[In Memoriam Idris] Kenangan di Makam Imam Bonjol dan Tekad Majukan Pendidikan Aceh

oleh

Oleh : Muhammad Nasril, Lc, MA*

Orangnya sederhana, bicaranya blak-blakan, ramah kepada setiap orang baik atasan maupun bawahannya. Adalah almarhum Idris, sosok yang pernah menjabat sebagai Kabid Penmad Kanwil Kemenag Aceh.

Setahun lalu, saat saya dan Pak Idris  berada di kota Manado dalam rangka kegiatan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan Madrasah Young Researcher (MYRES).

Di kota itu kami memiliki banyak waktu berdiskusi, berbagi pengalaman, termasuk menasehati saya dengan petuah-petuah menyejukkan dan juga cita-cita untuk memajukan pendidikan madrasah dan pesantren di Aceh.

Kesederhanaan dan blak-blakan dan tampil apa adanya adalah sifat aslinya. Tak berlaku kasta dan tahta dalam bermuamalah, ia senantiasa memperlakukan stafnya sama dengan yang lain, semua jadi partner.

Hari itu  Jum’at (20/9) di kota Manado, kami kontingen Aceh pada KSM dan MYRES 2019 rihlah ke sejumlah tempat wisata di kota itu, saya kebetulan satu mobil dengan Pak Idris. Saat itu kami berziarah ke makam pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Hampir semua kita mengenal atau pernah  mendengar  cerita tentang  pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol, meski kisah perjuangannya sampai diasingkan dari tanah Minang tidak tahu detail, tapi setidaknya kita telah mengenal sosok itu sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Menurut cerita dari penjaga makam, yang merupakan keturunan kelima dari pengawal setia Tuanku Imam Bonjol bahwa beliau diasingkan ke Desa Lota, Pineleng, Kabupaten Minahasa pada  tahun 1839, ikut bersamanya seorang pengawal setia.

“Tuanku Imam Bonjol sampai dengan akhir hidupnya, tidak menikah sehingga tidak mempunyai keturunan di sini, yang menikah hanyalah pengawal setianya yang menikahi gadis Minahasa dan muallaf sehingga penyebaran agama Islam di Minahasa saat itu berkembang,” ujarnya kepada kami.

Makam tersebut terletak tidak jauh dari Kota Manado, hanya sekitar sekitar 40-45 menit ke arah jalan Tomohon, berada di bangunan  seperti rumah adat Minang bercat putih 15 meter x 7 meter, di dinding ada gambar ilustrasi Imam Bonjol menunggangi kuda yang menggambarkan perjuangannya melawan penjajah Belanda.

Di batu nisannya bertuliskan Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin bergelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional. Ia Lahir tahun 1774 di Tanjung Bungo/Bonjol Sumatera Barat, wafat tanggal 6 November 1854 di Lota Minahasa dalam pengasingan kolonial Belanda karena berperang menentang penjajahan.

Idris terlihat khusyuk dan lebih lama dari yang lain berada di dekat makam, membacakan ayat-ayat Alquran dan  memanjat doa kepada Allah di makam mulia itu.

Kemudian kami menuju ke belakang sekitar 90 meter, di sana ada sebuah batu besar yang diyakini dulu digunakan Imam Bonjol untuk shalat dan di sebelahnya  juga mushalla sehingga para penziarah dapat melaksanakan shalat di sana.

Menurut penjaga makam, saban hari ramai dikunjungi wisatawan dari beberapa wilayah di luar Sulawesi Utara. Bahkan, pengunjung mancanegara pun sering kali mampir untuk melihat tempat peristirahatan terakhir sang pahlawan.

Banyak pelajaran berharga dari kisah dan cerita mereka yang tau tentang sosok Tuanku di Imam Bonjol, meski diasingkan ke kota paling jauh dan minoritas tak menyulut semangatnya untuk berjuang dan juga menyebarkan Islam.

Saat jalan kembali, kami kembali bercerita, kali ini tentang cita-cita mulianya, perannya sebagai Kabid Madrasah dalam memajukan pendidikan di Aceh, dengan menggagas beragam inovasi agar anak-anak Tanah Rencong tidak ketinggalan di banding daerah lain.

Ia ingin merubah sistem manual di madrasah ke arah digital. Para siswa madrasah menjawab soal secara daring menggunakan komputer, laptop, tablet atau gawai. Perangkat tersebut disambung dengan server dan soal yang dikerjakan sama di seluruh Aceh.
Sistem ini layaknya ujian nasional (UN) diterapkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu. Bedanya, di madrasah berlaku untuk ujian semester.

“Dengan ujian online ini kita bisa lihat sampai di mana nilai mereka (siswa). Karena soal diacak dia jadi jujur. Hasil nilai itu sudah tertampung server nanti kita kembalikan ke guru,” jelas Idris.

Penerapan ujian semester daring, sebut Idris memang ada plus minusnya. Pertama Aceh saat ini tidak punya mutu standar pendidikan, hanya berpatokan secara nasional. Selain itu, sinyal serta peralatan di daerah pedalaman Tanah Rencong masih terbatas.

Meski demikian, dengan adanya sistem online itu, nantinya Kanwil Kemenag tahu kualitas guru. Dia menerangkan, nilai yang diperoleh siswa menjadi tolak-ukur kesuksesan seorang guru dalam mengajar. Jika nilai siswa 50 persennya di bawah rata-rata, guru harus berbenah serta memperbaiki sistem belajar mengajar.

Selain itu, ia ingin menyamakan mutu pendidikan di seluruh Aceh, siswa di perkotaan hingga pedalaman mendapat kualitas pendidikan yang sama.

Ia berharap, dengan adanya sistem tersebut tercapai tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan Tanah Rencong. Dia berharap dalam dua tahun ke depan pendidikan Aceh berada pada peringkat tiga nasional.

Tak hanya untuk siswa, ia juga bercerita tentang inovasi untuk tenaga pengajar. Para guru diwajibkan mengikuti ujian kompetensi guru (UKG) online untuk mengukur kemampuan mereka.

“Kita bicara kompetensi guru harus di tingkatkan ternyata hari ini kita tidak punya ukurannya walaupun secara nasional kita punya standar tapi standar itu sampai di mana sudah dan sejauh mana sudah,” ungkap Idris.

Untuk menjawab tantangan tersebut, UKG Online diterapkan mulai 2019. Setelah adanya inovasi ini, Kemenag Aceh tahu kualitas guru yang mengajar setiap mata pelajaran. Ternyata masih banyak ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang memiliki nilai di bawah rata-rata.

“Hari ini kita buat UKG online, dan ternyata nilai guru kita sangat miris rata-rata mereka ada yang nilainya 10 hingga 40 jarang-jarang ada yang nilainya 50. Kalau nilainya 40 apa mungkin dia bisa ngajar nilai anaknya (siswanya) 100, gak mungkin,” beber Idris.

“Makanya ini jadi bahan evaluasi untuk kita dan kepala madrasah sehingga apa yang harus dilakukan. Bidang studi apa dia yang lemah. Kita harapkan pemerintah tidak mungkin karena sudah dianggarkan biaya kompetensi guru artinya dia sudah profesional. Yang sudah profesional itu tidak perlu lagi dilatih pemerintah, makanya harus latihan sendiri,” jelasnya.

Idris membeberkan inovasi lain yang diciptakan Kemenag Aceh dalam bidang pendidikan madrasah. Saat ini, Kemenag punya sistem kenaikan pangkat online bagi tenaga guru di daerah.

Sistem online ini tercipta untuk menjawab keluhan guru ketika mereka mengurus kenaikan pangkat. Sewaktu menggunakan sistem manual, proses pengurusan kenaikan pangkat tergolong ribet. Para guru harus menyiapkan berbagai persyaratan dalam bentuk hard copy.

Setelah itu, mereka membawa ke Kantor Wilayah di Banda Aceh. Ketika sampai, ada saja persyaratan yang tercecer atau tidak lengkap. Alhasil, mereka harus kembali lagi ke kampung halamannya.

Tapi kini keadaan berbeda. Kemenag Aceh sudah meluncurkan Sistem Informasi Manajemen Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit (Simdupak) Guru berbasis online. Lewat sistem tersebut, para guru tidak perlu lagi ke Banda Aceh hanya untuk mengurus kenaikan pangkat.

“Para guru ini tinggal scan saja persyaratan yang diminta kemudian unggah. Nanti diterima oleh admin dan diperiksa oleh tim di Kanwil Kemenag,” kata Idris.

Nah para guru yang sudah mengunggah data dapat mengetahui berkas mereka disetujui atau ditolak. Selain itu, setelah diperiksa juga muncul pemberitahuan usulan diterima atau ditunda. Di situ juga tertera alasan yang menyebabkan usulan ditunda.

“Aplikasi ini sudah kita luncurkan dan berlaku mulai kenaikan pangkat 2020,” jelasnya.

Selain mendigitalisasi madrasah, Kemenag Aceh juga mengajak pihak sekolah memberlakukan Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) setiap dua jam usai kegiatan. Hal ini untuk mendidik mental dan hati siswa.

“Itu ukuran barometer untuk bagaimana hati kita, kemudian kepala madrasah juga mengharapkan harus mencapai ESQ minimal per semester mereka 1 kali. Semacam muhasabah jadi yang pertama bisa dilihat sejauh mana kebersamaan hubungan emosional, kegiatan sosial harus ada dalam bingkai ikhlas beramal,” harap Idris.

Idris juga berharap, para guru dalam mengajar tidak selamanya berorientasi pada uang. Tapi dia menyarankan tenaga pendidik untuk mengamalkan ikhlas beramal dengan niat ibadah.

Menurut Idris, slogan ikhlas beramal di kalangan guru saat ini sudah mulai memudar. Banyak guru dalam proses belajar mengajar menargetkan jam pelajaran agar mendapatkan dana sertifikasi.

“Jarang sekali mengajar itu ikhlas, tempo dulu guru kita lebih ikhlas meski anak didik 10-12 orang. Itu yang harus kita tiru, sekarang sudah mulai memudar. Guru harus mencerdaskan anak didiknya,” bebernya

Memasuki awal 2020, ia bercerita cita-citanya agar suatu hari kelak dapat memimpin Bidang Pendidikan Pondok Pesantren, ia ingin berkhidmat dan menghabiskan sisa umurnya di sana, cita-cita mulia itu karena ia melihat masih perlu perhatian serius pendidikan pesantren di kampungnya Aceh Tenggara. Tapi, tuhan tahu yang terbaik untuknya.

Sosok yang ramah itu telah pergi selamanya pada Rabu (4/3) pagi di RSUD Zainal Abidin Banda Aceh.

Tentu, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh dirundung duka.

Idris menghembuskan napas terakhir di rumah sakit daerah tersebut sekitar pukul 04.03 WIB di usianya 50 tahun, didampingi keluarga dan sejumlah pejabat  di lingkungan Penmad Kemenag Aceh.

Malam itu, Senin 9 Maret 2020 hampir 300 jajaran Kemenag se-Aceh berkumpul di Aula Hotel Harmoni Kota Langsa, di tengah keramaian ada satu yang hilang, semua tertunduk, hening saat Pak Djulaidi mengajak hadirin membacakan Ummul kitab untuk Almarhum Idris.

Duka cita mendalam atas kepergian Idris semoga beliau husnul khatimah, diampuni segala dosanya dan ditempatkan di SyurgaNya bersama para syuhada dan shalihin.

Beliau merupakan pekerja keras, inovatif dan telah membuktikan prestasi gemilang pada KSM 2019 di Manado, nama Aceh harum di sana, jasa beliau begitu banyak dalam pembangunan pendidikan madrasah di Aceh, semoga menjadi tambahan amalan beliau.

Jenazahnya dimakamkan di tempat asalnya di Kabupaten Aceh Tenggara, namun sebelum diberangkatkan jenazah terlebih dahulu dishalatkan di Meunasah Baet Ulee Kareng (dekat kediamannya di Banda Aceh). Alfatihah. []


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments