Jadilah Diri Sendiri

oleh

Oleh : Johansyah*

Dulu, salah seorang teman saya kagum sekali dengan sosok KH. Zainuddin MZ. Sebenarnya saya juga kagum dengan sosok yang satu ini, dan saya yakin sebagian besar kita umat Islam juga bersikap sama. Kekaguman kita terhadap beliau karena kehebatannya di atas podium, menyampaikan materi ceramah dengan bahasa yang indah dan rapi, suara khas orator yang menggema, serta humor sentilan yang bikin ngakak.

Nah, teman saya ini berusaha meniru gaya beliau. Dia berceramah dengan gaya Zainuddin MZ. Benar saja, sangat mirip saat dia berkhutbah atau ceramah persis seperti Zainuddin MZ. Tapi bagaimana pun persisnya, orang tetap mengatakan; ‘oh ya, mirip sekali dengan Zainuddin MZ’. Ya mirip saja, tapi tetap bukan Zainuddin MZ.

Jangankan kita yang entah siapanya beliau, anaknya saja tidak mampu, dan tidak mungkin menjadi sosok beliau. Zainuddin MZ ya hanya satu, tidak akan pernah ada dua. Kecuali hanya mirip dengannya, itu banyak, sebab hampir di setiap pasantren gaya Zainuddin ini digandrungi oleh banyak santri.

Bagaimanapun, kita harus tetap menjadi diri sendiri. Jika dipaksakan pun meniru karakter orang lain, kita tetap dianggap kopiannya, dan tidak mungkin lebih hebat dari aslinya.

Coba lihat penceramah lainnya, mereka memiliki karakter masing-masing; Abdul Somad, AA Gym, alm. Uje, alm. Arifin Ilham, ustadz Solmed, Ustadz Das’ad Latif, buya Syakur Yasin, masing-masing memiliki kekhasan sendiri.

Allah Swt itu telah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, syukuri saja apa yang diberikan Allah kepada kita. Dalam sebuah lirik lagunya, D’Masiv merangkai kalimat yang begitu indah; ‘syukuri apa adanya, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik’.

Agar senantiasa kita menjadi hamba yang bersyukur atas apa yang kita miliki, salah satunya sering-seringlah membaca do’a ini; ‘rabbi auzi’ni an asykura ni’matakallaty an’amta alayya wa ‘ala waliwalidayy wa an a’mala shalihan tardhahu wa adkhilni birahmatika fi ibadika shalihin’ (ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua ibu/bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba yang saleh).

Hal yang perlu kita usahakan adalah memahami kelebihan dan kekurangan diri sendiri. kelebihan yang dimaksud adalah potensi-potensi diri yang kemungkinan dapat dikembangkan. Kita ini diciptakan berdasarkan bakat dan minat yang beragam. Ada suka membaca, bengkel, bernyanyi, menulis, musik, melukis, menjelajah, dan hobi-hobi lainnya.

Di hobi maupun bakat sendiri, kita tidak perlu mimpi seperti orang lain yang sudah sukses dalam bidang tertentu seperti yang diuraikan pada awal pembehasan ini. Kalau jadi penyanyi, tunjukkan khas diri diri sendiri. Menulis juga begitu, kita dapat menampilkan gaya bahasa masing-masing.

Makhluk ciptaan lain sebenarnya sudah mengajarkan kepada kita untuk dapat menjadi diri sendiri. Coba perhatikan tumbuh-tumbuhan atau pepohonan. Pohon jeruk akan tumbuh menjadi jeruk. Akarnya, batangnya, dahan ranting, hingga buahnya adalah jeruk.

Jeruk tidak akan berbuah mangga atau sebaliknya. Kecuali itu, kuini mirip mangga, tapi kuini tetaplah kuini. Demikian halnya cempedak, akan tumbuh menjadi cempedak. Kalau ada yang mengatakan cempedak berbuah nangka, itu hanya pribahasa. Dalam kehidupan sesungguhnya cempedak akan tetap menjadi cempedak.

Demikian halnya hewan, seekor kerbau tidak akan pernah menuntut agar dia memiliki taring seperti harimau sehingga dia dapat melawan ketika harimau menebar ancaman. Kerbau akan tetap seperti kerbau yang memiliki dua tanduk dan memakan rerumputan. Harimau juga tidak pernah merasa kurang dengan apa yang telah dimilikinya.

Dia tidak pernah menuntut agar badannya besar seperti gajah agar jabatannya sebagai raja hutan dapat lebih kokoh lagi. Dengan memiliki ukuran besar badan seperti gajah dilengkapi dengan taring dan cakar tajam, jadilah gajah pun takut dan takluk dibawah kepemipinannya. Tapi tidak, harimau menjalani dan mempertahankan hidup sesuai dengan fitrah yang telah diberikan kepadanya.

Lalu kalau kita harus menjadi diri sendiri dan tidak boleh mimpi menjadi seperti orang lain, lantas kenapa al-Qur’an menyarankan kita agar meneladani Rasulullah Saw? Dalam hal ini tentu harus dipahami maksudnya. Meneladani Rasulullah Saw bukan berarti kita harus seperti beliau, gaya pakaian, cara bicara, lalu beristri banyak, hidup seperti zaman Rasulullah Saw, dan sebagainya. Tentu tidak begitu.

Meneladani Rasulullah Saw adalah meneladani akhlak beliau dengan berdasarkan kaidah umum dan standar kemanusiaan sejati; tentang hubungan ideal antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dalam konteks sosial, manusia dengan makhluk Allah selain manusia, serta manusia dengan alam semesta. Maka hal yang paling inti dari meneladani beliau bukan pada aspek simbolisnya, tapi dari akhlak mulianya secara substantif.

Semua kita mungkin pernah menonton film Tarzan dengan beragam versi. Intinya Tarzan tumbuh dan besar bersama masyarakat hutan, terutama bangsa monyet sehingga tingkah lakunya persis seperti hewan itu. Suatu saat dia berjumpa dengan sekelompok manusia yang kebetulan pergi ke hutan. Awalnya dia merasa asing dengan makhluk manusia yang tidak pernah dia saksikan sebelumnya. Mereka memakai baju, sendal, topi, dan sebagainya.

Tapi yang membuatnya bertanya, kenapa makhluk itu mirip sekali dengannya. Hanya saja bedanya dia tidak memakai baju.
Lama kelamaan dia mulai sadar setelah kelompok manusia ini memberikan pemahaman dan meyakinkannya bahwa dia adalah manusia. Lambat laun dia pun memahami diri bahwa dia memang manusia.

Secara berproses dia kembali pada fitrahnya sebagai manusia meskipun terus dihantui oleh kehidupan rimba yang sedari kecil dia lalui dan alami. Namun begitulah, jika mimang fitrahnya manusia, kita tidak akan pernah menjadi makhluk lain walaupun menginginkannya. Manusia akan tetap menjadi manusia. Kecuali itu, dalam kajian ruhaniyah keagamaan, manusia dalam wujud ruh, banyak yang tidak lagi berbentuk manusia. itu semua tergantung pada sifatnya.

Di akhir cerita ini saya ingin mengisahkan sebuah dongeng anak-anak. Diceritakan seekor anjing sangat iri pada seekor domba yang senantiasa lebih diperhatikan tuannya. Sang domba diberi makanan lezat, kandangnya terurus, dan selalu mendapat perhatian lebih dari tuannya.

Sementara si anjing mencari makan sendiri. sewaktu malam tiba dia ditugasi untuk menjaga domba agar aman dari pencurian. Dia sering mengeluh dengan kondisi ini. Hingga suatu saat dia melihat tuannya memotong domba ini dan dijadikan makanan. Dalam hatinya, si anjing merasa beruntung tidak diciptakan sebagai seekor domba. Karena kalau dia domba pasti sudah dipotong.

Akhirnya, kita boleh kagum dengan seseorang dan mengidolakannya. Tapi itu hanya sebatas dorongan kepada diri agar bekerja keras bisa mengikuti jejaknya. Tapi jangan mimpi kita bisa menjadi dia, karena itu tidak akan pernah terjadi. Untuk itu, percaya saja dengan apa yang kita miliki dan yakinlah dengan itu kita akan meraih sesuatu dengan rasa puas dan senang. Untuk itu, jadilah diri sendiri.

*Pegawai Dinas Syari’at islam dan Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Tengah

Comments

comments