar mampu melahirkan generasi cerdas dan berakhlak mulia. Wallahu a’lam bishawab!

*Pegawai Dinas Syari’at Islam dan Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Tengah dan Alumni Persatuan Mahasiswa Takengon (PERMATA) UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Comments

comments