Didong, Bahasa dan Etika

oleh
Lukisan Didong karya Putr Gara. (foto: ist)

Oleh Arfiansyah

KEDAI dan warung kopinya sangat sederhana. Terbuat dari papan, berlantaikan tanah, dan ber-wall-papers plastik. Warung itu juga berfungsi sebagai ruang tamu. Warung kopi di depan Mahkamah Syari’iyah itu berbeda jauh dari cafee atau warung kopi yang menjamur di pusat kota Takengen yang terlihat indah dan modern.

Saya menghampiri pemiliknya, Ceh Daud Kala Empan, setelah usia mengunjungi Mahkamah Syari’ah untuk sebuah keperluan.

Sepertinya, hampir semua orang yang menyukai Didong mengenalnya, atau minimalnya pernah mendengar lagu legendarisnya, Keriting Salon.

Seperti kebiasaan dua tahun yang lalu, saya bertanya banyak hal kepada dia, sama seperti saya bertanya untuk belajar banyak hal kepada orang lainnya. Kabar baru darinya yang saya dapat bahwa dia masih aktif ber-didong kala diundang oleh saudara-saudara (orang gayo).

Tapi dia menarik diri dari ajang Didong Jalu. “Berdidong jalu sekarang itu hanya menimbulkan dosa” ujarnya. Didong Jalu sudah kehilangan maknanya sebagai adu sastra, kedalaman pikiran akan realita, dan kekayaan kosa kata yang indah. Didong Jalu kini berubah menjadi ajang saling ejek, saling hina dan saling merendahkan.

Pernah katanya, panitia di satu daerah bahkan mengharapkan dua klub Didong yang berjalu untuk melakukan itu, “ike ngok lagu male betengkah kam. Ta ike gere kati ku oser kam ari ini (kalau bisa kalian seperti hampir saling tikam. Kalau tidak saya akan usir kalian dari sini).”

Ceh Empan, menarik diri dari ajang itu setelah melakukan refleksi yang dalam tentang lirik lawan dan juga liriknya. “yah, tidak baik Wen (nak), ke dosa kita diarahkan.” Katanya reflektif.

Didong menurutnya, mulai kehilangan makna sebagai media pendidikan, pengingat, dan pembaharu segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat gayo seperti agama, sosial dan budaya berubah menjadi ajang yang merusak itu semua. Sayangnya, penonton juga suka dan menuntut seperti itu. “kalau tidak demikian, kita juga akan disorakin penonton.” Sambung Ceh Empan.

Didong merupakan tradisi Gayo yang masih lestari. Dari sudut pertunjukan, Didong berubah dari tradisi seni masyarakat ke konsumsi orang kaya.

Setelah kemerdekaan hingga tahun 1990an akhir, Didong Jalu kerap tampil di desa-desa dan kecamatan. Didong Jalu awalnya hanya sebatas didong Jalu antar klub di satu kecamatan. Karena bosan dengan klub itu-itu saja, Didong Jalu mulai menampilkan klub Toa dan Uken. Tapi para Ceh dulu tidak mengenal pemisahan Gayo ke dalam Uken dan Toa yang beredar dalam masyarakat.

Perwakilan masing-masing belah murni karena ingin mengembangkan dan mengalakan didong itu sendiri, mengasah dan menguji ke dalam pemikiran dan keindahan sastra Ceh didong. Kecairan uken toa pada dunia sastra Gayo terlihat ketika Sali Gobal dari Bebesen mengangkat Mustafa A.K dari Kebayakan, yang waktu itu masih muda belia, sebagai penerusnya pada sebuah momen Didong Jalu.

Pada saat itu, Sali Gobal langsung berdiri dan menghampiri Mustafa, menyalaminya, memeluknya dan mengumumkan bahwa Mustafa adalah penerusnya. Sali Gobal mengaku kalah pada pertunjukan itu. Pengakuan kalah itu hanya karena “Pepit (burung Pipit)” pada lirik didong Sali Goba dibalas dengan “Kalang (Burung Elang) oleh Mustafa.

Karena semaraknya didong pada saat itu, Pemerintah Daerah pun memfasilitasi lokasi-lokasi didong sebagai hiburan rakyat, misalnya pada tahun 1980an hingga tahun awal 1990an di Terminal bus dulu.

Tidak ada pemenang dan kalah dalam Didong Jalu pada masa lalu. Mereka mengadu sejauh mana kedalaman syair yang mereka susun beberapa jam sebelum pertunjukan atau bahkan secara spontan di atas pentas. Syair yang kaya dan miskin makna ditentukan oleh penonton.

Ceh Daud Kala Empan

Didong dan Didong Jalu hingga saat-saat tertentu sama seperti Pasar Uqats pada orang Arab dulu. Pasar para penyair, pasar dimana orang mendapatkan pelajaran hidup dari rangkaian kata yang singkat nan dalam. Penonton menikmatinya, menghargainya dan mengelu-elukannya.

Kini hiburan rakyat itu menjadi komoditi orang kaya yang sedang berpesta atau sebuah kelompok yang sedang senang dan berbahagia karena suatu hal.

Setelah konflik, didong kini menjadi ajang saling mengejek, bahkan sampai menghina fisik dan cara hidup. Penonton menyukainya. Sehingga, banyak Ceh-Ceh senior lainnya, seperti Ceh Empan sendiri, menarik diri dari Didong Jalu.

Menurut mereka, didong kehilangan maknanya. Kini, “didong yang baik hanya bisa didengar lewat kaset atau CD.” Kata Ceh Empan. Ya, Ceh-ceh generasi awal seperti Sali Gobal, To’et dan Klub seperti Kala Lot dan lainnya, masih menarik untuk didengar hingga saat ini karena kedalaman makna dan pesan yang disampaikan.

Dari lirik mereka, kita bisa belajar tentang filosofi kehidupan dan symbol-simbol yang digunakan orang Gayo, Primustika, sejarah, adat, kritik sosial dan budaya.

Mereka juga sangat kreatif seperti To’et yang mengambungkan didong dan puisi bersama L.K Ara ketika menyampaikan Sejarah Gempa besar pada tahun 1970an.

Ceh muda sekarang sangat komersil. “Mereka mengejek-ejek lawan demi undangan berikutnya yang akan datang,” ujar salah seorang ceh yang saya temui pada tahun 2015 lampau. Menurut mereka, Ceh karbitan ini ingin membentuk pasar baru dengan merusak didong dan pasar itu sendiri.

Perubahan didong dari nasehat, pengingat akan sebuah peristiwa (seperti yang sering kita dengar dari To’et), advokat dan oposisi program pemerintah, pemelihara adat dan primustika ke komersil ejek-ejekan tentu saja bukan salah Ceh baru saja.

Kemampuan Bahasa Gayo penonton juga menjadi penentu perubahan tersebut. Meski didong bagi sebagian besar ceh lebih dari hanya sekarang profesi, tapi dengan didong para ceh juga mencari penghidupan.

Tentunya, dalam hal pencarian kehidupan melalui bersyair dan berseni, pasar sangat menentukan. Bila ceh ingin diterima oleh banyak orang, tentunya ceh harus menyesuaikan bahasa sastra mereka ke kemampuan bahasa penonton.

Mustafa AK dihadapan anak-anak kampung Toweren yang sedang berdidong. (LGco_Khalis)

Sayangnya, kemampuan Bahasa Gayo generasi saat ini jauh menurun. Penurunan tersebut bisa dilihat dari antusias pemuda-pemudi berbahasa Gayo. Coba saja datang ke indomart atau ke cafee-cafee, misalnya, dengan bahasa apa anda pertama kali disapa dan dilayani oleh pramusaji yang berdarah gayo? Bila ditanya asalnya, dia akan bermuka masam, kesal, dan kita akan dipandang kolot dan kampungan.

Sehingga, perbendaharaan Bahasa Gayo yang dimiliki oleh generasi saat ini hanya sebatas para hal-hal praktis dan kebutuhan sehari-hari di pasar. Generasi saat ini tidak mampu mengeskpresikan pemikiran abstrak, mendalam dan rumit dalam Bahasa Gayo. Sehingga, Bahasa Gayo yang digunakan adalah Bahasa Gayo langsung, cenderung kasar dan tidak beretika.

Pada level ini, Bahasa ejekan langsung adalah bahasa yang mudah dimengerti daripada bahasa sindiran yang halus dan nyaris tidak dipahami oleh pihak ketiga selain orang yang dituju.

Karena kemampuan Bahasa gayo saat ini, didong juga menyesuaikan sastranya dari hal abstrak dan bermakna tinggi ke bahasa rendahan dan tidak memiliki makna sama sekali. Karena inilah, Ceh senior membatasi diri. Mereka tidak lagi mampu dipahami oleh generasi-generasi berbahasa rendahan.

Ceh Empan kemudian mencoba menghubungkan kemampuan Bahasa dengan etika. “Tinggi rendahnya kemampuan Bahasa juga menunjukan tinggi rendahnya pendidikan yang berdampak pada etika,” jelasnya.

Pendidikan yang dimaksud bukanlah level pendidikan modern, dimana hampir semua generasi saat ini minimalnya memiliki ijazah Sarjana S1. Bahkan tamatan Master dan Doktor sudah bukan gelar langka lagi di Gayo. Sementara para Ceh dan banyak orang tua hanya berijazah SMU.

Pendidikan yang dimaksud adalah hasil dari pembelajaran yang panjang dan dalam yang membentuk etika yang luhur dan cara berpikir yang dalam dan kontemplatif.

Didong dalam alunan soling Gayo ceh Daud Kala Empan

Hasil pendidikan inilah yang sangat langka saat ini di Gayo, apalagi pada generasi sekarang. “Ijazah kan bisa dibeli, atau kuliah saja di kampus swasta yang menjamin kelulusan dalam 3-4 tahun, tapi bagaimana membeli etika dan pola pikir yang dalam, bagaimana membeli Bahasa Gayo?” tanyanya pada saya.

Seorang anak muda lewati warung itu dengan mengeber sepeda motornya keras-keras. “Kamu lihat itu? Nanti waktu Azan, akan lebih keras lagi suara sepeda motor itu, seperti suara ledakan mercon. bagaimana sekolah mengasah etika mereka?”

Dulu, kalau perpapasan, kami pasti saling memberi salam. Bukan dengan mengebut sepeda atau berlari dan teriak-teriak. “Kalau mau lihat kedalaman etika sebuah generasi, coba lihat kedalaman bahasanya. Karena bahasa adalah puncak peradaban, akumulasi kebudayaan.” Ujarnya sambil bangkit ketika seorang pelanggan datang. Ceh Empan meminta izin untuk melayaninya sesaat.[]

*Pengamat seni budaya, mahasiswa S3 Antropologi Hukum di Universitas Leiden Belanda

Comments

comments