Gerakan Literasi (Geli) Seni Membaca

oleh

Oleh : Husaini Muzakir Algayoni*

“Seni membaca adalah keahlian untuk menangkap semua bentuk komunikasi sebaik mungkin. Sebuah akademi yang baik, paling tidak harus mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten membaca secara sintopikal.”

Setiap tanggal 8 September ditetapkan sebagai Hari Literasi Internasional oleh UNESCO, definisi literasi yang dikenal secara umum adalah kemampuan menulis dan membaca, kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan.

Hari ini kemampuan dan minat baca semakin tergerus dan memperihatinkan di Indonesia, hadirnya tekhnologi membawa kesan bahwa membaca tidak perlu lagi karena sudah diambil alih oleh youtube dan televisi untuk memperoleh informasi. Dengan kata lain lebih banyak mendengar daripada membaca dan menjamurnya budaya menajamkan lisan daripada menajamkan pikiran.

Hadirnya tekhnologi menjadikan aktivitas membaca tidak lagi terfokus pada buku seperti era sebelumnya, bahan bacaan pun tersedia di google dan informasi datang bagaikan tsunami di media sosial, dari itu diperlukan kecerdasan literasi digital dalam mengarungi lautan informasi yang semakin dahsyat.

Nah, soal membaca; sudah banyak yang membahas urgensi dari membaca itu sendiri. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita mendengar kata-kata sengatan listrik yang berbunyi “Buku adalah jendela dunia” dan kunci membuka jendela dunia tersebut adalah dengan membaca.

Ketika penulis duduk di bangku sekolah menengah dulu, guru mata pelajaran bahasa Indonesia menyuruh kami untuk membaca buku, dua sampai tiga halaman dan dihitung berapa detik/menit siswa menyelesaikan bahan bacaan tersebut serta diberi tenggat waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan satu buku.

Menurut hemat penulis, guru mata pelajaran bahasa Indonesia mempunyai peran penting dalam memantik minat baca siswa di sekolah, mengajarkan teknik-teknik membaca secara efektif, dan memberikan stimulus kepada siswa menjadi pembaca yang baik dan aktif.

Secara umum tujuan membaca adalah untuk kesenangan, informasi dan untuk pemahaman. Tiga tujuan tersebut, teknik membacanya pun berbeda-beda, dengan kata lain bahwa membaca mempunyai seni, yaitu seni membaca.

Buku menarik dari Mortimer Adler dan Charles van Doren dengan judul “How to Read a Book” (1972) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Lala Herawati Dharma dengan judul “Seni Membaca dan Memahami Beragam Jenis Bacaan” (2015) menyebutkan bahwa seni membaca adalah keahlian untuk menangkap semua bentuk komunikasi sebaik mungkin.

Paskal pernah mengatakan bahwa “Jika kita membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, kita samasekali tidak memahami apa pun.” Dari itu, tujuan buku ini ditulis untuk mengajak semua orang untuk membaca dengan lebih baik, selalu lebih baik, walaupun kadang-kadang lebih lambat, dan kadang-kadang lebih cepat.

Kita mungkin ada yang ingin membaca banyak tapi hanya punya sedikit waktu atau ingin membaca buku tebal dalam waktu singkat tanpa kehilangan sedikit pun pesan dari buku tersebut. Buku ini juga memandu para pembaca untuk membaca secara cepat dan memahami teks secara efektif, langkah-langkah yang ditawarkan di dalam buku ini menjadikan aktivitas membaca sebagai seni.

Di dalamnya memuat pokok-pokok penting seperti: menggali literatur dengan metode baca khusus untuk beragam jenis bacaan, fiksi, dan nonfiksi. Strategi memilih bacaan secara tepat guna menghindari bacaan yang mubazir. Bersikap kritis terhadap ilmu pengetahuan dan cara pandang sang penulis, cara ini bisa dilakukan dengan meresensi buku, dan efektif memahami bacaan secara akurat.

Dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, kita selalu membaca. Namun, pertanyaannya adalah apakah kita sudah menjadi seorang pembaca yang baik? Atau sebaliknya kita menjadi seorang pembaca yang buruk dan tidak kompeten?.

Nah, di buku Mortimer Adler dan Charles van Doren ini disebutkan bahwa ada empat tingkat dalam membaca. Tingkat pertama dalam membaca dinamai dengan membaca tingkat dasar atau tingkat permulaan. Orang yang sudah menguasai tingkatan ini, ia akan beralih dari buta huruf menjadi orang yang sedikitnya mulai melek huruf.

Tingkat kedua dinamakan dengan membaca secara cepat dan sistematis, tingkat membaca ini ditandai dengan penekanan khusus pada waktu, tingkat ini adalah memperoleh sebanyak mungkin informasi di dalam waktu tertentu. Nama lain dari tingkat membaca ini yaitu membaca sekilas atau pra-membaca. Membaca cepat adalah seni dari membaca sekilas secara sistematis.

Tingkat ketiga, membaca secara analitis. Membaca tingkat ini membaca secara menyeluruh, lengkap, membaca dengan baik yang terbaik yang bisa dilakukan. Jika membaca secara cepat dan sistematis adalah membaca dengan cara yang terbaik dan terlengkap dengan waktu yang terbatas, maka membaca secara analitis adalah membaca sebaik dan selengkap mungkin dalam waktu yang tidak terbatas.

Mortimer Adler dan Charles van Doren menegaskan bahwa membaca secara analitis jarang diperlukan jika tujuan dalam membaca hanya sekedar mencari informasi atau kesenangan. Tujuan dari membaca secara analitis adalah untuk memahami. Kalau hanya sekedar membaca koran di pagi hari sambil menyeruput secangkir kopi, maka kita tidak perlu membaca secara analitis.

Tingkat membaca keempat adalah membaca secara sintopikal, ini adalah jenis membaca yang paling kompleks dan paling sistematik atau disebut juga dengan membaca secara komparatif. Membaca secara sintopikal jelas merupakan aktivitas membaca yang paling aktif dan paling memuaskan serta manfaatnya begitu besar.

Sebuah akademi yang baik, paling tidak harus mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang kompeten membaca secara sintopikal. Seorang dengan gelar sarjana muda harus mencerminkan kompetensi umum dalam membaca sehingga dapat membaca semua bentuk naskah yang ditulis untuk pembaca umum.

Dari uraian di atas, penting kiranya diketahui dan diperhatikan bagi mahasiswa di perguran tinggi, kalau membaca sekedar membaca, siswa di sekolah dasar juga membaca. Dari itu, dengan mengetahui seni membaca dan memahami beragam jenis bacaan kita bisa meningkatkan kualitas teknik bacaan.

Membaca fiksi dan nonfiksi atau membaca koran tentunya tidak sama dalam teknik membacanya, disinilah letak seni membaca. Bagi penulis sendiri membaca harus dinikmati dengan tenang sehingga buah dari membaca itu bisa diperoleh pemahaman, imajinasi, kebahagiaan dan kesenangan. Semua itu tentunya harus didukung dengan suasana dan tempat yang sesuai.

Membaca lebih nyaman ketika berada di kedalaman malam ditemani dengan suasana sunyi dan secangkir kopi. Selain perpustakaan, hari ini suasana cafe yang semakin eksotis menambah daftar menu tempat membaca paling asyik dan juga bisa mengunjungi perpustakaan digital yang ada di smartphone.

Dengan mengetahui seni-seni membaca, paling tidak kita bisa menjadi seorang pembaca yang baik dan untuk membudayakan membaca/gerakan literasi harus ada dorongan dari setiap individu masing-masing serta stimulus dari guru-guru kita, khususnya guru mata pelajaran bahasa Indonesia untuk memantik minat baca.

Nah, mari kita gerakkan literasi, ayo membaca. Membaca dengan seni, dengan seni hidup terasa indah. []

*Penulis, Kolumnis LintasGAYO.co. Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry.


Ikuti channel kami Pemred LintasGAYO, jangan lupa like and subscribe :

https://youtu.be/K8vcly-0Lws

Comments

comments