Kita Terlalu “Menuhankan” Scopus

oleh

Oleh : Johansyah*

Catatan kanda Dr. Joni bertajuk ‘Katanya Hebat, tapi Scopus’ di lini masa facebooknya (14/10/20) cukup menghentak dan menarik untuk didiskusikan.

Di antara substansi yang saya pahami dari artikel tersebut adalah dunia akademis kita sedang dijajah akibat kekeliruan dalam mengambil kebijakan yang awalanya mungkin dianggap sebagai solusi untuk menggenjot gairah penelitian di kalangan akademisi yang bereputasi internasional.

Adapun standar yang ditetapkan di antaranya adalah jurnah yang diterbitkan harus terindeks Scopus.

Awalanya saya juga awam tentang Scopus. Namun karena sering disebut-sebut akhirnya penasaran juga ingin mengetahui lebih banyak. Maka dalam tulisan ini saya mengutip salah satu situs, yakni dosenkita.com yang menguraikan tentang apa itu scopus dan apa fungsinya. Selanjutkan coba mengajukan beberapa pertanyaan dan analisis.

Dalam situs tersebut diuraikan; Scopus adalah salah satu database (pusat data) sitasi atau literatur ilmiah yang dimiliki oleh penerbit terkemuka dunia, Elsevier.

Scopus mulai diperkenalkan ke masyarakat luas pada tahun 2004. Scopus biasanya bersaing ketat dengan Web of Science (WOS) yang diterbitkan oleh Thomson Reuters yang juga menjadi pusat data terbesar di dunia.

Meski WOS lebih dulu terbit dibandingkan Scopus, namun kenyataannya Scopus lebih banyak diminati dan menyediakan lebih banyak jurnal (20% lebih banyak) jika dibandingkan dengan WOS.

Selain Scopus, database lain yang memiliki banyak data yaitu Sciencedirect. Diketahui, database tersebut juga diterbitkan oleh Elsevier. Kedua database ini berfokus pada 4 bidang ilmiah.

Diantaranya, sains fisik dan teknik, ilmu hayati, ilmu kesehatan, dan ilmu sosial humaniora. Scopus tetap memiliki cakupan jurnal yang lebih banyak dibandingkan dengan Sciencedirect. Karena Sciencedirect hanya berisi data tentang artikel dalam jurnal-jurnal terbitan Elsevier.

Selain menampilkan karya ilmiah, Scopus juga menyajikan data hak paten berbagai penelitian di dunia. Scopus juga menyediakan layanan untuk menilai suatu jurnal berdampak signifikan atau tidak. Tingkat pengaruh tersebut dicantumkan sebagai Simago Journal Rank (SJR).

SJR berfungsi mengukur sejauh mana dampak saintifik rata-rata artikel dalam jurnal. Cara pengukuran tingkat dampak pada SJR pada prinsipnya sama dengan perhitungan Impact Factor (IF) yang dikeluarkan oleh Thomson Reuters. IF adalah rata-rata artikel pada suatu jurnal disitasi pada periode 2 tahun.

Dari banyak keuntungan dan diminati banyak orang, tak heran jika banyak juga penulis yang akhirnya berlomba-lomba supaya jurnalnya terindeks Scopus.

Pertanyaannya, kalau sudah terindeks Skopus, benarkah bahwa seorang dosen atau siapa saja dapat dikatakan mumpuni, hanya karena artikelnya dimuat di Scopus? Sementara Scopus sendiri katanya mau melihat sejauh mana dampak saintifik rata-rata artikel jurnal.

Apakah hanya sekedar diukur dari nilai baharunya penelitian, lalu diterbitkan oleh lembaga maupun sistem database yang diakui?
Bukankah kita juga harus melihat standar dan dampak langsungnya bagi masyarakat luas? Lalu apa yang masyarakat tau bahwa artikelnya sudah diterbitkan di Scopus?

Paling masyarakat bingung ketika dia mengatakan bahwa tulisannya sudah terindeks Scopus. Terpenting lagi apa kontribusi pemikirannya secara signifikan bagi masyarakat kalau memang itu gagasan dan pemikiran baru?

Pahamkah masyarakat dengan maksudnya dan cara apa yang dia tempuh untuk memberikan gagasan baru tersebut.

Justru artikel yang sudah dimuat jurnal itu tidak pernah pun sampai ke tangan masyarakat. Pembacanya mungkin hanya satu persen. Itupun para insan kampus dan itu juga tidak semua, sebagiannya saja. Di kalangan mereka saja tidak semua membaca, apalagi di kalangan masyarakat luas.

Kalau mau mendorong para dosen untuk menulis, meskinya bukan hanya terfokus pada satu bentuk ruang kreativitas menulis seperti di jurnal dan jurnalnya harus terindeks di Scopus. Ruang kreativitas lain semestinya mendapatkan apresiasi yang sama.

Minsalkan saja ada dosen yang lebih aktif menulis buku dari pada jurnal. Ada pula lebih suka menulis artikel di media masa, media sosial, maupun media online, dari pada di jurnal.

Bahkan kalau dilihat dampak signifikannya bagi masyarakat, buku lebih cepat menjangkau masyarakat. Apalagi artikel di media cetak maupun online, itu lebih cepat lagi. Jurnal yang terindeks di Scopus, katanya memiliki nilai baharu dan berdampak signifikan bagi pengembangan pengetahuan justru tersimpan rapi di perpustakaan kampus, seperti dimusiumkan.

Ide atau hasil penelitian yang katanya mutakhir di sana ternyata tidak pernah sampai ke masyarakat luas. Hingga dalam pandangan saya, apresiasi terhadap setiap bentuk kreativitas menulis itu harus berkeadilan sesuai dengan kecenderungan orangnya masing-masing.

Katakan buku yang boleh jadi diasumsikan kurang memiliki nilai baharu, tapi buktinya banyak insan kampus yang tidak mampu aktif menulis buku. Demikian halnya artikel di koran yang dianggap sebagai ide lepas, tapi ternyata banyak juga insan kampus yang tulisannya tidak dimuat di media cetak atau online.

Lalu kenapa kita berani mengatakan tulisan di jurnal itu dianggap lebih superior kelasnya dari bentuk kreativitas menulis lainnya.

Menjadi pertanyaan juga, kalau memang masih ngotot mengukur tingkat kehebatan insan kampus dengan jurnal internasional, lalu Indonesia sampai kapan mau ngekor dan mengandalkan Scopus yang nyata-nyata juga memiliki kelemahan sebagaimana yang telah kita rasakan; biayanya mahal, antriannya lama, dan aksesnya sulit. Ini memamlukan dan memilukan, kita mendorong insan kampus untuk giat meneliti dan menulis, tapi aksesnya dipersulit.

Coba pikir lagi, apa kurangnya tenaga ahli di Indonesia pada berbagai bidangnya? Kenapa kita tidak buat sistem database seperti Scopus yang orang-orangnya adalah para tenaga ahli dan profesor Indonesia dan murni milik kita Indonesia?

Sekarang ini ilmuwan kita bisa dikata sangat konyol. Sudah lelah meneliti, tapi penerbitannya diserahkan ke pihak luar, dan harus membayar mahal pula.

Ini yang saya takutkan, kita ini terlalu berbangga diri dengan produk yang berlebel internasional dan luar negeri. Padahal apa yang ada dalam negeri tidak kalah hebatnya. Di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kita juga mestinya tidak jadi pengekor, tapi dapat berdikari.

Kita teliti, dan kita publikasikan sendiri. Kalau memang penelitian kita dianggap penting, pasti pihak luar yang akan mencari kita, bukan sebaliknya. Mohon maaf, tuna susila saja yang menjajakan diri minta dibayar. Apalagi ini urusan ilmu, sungguh harga diri kita hilang.

Jadi jangan terlalu menuhankan Scopus, dan merendahkan karya-karya lain di luarnya. Pertanyaan terakhir, mana yang lebih bagi insan kampus; memiliki sistem database sendiri dan aksesnya mudah serta murah, dari pada terus ‘menyembah’ Scopus dengan kesulitan lain yang harus dihadapi? Semoga ilmuwan Indonesia berhenti menjadi pengekor dan berhenti ‘menyembah’ Scopus.

*Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments