Cara Insan Beriman Menyelesaikan Problematika Kehidupan

oleh

Catatan Jum’at : Mahbub Fauzie*

Banyak di antara kita selaku manusia mengalami permasalahan-permasalahan atau problem kehidupan yang pelik dan rumit. Sulit terselesaikan dan merasa payah mendapat solusi paripurna.

Baik problem-problem yang bersifat pribadi, keluarga maupun sosial. Juga semisal masalah kesehatan, pekerjaan, ekonomi dan lain sebagainya. Masalah silih berganti dihadapi. Tidak jarang di antara kita terkadang muncul perasaan putus asa dan merasa limbung bingung bagaimana cara problem bisa tuntas diselesaikan.

Sungguh, pada Jumat tanggal 25 September 2020, serasa pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, yakni bagaimana cara ideal menyelesaikan segala problematika yang dinarasikan tuntas oleh Sang Khatib Jumat di mesjid Besar Istiqamah Simpang Kelaping Kecamatan Pegasing tempat kami pada saat itu berjamaah.

Sebagaimana terpapar dalam untaian kalimat masygul pembuka tulisan ini, tentang kebingungan di antara kita menghadapi problem. Dari mimbar Jumat saya mendengar “taushiah” dan “mau’idzah hasanah” yang sangat memghujam dalam yang bisa disimak dan dirasakan oleh para mustami’ (jamaah pendengar) yang disampaikan Sang Khatib. Penjelasan singkat, sederhana dan bernas dan terkesan jauh dari “pamer retorika” Sang Khatib, mengingatkan dan mengajak bagaimana etika kita ketika menghadapi segala macam problematika.

Suguhan ayat-ayat pengingat bagi kita selaku hamba Allah Swt, muslim mukminin yang dilantunkan dengan merdu oleh Sang Khatib sekaligus beliau juga mengimami shalat jumat, dilanjut dengan pembacaan terjemahannya serta ulasannya, serasa cukup menjadi bahan ruhiyah bagi jamaah kaum muslimin mencari solusi penyelesaian segala permasalahan yang dihadapi.

Ketika kita mengalami problem berat, tidak jarang berputus asa, bahkan kemungkinan mengeluh, kita bertanya di mana Allah Swt saat kita sulit. Padahal jelas, bahwa sesungguhnya Allah Swt itu selalu dekat dengan kita. Hanya kita yang mungkin selalu menjauh dari Allah. Terlena…

Firman-Nya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]:186)

Dari ayat ini jelas bahwa, jika kita merasa kesulitan menyelesaian segala masalah, maka dekatilah Allah Swt. Mungkin selama ini kita jauh dengan Allah Swt. Selalu meninggalkan perintah-perintahnya. Kita terlalu asyik masyuk dengan maksiat.

Maka, upaya tepat mencari solusi adalah kita kembali kepada Allah Swt. Mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita selama ini.

Dalam surah Nuh, dijelaskan: Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
(QS. Nuh :10-12)

Insya Allah dengan kembali kepada Allah Swt, ber-taqarub ilallah, kita akan bisa tuntas merampungkan problematika kehidupan kita, bagaimanapun peliknya.

Itu semua janji Allah Swt. Dan janji-Nya sangat ditepati. Syaratnya adalah kesungguhan taqwa kita kepada Allah Swt dengan segala implementasinya.

Firman Allah Swt dalam surah At-Thalaq ayat 2: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS At-Thalaq:2).

Kembali mendekat kepada Allah Swt dengan selalu menjalankan perintah-Nya yang menjadi kewajiban kita untuk mengerjakannya serta meninggalkan segala larangan-Nya, kita jauhi segala maksiat dan kemungkaran, kemudian kita bertaubat tidak mengulanginya. Wallahu a’lam bis shawab.

*Abdi negara dan pelayan masyarakat yang bertugas di KUA Kec. Pegasing

Comments

comments