Pandemi K2AC : Kepile, Kopi, ALA, dan Caplak

oleh

Oleh : Husaini Muzakir Algayoni*

Wabah tak diundang datang menghampiri manusia dengan merenggut nyawa, keberadaannya pun mempengaruhi aktivitas dan melumpuhkan roda kehidupan. Mempertahankan hidup di tengah-tengah pandemi bagaikan sebuah perjuangan di tengah perang, lagi pula perang dan wabah sama-sama mempengaruhi kehidupan.

Zaman susah, manusia berada dalam keadaan jaman susah di tengah pandemi, semua profesi mengalaminya. Salah satu profesi yang paling getir adalah petani, harga palawija dan kopi menangis laiknya cucuran keringat petani di tengah terik matahari.

Dalam perjalanannya, pandemi di dua kabupaten yang terkenal dengan aroma kopinya mengalami perisitiwa yang memperihatinkan dan sedikit unik. Demo dari masyarakat menjadi berita utama beberapa pekan dan sasarannya adalah Kepala Desa beserta kantornya.

Untuk mendapatkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) masyarakat terlebih dahulu menanam ‘kepile’ (ubi jalar) dalam rangka ketahanan pangan dan lebih kinclongnya lagi ada sunlight (satu rumah satu sunlight).

Pandemi belum usai, harga palawija dan kopi semakin menangis, kemudian ada momen penting hadir di tengah pandemi yaitu lahirnya kembali perjuangan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) setelah mati tenggelam di Danau Laut Tawar dan dibangunkan oleh Lembide sehingga hidup lagi dengan nafas, semangat, dan tokoh baru yang tidak meninggalkan tokoh lama.

Dengan rasa cinta bisa melahirkan sesuatu, sementara melahirkan provinsi baru berangkat dari tidak adanya rasa cinta atau tidak adil dalam membangun rumah tangga daerah. Maka dari itu, apapun yang terjadi harus pisah.

“Turah mujadi ALA ni,” dengan tujuan bisa mensejahterakan masyarakat dan membangun daerah dengan rasa cinta, begitu kira-kira kalimat indah yang sering menggema. Memang ketidakadilan bisa membuat seseorang melawan dengan cara apapun demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera.

Di tengah pandemi, para pemimpin di Negeri Kopi yang kopinya sebentar lagi akan merekah dengan indah berwarna merah beserta tokoh-tokoh pejuang dalam melahirkan ALA berkumpul di salah satu cafe yang tidak jauh dari taman harmoni Kabupaten Bener Meriah, pada 23 September 2020.

Dalam acara tersebut, orasi menarik datang dari Bupati Bener Meriah Abuya Syarkawi, dengan intonasi dan mimik yang lembut serta beraroma politis Abuya mengatakan bahwa “ALA, 2024 harus bisa ikut pemilu.”

Mendengar kalimat indah aduhai itu, penulis langsung berkontemplasi dengan secangkir kopi yang dibagikan pada waktu orasi tersebut.

Kontemplasi dengan ucapan Armen Desky, tokoh yang ingin melahirkan ALA yang memberikan pernyataan pada 2013 lalu bahwa “Provinsi ALA harus segera terbentuk bahkan paling lama sebelum akhir 2013 sudah terealisasi, target kita bisa ikut pemilu legeslatif 2014.” Pernyataan ini beliau sampaikan pada saat pertemuan dengan tokoh ALA di Medan, Rabu 5/2. (Serambi, 2/2013).

Dalam hal ini juga, penulis langsung menuju Thomas Jefferson yang memiliki pandangan tentang negarawan dan politisi, menurutnya politisi hanya memikirkan pemilihan yang akan datang, negarawan memikirkan generasi yang akan datang.

Lalu ada Georges Pompidou yang mengatakan bahwa “Negarawan adalah politisi yang menempatkan dirinya untuk berbakti kepada negaranya. Politisi adalah negarawan yang menempatkan negara untuk berbakti pada dirinya.

K2AC

Pandemi membawa masyarakat berduyun-duyun menanam ‘kepile’ untuk bisa mendapatkan BLT selain untuk ketahanan pangan, program yang telah berlalu. Hari ini, hati petani riang bersiap-siap menyambut datangnya biji merah. Namun, petani pun merasa was-was dan gundah gulana dengan harganya yang menangis. Nah, bagaimana pemerintah menyikapinya atau fokus dulu ke ALA?.

Mutiara hijau bernama caplak hadir di tengah pandemi menghibur hati petani dengan syairnya yang indah, ia pun bernyanyi “Bintang kecil di langit yang tinggi, amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada.”
Caplak terbang dan menari karena pada hari Kamis, 24 September harga caplak sudah berada di angka Rp. 20.000 per kilogram (kg). Alhamdulillah.

“Pandemi belum usai, ‘kepile’ aman di dalam karung, harga palawija dan kopi semakin menangis, tapi sudah memikirkan pemilu 2024 dengan provinsi barunya. Ahhh sudahlah, harga caplak sedikit menghibur getirnya hati petani dan membuat tersenyum manis, tapi tak semanis senyuman politisi yang doyan berujar manis.”

*Penulis, Anak Petani


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :


 

Comments

comments