Musim Panen Segera Tiba, Diprediksi 90 Ribu Ton Kopi Gayo Akan Kesulitan di Ekspor

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : Salah seorang pengamat ekonomi di Gayo, Zulfikar Ahmad memprediksi akan ada 90 ribu ton kopi Arabika Gayo yang akan mengalami masalah alias tak bisa di eskpor pada musim panen September-Desember 2020 ini.

Di memeberikan pandangannya itu saat diskusi sabtuan yang berlangsung Sabtu 22 Agustus 2020 di Bayakmi Coffee.

Menurutnya, ada beberapa permasalahan yang akan menjadikan kopi Gayo tak bisa di ekspor. Terberatnya adalah Pandemi Covid-19 yang membuat buyer luar negeri menyetop sementara pembelian.

“Hitung-hitungan saya 90 ribu ton kopi Gayo akan mengalami idol (tertahan tak bisa ekspor),” ungkapnya.

Menurut Zulfikar, rata-rata ekspor kopi Gayo melalui Belawan, 5 ribu ton per bulan, kalau setahun 60 ribu ton. “60 ribu ton inilah yang mendukung perekonomian rakyat Gayo. Sejak Covid-19 ada penurunan ekspor sekitar 20 persen, artinya cuman lewat sekitar 1000 ton kopi per bulan,” jelasnya.

Kondisi saat ini katanya lagi, sekitar 20 ribu ton kopi tertahan karena tak bisa diekspor yang kini berada di gudang-gudang eksportir. 20 ribu ton ini kata dia, merupakan sisa hasil panen pada April hingga Agustus 2020.

“Secara keseluruhan, menurut hitungan saya ada sekitar 30 ribu ton kopi yang masih idol. 20 ribu di gudang-gudang di Medan, 10 ribunya ada di Gayo,” katanya.

Problemnya, ujar dia September ini petani kopi Gayo sudah mulai panen raya lagi, akan menjadi puncak hingga Juni 2021 mendatang.

“Jumlahnya kalau kita ambil rata-rata ekspor tadi, jumlahnya ada 60 ribu ton ditambah yang idol saat ini 30 ribu ton, berarti akan ada 90 ribu ton kopi yang akan tidak bisa dikirim,” tegasnya.

“Saat kopi turun 0,7 persen jumlah orang miskin bertambah 1000 orang, bisakah kita bayangkan apa yang akan kita hadapi Januari tahun depan,” katanya.

Ia berharap perhitungannya itu salah. Tapi kalau benar, apa yang harus lakukan, mengingat  persoalan saat ini, bukan masalah internal tapi eksternal.

“Bukan kita tak bisa jual kopi, persoalannya tidak ada yang beli. Mereka sudah mulai menurunkan volume permintaan itu sejak April lalu,” kata Zulfikar.

“Biasanya ada eksportir kita yang mengirim 3 sampai 5 kontainer setiap bulan, saat ini satu kontainer pun tidak jalan,” tambahnya.

Menurutnya, bulan Juli lalu, hanya ada satu eksportir yang mengirim sebanyak 12 kontainer dengan harga kira2 di 4 dolar. Artinya, sudah turun dari harga yang semestinya di tingkat internasional yang biasanya 7 dolar.

“Jika menyentuh harga 3 dolar, maka di tingkat petani akan ada harga dibawah 5 ribu per bambu. Apa yang akan terjadi dengan kita,” ujarnya.

Disisi lain, katanya eksportir hingga saat ini belum mendapat kontrak penjualan. Biasanya, 3 bulan sebelum panen mereka (eksportir) sudah mendapatkan kontrak baru dari pembeli.

“Data yang saya dapat, di juli kemarin tidak ada satu eksportir pun yang mendapat kontrak baru. Mudah-mudahan saja saya salah,” demikian Zulfikar Ahmad.

[Darmawan]

Saksikan video lengkapnya disini :

Comments

comments